HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Aku Merindu

Asmaul Husna by Asmaul Husna
Maret 17, 2026
in Cerpen, Kumpulan cerpen
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Asmaul Husna / Inong Literasi

Matahari bersinar indah sekali. Warnanya yang kuning keemasan pelan-pelan muncul di ufuk timur. Aku sangat menyukai suasana pagi. Udara yang segar dan tetesan embun di ujung daun terasa begitu sejuk. Ku hirup udara pagi mengawali hari penuh semangat.Ayah baru tiba dari kebun di belakang rumah mengambil pucuk daun pisang yang masing menggulung.

Baca Juga

Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Maret 16, 2026

Pergi dan Kembali

Maret 14, 2026
Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Maret 14, 2026

“Putroe, tolong buka gulungan daun pisang itu dan jemur sebentar ya”. Titah ibu”Baik Bu” Jawabku singkat. Aku segera menjalankan tugas yang diberikan ibu.

“Agar mudah saat digunakan, daunnya tidak mudah sobek”. Begitu jawab ibu suatu saat ketika aku bertanya mengapa daun pisang itu harus dijemur.

“Putroe, tolong ambilkan daun pandan” Kali ini titah Kak Dara, kakak sulungku.

“Baik Kak” Jawabku

Aroma manis dan wangi pandan yang tercium dari kelapa yang dimasak kak Dara, menyebar ke seluruh dapur. Sungguh menjadi ujian tersendiri saat masih menjalankan ibadah puasa. Kak Dara sedang membuat inti timphan untuk persiapan lebaran. Sebenarnya inti timphan itu ada yang berupa srikaya, tapi karena keluargaku lebih menyukai inti kelapa, maka ibu lebih sering membuat yang inti kelapa. “Rasanya lebih gurih” Begitu ayah pernah berkata.

Suasana ini selalu menjadi suasana yang kutunggu dan kurindu. Suasana menyambut lebaran dengan tradisi membuat timphan. Sebuah makanan tradisional yang terbuat dari pisang atau labu kuning yang dicampur dengan tepung ketan, ditambah inti kelapa atau srikaya yang dibungkus daun. Rasanya yang manis dan lengit selalu membuat ketagihan. Kata ibu salah satu cara bersyukur di hari raya adalah memuliakan tamu dengan menyajikan makanan terbaik untuk mereka, Maka jadilah timphan menu andalan yang harus ada setiap lebaran tiba.

Aroma labu kuning yang sudah dikukus kembali menggoda hidungku. Ibu sedang membuat adonan timphan. Aku suka sekali adonan yang belum dimasak, jika bukan sedang puasa pasti aku sudah mencicipinya. Adonan yang masih mentah dicampur manisnya kelapa yang sudah dimasak eeeehhhmm, lezatnya. Walaupun ibu sering sekali protes “Itu masih mentah, belum bisa dimakan” Tapi aku tidak peduli.

Adonan siap, daun sudah rapi sekarang saatnya membuat. Aku hanya kebagian tugas membuat beberapa bulatan kecil yang nantinya akan dipipihkan ibu dan Kak Dara di atas daun yang sudah diolesi minyak agar tidak lengket ketika sudah matang. Selesai semua dibungkus, ibu menyusun rapi timphan itu di dalam kukusan “Agar matangnya merata” kata ibu. Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk menunggunya matang.

Wangi daun sudah mulai tercium. Kata ibu tidak lama lagi timphan nya akan matang.

Sambil menunggu, aku memilih mewarnai gambar yang sengaja disiapkan ibu untukku. Agar aku lebih bersemangat menjalani puasa Ramadan. Sedang asyik mewarnai, hidungku mencium aroma yang tak sedap, segera ku panggil ibu yang sedang merapikan tanaman di samping rumah.

“Ibu, ada bau sesuatu di dapur, sepertinya ada yang gosong” “Yang Allah, itu timphan yang kita buat tadi”.

Tergesa ibu segera menuju dapur. Dan benar saja timphan yang dibuat dengan proses yang panjang itu gosong. Kata ibu karena dimasak terlalu lama dan air dalam kukusannya sudah mengering. Aku tidak tahu seberapa parah hangusnya, yang jelas aku bisa melihat kekecewaan di wajah ibu.

“Kita harus membuat lagi, kita harus mengulang lagi semua prosesnya”. Semangat ibu seakan tidak pernah padam apapun yang terjadi.

***

“Putroe, tolong berikan cangkul ini pada ayah”. Pinta Kak Dara membuyarkan lamunanku.

Proses membuat timphan ini tinggal kenangan. Persiapan lebaran tahun ini sangatlah berbeda. Kali ini aku dan keluargaku berjibaku dengan lumpur yang mengeras yang sudah menelan hampir seluruh rumah yang menyisakan hanya atap akibat banjir bandang yang melanda kampungku akhir tahun lalu.

Saat sore tiba keluargaku beserta warga yang lainnya akan berkumpul di balai desa sebagai tempat tinggal sementara. Dan ketika pagi datang kami akan pulang ke rumah untuk membersihkan kubangan lumpur menggunakannya alat-alat sederhana yang kami punya. Di tengah lelah yang mendera kuberanikan diri bertanya pada ibu, sebab aku sangat merindu suasana itu.

“Bu, Berarti tahun ini kita tidak membuat timphan?

“”Tidak Nak, keadaan yang belum memungkinkan”. Jawab ibu dengan suara tercekat bersamaan dengan kedua matanya yang disapa mendung.

Lumpur boleh menenggelamkan rumahku, tapi ku tak ingin ia ikut menenggelamkan semangat ibu. Karena semangat adalah hal yang berharga bagiku.

Banda Aceh 15 Maret 2026

Cepat pulih negeriku

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 288x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 267x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 216x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 181x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 154x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Asmaul Husna

Asmaul Husna

Asmaul Husna merupakan alumni Tarbiyah Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry angkatan 2003. Sejak menamatkan sarjananya pada tahun 2008 ia mengajar di SDIT Nurul Ishlah Banda Aceh sebagai guru kelas sampai sekarang. Pengalaman menulisnya diawali saat ia dipercayakan untuk menulis naskah drama yang akan dipentaskan pada perhelatan akhir tahun para siswa di sekolah tempat ia mengajar. Sketsa Jiwa di Kanvas Waktu adalah antologi cerpen pertamanya yang sudah diterbitkan.

Baca Juga

Islam

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

Maret 17, 2026
Esai

Separuh Nafas Untuk Paruh Waktu

Maret 17, 2026
Di Antara Idealisme dan Honorarium
# Ironi

Di Antara Idealisme dan Honorarium

Maret 17, 2026
#Ekonomi

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com