Dengarkan Artikel
Oleh: Syarifudin Brutu
Di beranda ini, tanah masih menyimpan sisa bah
Lembab oleh air mata yang belum sempat mengering
Namun di atasnya, api tetap bertahta—
Membakar sisa-sisa harapan yang dipaksa tidur
Di dalam pelukan nasib yang hangus.
Kami adalah pabrik asap yang tak pernah libur
Mengirim doa-doa yang berlari tunggang-langgang
Mengejar Sang Maha Kuasa di balik awan
Sebab di bumi, telinga-telinga telah disumbat
Oleh emas dan bisingnya tepuk tangan dunia.
Tuan-tuan sedang sibuk menjahit jas baru
📚 Artikel Terkait
Berdialog mesra dengan bangsa-bangsa jauh
Bertukar senyum di karpet merah yang licin
Sementara di sini, di tanah yang katanya berdaulat
Anak-anak masih mengeja lapar di bawah atap bocor.
Hari ini…
Hamba-hamba kekuasaan itu berpesta
Gelas-gelas berdenting merayakan matinya nurani
Mereka memotong kue di atas nisan keadilan
Seolah-olah Tuhan telah lama mereka makamkan
Dalam tumpukan berkas administrasi dan janji.
Aceh masih memar, tapi mereka sibuk berkaca
Mempercantik wajah di depan kamera dunia
Sambil membiarkan kami tetap terbakar
Di atas tanah yang basah oleh keringat sendiri.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






