• Latest

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
a16e068a-f693-4165-8ec4-fa77c8ac85af

Madiun Mendunia: Para Perupa Cilik dari Kota Pecel Unjuk Gigi di Kancah Global

April 17, 2026

Puisi Esai April: Perjuangan Perempuan‎ Marwah Perempuan Yang Menolak Dijarah

April 17, 2026
ae101973-036d-4e7c-b508-990e61a5c5af

Kosong

April 17, 2026

OTT Kepala Daerah dan Rapuhnya Demokrasi Lokal

April 17, 2026
fb4fd11e-159e-4ae3-acae-836dffc91dd8

Adab Bermunajat: Integrasi Kesucian Mental dan Fisik dalam Menghadap Sang Khalik

April 17, 2026

Agama yang Meninabobokan atau Menggerakkan? Dari Mimbar ke Realitas, Mencari Kembali Ruh Peradaban

April 16, 2026
Mahasiswa menunda tugas sambil bermain ponsel di depan laptop

Mengapa Kita Menunda Tugas Penting? Memahami Academic Self-Handicapping

April 16, 2026
3B16BCC9-5860-4D88-89D6-B676DAE2E109

Bertanya Soal Kartu Aceh Carong

April 16, 2026
Jumat, April 17, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

BENGKEL OPINI RAKyat

Redaksi by Redaksi
Maret 27, 2026
in # Ironi, #khutbah Jumat, #Kontemplasi
Reading Time: 2 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Heri Iskandar
Cara Mudah Merawat Logika
–‐————‐————————————
Jum’at, 27/3/2026 (Edisi 1683)

"Apa kesimpulan kau tentang materi khutbah Jum'at tadi Bib? Ada hal yang khusus tidak?"
"Itu sebuah sindiran bahwa kita hanya takut kepada yang belum pasti tapi melupakan sesuatu yang pasti."
"Yang belum pasti itu apa?"
"Akhir dari perjalanan kita di dunia ini."
"Yang beliau maksudkan tentang kematian bukan?"
"Ya, betul!"
"Yang bisa kau simpulkan seperti apa?"
"Ada dua hal!"
"Boleh juga kalau kau mau menguraikan kembali."
"Pertama kita tidak pernah menjadikan kematian orang lain sebagai pelajaran."
"Pelajaran bagaimana yang dimaksudkan itu?"
"Bercontohlah pada kematian yang menimpa orang-orang hebat."
"Maksudnya bagaimana itu Bib?"
"Di saat-saat terakhir apa yang bisa ia banggakan? Hanya ditangisi secara singkat saja oleh orang-orang yang dicintainya. Tapi setelah dimasukan ke liang lahat bisa apa dia? Semua yang ditinggalkan di dunia akan melupakan dia begitu saja."
"Terus..?"
"Pelajarannya adalah, ketika masih di dunia ingatlah semua akan kita tinggalkan? Yang kita cari hingga menghalalkan segala cara tidak bisa menerangi gelapnya kubur atau melapangkan sempitnya liang lahat."
"Terus?"
"Apa yang kita bawa ke alam baqa nanti? Bisakah yang kita banggakan di dunia membantu kita di sana?"
"Satunya lagi apa..?"
"Sadarkah kita bahwa pencapaian yang kita banggakan di dunia semuanya bersifat semu?Tidak ada yang akan membuat kita terhormat di alam kubur selain amal ibadah. Dua pelajaran itulah yang menurut khatib tadi sering kita lupakan karena kita sibuk mengejar dunia."
"Hubungannya dengan perang Iran dengan negara laknatullah Israel apa? Kalau aku tidak salah dengar ada beliau kaitkan ke sana tadi."
"O itu sebagai salah satu contohnya saja!"
"Contoh bagaimana?"
"Semua kita takut akan terjadi perang dunia ketiga gara-gara perang Teluk. Tapi kita tidak pernah takut berbuat dosa yang membuat Allah murka."
"Di luar itu apa lagi?"
"Kita takut akan terjadi Perang Dunia Ketiga tapi tidak pernah takut menghadapi alam kubur."
"Kalau itu ada sempat kudengar."
"Kita juga sibuk membicarakan kehancuran Iran maupun Israel akibat saling serang. Tapi kita tidak pernah menyimak kehancuran moral yang terjadi di dalam keluarga kita."
"Itu juga ada aku dengar!"
"Yang terakhir adalah masing-masing kita sibuk memberi dukungan kepada negara yang berperang. Tapi kita malah melupakan cinta dan kepedulian terhadap negara sendiri."
"Kaitannya dengan tema kematian yang beliau kupas apa Bib?"
"Menurut ustad tadi ada dua kematian yang akan dihadapi oleh setiap jiwa."
"Itu yang tidak sempat aku simak. Jabarannya bagaimana itu?"
"Pertama kematian yang sifatnya pasti dan satunya lagi kematian hati nurani."
"Bagaimana itu..?"

“Orang hanya memikirkan tentang diri dan kepentingannya sendiri sana. Masalah inilah yang sedang melanda bangsa kita menurut khatib tadi. Akibatnya makin banyak anak bangsa yang rela menjadi pengkhianat asal kepentingan pribadinya tercapai..!”

🙏Heri Iskandar

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Ilustrasi artikel

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com