Rabu, April 22, 2026

Akal Waras di Era Digital

Refleksi tentang bagaimana media sosial, kekuasaan, dan kekayaan dapat mengaburkan akal sehat serta menjerumuskan manusia pada ilusi kebenaran
Ilustrasi seorang berdiri di persimpangan jalan dengan simbol otak bercahaya di tengah, menggambarkan akal waras di era digital antara kebaikan dan pengaruh media sosial.
Persimpangan pilihan di era digital: antara kejernihan akal dan ilusi yang menyesatkan.

Segala puji hanya kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Segala nikmat terus diberikan meski kita kerap mengabaikannya. Tuhan pemilik jiwa dan raga kita yang senantiasa memberi kesempatan kita bertaubat. Memberikan nikmat tanpa peduli latar belakang suku, ras, pendidikan, bahkan bagi mereka yang tidak mengakui eksistensi-Nya.

Salah satu kenikmatan yang sangat jarang kita syukuri adalah kewarasan akal. Fasilitas yang tidak dimiliki hewan dan tumbuhan, tidak pula dimiliki iblis dan malaikat.

Setidaknya iblis dan malaikat sejauh ini belum memiliki media sosial. Bisa jadi mereka ingin mendaftar, namun tidak punya kemampuan.

Hanya manusia yang mampu mengakses media sosial dan kemajuan teknologi hari ini. Kenikmatan ini entah mengapa dianggap biasa saja. Padahal, bila iblis memiliki akun media sosial, tentu saja kerjanya semakin mudah.

Rekrutmen anggota neraka semakin mudah, masif, dan terorganisir. Mengingat kemampuan literasi iblis yang hebat, bukan mustahil ia akan menjadi influencer.

Khotbahnya bisa jadi viral setiap hari, menjadi rujukan bagi mereka yang enggan mensyukuri fasilitas dari Allah: akal waras.

Jika kita evaluasi kinerja iblis selama ini, memang sudah sangat baik meski tanpa akun medsos. Bayangkan saja, ia berteman dengan manusia paling kaya (Qarun) dan manusia paling berkuasa di eranya (Firaun).

Dua manusia yang kecanduan bodoh itu dengan mudah diajak tamasya ke alam ilusi. Mereka mengira harta dan tahta akan menjadikan mereka kekal. Namun mereka lupa bahwa harta dan tahta punya “keinginan”. Harta ingin disucikan dengan zakat, sedekah, infak, wakaf.

Sementara tahta ingin dirinya digunakan secara amanah.Bila keduanya digunakan sesuai “keinginan” mereka, maka harta dan tahta akan kekal, menemani di alam kubur, menjadi tameng bila api neraka mendekat.

Namun Qarun dan Firaun enggan menggunakan fasilitas utama: akal waras. Mereka memilih kecanduan pada kebodohan. Di era sekarang, sosok “kawannya” masih ada. Secara pendidikan lebih keren, kenal Islam, belajar Islam, bahkan jadi donatur kegiatan Islam. Mengapa hanya fokus ke Islam dan umat Islam? Ya, karena tidak ingin disalahpahami oleh mereka yang akalnya belum dewasa, serta menghindari hate speech terhadap agama lain.

Dengan demikian, warisan Qarun dan Firaun hingga kini masih ada. Berlimpah harta namun enggan mensucikannya, bertahta namun kebijakan hanya demi mengamankan kekuasaan. Ada memang yang tampak melakukan filantropi dengan mendirikan yayasan, namun setelah dikoreksi, itu hanya cara menghindari pajak perusahaan.

Uang tetap mengalir ke kantong pribadi melalui sewa kantor yayasan, sewa kendaraan, yang ternyata semua milik dari pendiri yayasan. Benar, tidak semua begitu.

Namun itu salah satu contoh cara mengakali aturan. Sekilas tampak pintar, namun itu ilusi pintar sebenarnya. Ia lupa tanah akan bersaksi, kendaraan akan bersaksi, bahkan anggota tubuhnya pun akan bersaksi. Bukankah anak buah di kantor pemerintahan kerap menjadi saksi yang malah memberatkan atasan?

Hal yang sama juga terjadi pada mereka yang diberi tahta, entah itu kepala keluarga hingga kepala negara. Tetap saja harus rajin mendengarkan. Amanah kekuasaan itu tidak ringan sehingga harus dibantu dengan fasilitas yang diberikan Pencipta kita: akal waras.

Dan sebaiknya tetap rendah hati dengan memohon bantuan Pemilik akal. Karena akal waras bisa tergelincir karena kesombongan diri.

Banyak kisah nyata di masa lalu maupun di sekitar kita belakangan ini. Kisah pemilik ilmu yang jumawa dengan ilmunya malah kecanduan bodoh. Godaan jabatan dan harta mampu menjadikan orang berilmu menjadi kecanduan kebodohan.

Pertanyaan untuk kita semua: seberapa sering kita patuh pada kebodohan sehingga melakukan kerja-kerja yang seharusnya menjadi ranah iblis?

Selama masih hidup di atas muka bumi ini, potensi menjadi bodoh terbuka lebar meski di tangan selalu ada alat pintar. Karena alat pintar kita tidak diharuskan menghadirkan yang benar. Ia menghadirkan dunia apa adanya. Kitalah yang wajib memilih dan memilah mana yang benar dan mana yang mirip benar alias palsu.

Barangkali itu salah satu tanda masa depan: menciptakan alat benar, bukan hanya alat pintar (ponsel). Sekarang mari ngopi sambil merenung, kita sudah di jalan yang benar atau sedang jalan-jalan hingga pintu taubat tertutup. Wallahu a’lam bishawab.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Penikmat kopi tanpa gula

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist