Artikel · Potret Online

Mengapa Kita Menunda Tugas Penting? Memahami Academic Self-Handicapping

Bukan sekadar malas, kebiasaan menunda sering kali menjadi cara tidak sadar untuk melindungi diri dari tekanan dan ketakutan akan kegagalan.
Penulis  Nadia Farasdiva
April 16, 2026
4 menit baca 291
Mahasiswa menunda tugas sambil bermain ponsel di depan laptop
Foto / IlustrasiKebiasaan menunda sering kali bukan soal malas, tetapi cara menghindari tekanan.
Disunting Oleh

Tugas sudah ada di depan mata. Deadline juga sudah jelas. Namun entah kenapa, selalu ada hal lain yang terasa lebih menarik untuk dilakukan—mulai dari scrolling media sosial hingga melakukan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak mendesak.

Situasi ini sering kali dicap sebagai bentuk kemalasan belaka. Padahal, tidak selalu sesederhana itu. Dalam banyak kasus, perilaku tersebut justru berkaitan dengan cara seseorang merespons tekanan. Ada kecenderungan untuk tidak langsung memberikan usaha penuh, terutama ketika hasil akhir terasa penting bagi citra diri.

Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai academic self-handicapping, yaitu fenomena ketika seseorang secara sengaja mengurangi usaha belajar dengan menciptakan hambatan bagi dirinya sendiri (Midgley & Urdan, 2001). Menariknya, self-handicapping bukan berarti seseorang tidak mampu. Justru sebaliknya, perilaku ini sering muncul karena seseorang cukup peduli terhadap hasilnya.

Di balik itu, terdapat kekhawatiran yang jarang disadari: bagaimana jika sudah berusaha maksimal, tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan? Untuk menghindari kemungkinan tersebut, seseorang secara tidak sadar mulai “mengurangi usaha” sejak awal.

Bentuknya bisa beragam—menunda mengerjakan tugas, belajar di waktu yang sangat terbatas, atau mudah terdistraksi saat mencoba fokus. Dengan begitu, ketika hasilnya kurang baik, selalu ada alasan yang bisa digunakan.

Mengapa Pola Ini Terasa “Aman”?

Ketika usaha tidak dilakukan secara penuh, kegagalan menjadi lebih mudah diterima. Ada penjelasan yang dapat melindungi diri, seperti kurangnya waktu atau persiapan. Sebaliknya, jika seseorang sudah berusaha maksimal, hasil yang diperoleh akan terasa lebih “jujur”—dan bagi sebagian orang, kondisi ini justru lebih menekan.

Di sinilah self-handicapping bekerja sebagai mekanisme perlindungan diri. Bukan untuk meningkatkan hasil, tetapi untuk menjaga perasaan dari kemungkinan kekecewaan yang lebih dalam.

Faktor yang Memperkuat Kebiasaan Ini

Beberapa kondisi dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami self-handicapping. Perasaan cemas, terutama yang berkaitan dengan kegagalan, sering menjadi pemicu utama (Kalyon et al., 2016). Selain itu, rendahnya regulasi diri dan efikasi diri juga membuat seseorang lebih mudah menunda atau bahkan menghindari tugas (Vidyadhara & Sawitri, 2018).

Lingkungan belajar yang penuh tuntutan tanpa dukungan yang memadai turut memperkuat pola ini. Di sisi lain, distraksi dari media sosial juga memainkan peran penting. Akses hiburan yang instan sering dimanfaatkan sebagai pelarian untuk meredam kecemasan sesaat.

Penelitian Izadpanah dan Charmi (2022) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat mengganggu strategi belajar dan regulasi diri. Hal ini pada akhirnya meningkatkan kecenderungan academic self-handicapping. Akibatnya, terbentuk siklus di mana seseorang lebih memilih “asik sendiri” daripada menghadapi risiko kegagalan yang jujur.

Dampak yang Sering Tidak Disadari

Dalam jangka pendek, academic self-handicapping memang terasa membantu. Seseorang tidak perlu menghadapi kekecewaan secara langsung karena masih memiliki “alasan” di balik hasil yang kurang memuaskan.

Namun, jika terus dilakukan, kebiasaan ini dapat menghambat perkembangan akademik. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak pernah benar-benar mencoba dengan usaha penuh. Akibatnya, potensi yang dimiliki tidak berkembang secara maksimal.

Mulai Menghadapinya Secara Perlahan

Mengatasi academic self-handicapping tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Langkah awal yang penting adalah menyadari pola yang terjadi: kapan kita benar-benar membutuhkan istirahat, dan kapan sebenarnya sedang menghindar.

Selain itu, penting untuk membangun keyakinan bahwa hasil tidak selalu menentukan nilai diri. Kegagalan bukanlah bukti ketidakmampuan, melainkan bagian dari proses belajar.

Dengan memberikan usaha yang lebih jujur, seseorang dapat mulai melihat kemampuannya secara lebih utuh. Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya menyelesaikan tugas, tetapi berani menghadapi kemungkinan hasilnya. Justru dari situlah proses berkembang benar-benar dimulai.

Referensi

Midgley, C., & Urdan, T. (2001). Academic self-handicapping: What we know, what more there is to learn. Educational Psychology Review, 13(2).

https://doi.org/10.1023/A:1009061303214

Kalyon, A., Dadandi, I., & Yazici, H. (2016). The relationships between self-handicapping tendency and narcissistic personality traits, anxiety sensitivity, social support, and academic achievement. Düşünen Adam The Journal of Psychiatry and Neurological Sciences, 29(3), 237–246.

https://doi.org/10.5350/DAJPN2016290305

Izadpanah, S., & Charmi, M. (2022). The effect of social networks on academic self-handicapping with the mediating role of self-regulatory learning strategies and academic achievement among EFL students. Frontiers in Psychology, 13, 987381.

https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.987381

Vidyadhara, K., & Sawitri, D. R. (2018). Hubungan antara regulasi diri dengan academic self-handicapping pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro yang sedang mengerjakan tugas akhir. Jurnal EMPATI, 7(1).

https://doi.org/10.14710/empati.2018.20192
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mahasiswa Psikologi Universitas Syiah Kuala
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...