Tugas sudah ada di depan mata. Deadline juga sudah jelas. Namun, entah kenapa, selalu ada hal lain yang terasa lebih menarik untuk dilakukan—mulai dari scrolling media sosial, rebahan, sampai melakukan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak mendesak.
Situasi ini sering dicap sebagai bentuk kemalasan belaka. Padahal, tidak selalu sesederhana itu. Dalam banyak kasus, perilaku ini justru berkaitan dengan cara seseorang merespons tekanan. Ada kecenderungan untuk tidak langsung memberikan usaha penuh, terutama ketika hasil akhir terasa penting bagi citra diri.
Dalam psikologi, pola seperti ini dikenal sebagai academic self-handicapping, yaitu fenomena ketika mahasiswa atau pelajar secara sengaja mengurangi usaha belajar dengan menciptakan hambatan sebelum evaluasi.
Self-handicapping bukan berarti seseorang tidak mampu. Justru sebaliknya, sering kali hal ini terjadi karena mereka cukup peduli terhadap hasilnya. Namun, di saat yang sama, muncul kekhawatiran: bagaimana jika sudah berusaha maksimal, tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan? Untuk menghindari kemungkinan itu, seseorang secara tidak sadar mulai “mengurangi usaha” sejak awal.
Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti menunda mengerjakan tugas, belajar dalam waktu yang sangat terbatas, atau mudah terdistraksi saat mencoba fokus. Dengan begitu, ketika hasilnya kurang baik, selalu ada alasan yang bisa digunakan.
Kenapa Pola Ini Terasa “Aman”?
Ketika usaha tidak dilakukan secara penuh, kegagalan terasa lebih mudah diterima. Ada penjelasan yang bisa melindungi diri, seperti kurangnya waktu atau persiapan.
Sebaliknya, jika seseorang sudah berusaha maksimal, hasil yang didapat akan terasa lebih “jujur”. Bagi sebagian orang, kondisi itu justru lebih menekan. Di sinilah self-handicapping bekerja sebagai bentuk perlindungan diri.
Faktor yang Memperkuat Kebiasaan Ini
Beberapa kondisi dapat membuat pelajar lebih rentan mengalami hal ini. Perasaan cemas, terutama yang berkaitan dengan kegagalan, sering menjadi pemicu utama. Lingkungan belajar yang penuh tuntutan tanpa dukungan yang cukup juga dapat memperkuat pola tersebut.
Di sisi lain, distraksi dari media sosial turut berperan. Akses hiburan yang instan sering kali digunakan sebagai pelarian untuk meredam kecemasan sesaat.
Media sosial bukan sekadar distraksi, melainkan menjadi alat bagi seseorang untuk menghindari tugas yang menekan, sehingga usaha yang diberikan pada tugas utama menjadi tidak optimal. Hal ini menciptakan siklus di mana seseorang lebih memilih “asik sendiri” daripada menghadapi risiko kegagalan yang jujur.
Dampak yang Sering Tidak Disadari
Dalam jangka pendek, academic self-handicapping memang terasa membantu. Seseorang tidak perlu menghadapi kekecewaan secara langsung karena masih memiliki “alasan”.
Namun, jika terus dilakukan, kebiasaan ini dapat menghambat perkembangan akademik. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak pernah benar-benar mencoba dengan usaha penuh. Akibatnya, potensi yang dimiliki tidak berkembang secara maksimal.
Mengatasi academic self-handicapping tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah menyadari pola yang terjadi—kapan kita benar-benar butuh istirahat, dan kapan sebenarnya sedang menghindar.
Selain itu, penting untuk membangun kepercayaan bahwa hasil tidak selalu menentukan nilai diri. Kegagalan bukan berarti tidak mampu, melainkan bagian dari proses belajar.
Dengan memberikan usaha yang lebih jujur, seseorang bisa mulai melihat kemampuan dirinya secara lebih utuh. Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya menyelesaikan tugas, tetapi berani menghadapi kemungkinan hasilnya. Dari sanalah proses berkembang benar-benar dimulai.
Referensi
Kalyon, A., Dadandi, I., & Yazici, H. (2016). The relationships between self-handicapping tendency and narcissistic personality traits, anxiety sensitivity, social support, academic achievement. Düşünen Adam The Journal of Psychiatry and Neurological Sciences, 29(3), 237–246. https://doi.org/10.5350/DAJPN2016290305
Izadpanah, S., & Charmi, M. (2022). The effect of social networks on academic self-handicapping with the mediating role of self-regulatory learning strategies and academic achievement among EFL students. Frontiers in Psychology, 13, Article 987381. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.987381
Vidyadhara, K., & Sawitri, D. R. (2018). Hubungan antara regulasi diri dengan academic self-handicapping pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro yang sedang mengerjakan tugas akhir. Jurnal EMPATI, 7(1), 247–255. https://doi.org/10.14710/empati.2018.20192
Nadia Farasdiva
Mahasiswa Psikologi Universitas Syiah Kuala























Diskusi