• Latest
Runtuhnya Dominasi Barat, Datangnya Keadilan? Ujian Rasionalitas Umat Muslim dalam Menyambut Tatanan Global Baru Versi Timur - IMG_0084 | Analisis | Potret Online

Runtuhnya Dominasi Barat, Datangnya Keadilan? Ujian Rasionalitas Umat Muslim dalam Menyambut Tatanan Global Baru Versi Timur

Maret 28, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
IMG_0835

Menurunnya Religiusitas Pada Remaja Muslim

April 18, 2026
IMG_0831

Hutan Bukan Sekadar Istilah

April 18, 2026
33797609-7ef3-4b0d-b699-3cbf2d8610b2

Sastra FLS3N Jawa Timur Dalam Kegelisahan Tanda Tanya Besar

April 18, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Runtuhnya Dominasi Barat, Datangnya Keadilan? Ujian Rasionalitas Umat Muslim dalam Menyambut Tatanan Global Baru Versi Timur

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Maret 28, 2026
in Analisis, #Minyak Global, Amerika, Iran, Israel
Reading Time: 3 mins read
0
Runtuhnya Dominasi Barat, Datangnya Keadilan? Ujian Rasionalitas Umat Muslim dalam Menyambut Tatanan Global Baru Versi Timur - IMG_0084 | Analisis | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Dayan Abdurrahman

Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan bayang kekuatan Amerika Serikat telah melampaui batas konflik regional. Ia kini menjadi krisis global yang memengaruhi energi, pangan, dan stabilitas ekonomi dunia. Dalam situasi ini, sebagian umat Muslim mulai menggantungkan harapan: jika dominasi Barat runtuh, maka keadilan global akan lahir. Namun, benarkah demikian? Ataukah ini sekadar harapan yang belum teruji?

Pertanyaan inilah yang menjadi rumusan masalah utama tulisan ini: apakah runtuhnya dominasi Barat otomatis menghadirkan keadilan global, khususnya bagi umat Muslim, atau justru membuka ketidakpastian baru yang lebih kompleks?

Untuk menjawabnya, tulisan ini menggunakan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan perspektif geopolitik, ekonomi global, dan prinsip dasar dalam Islam, khususnya konsep maslahah (kebaikan bersama) dan ‘adl (keadilan). Dalam kerangka ini, perubahan kekuasaan global tidak dinilai dari siapa yang menang, tetapi dari sejauh mana ia mampu menciptakan stabilitas dan keadilan secara bersamaan.

Secara faktual, konflik di Timur Tengah telah mengganggu salah satu jalur energi paling strategis dunia, yaitu Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar 20% distribusi minyak global. Gangguan ini memicu kenaikan harga energi secara signifikan dan berdampak langsung pada inflasi global. Negara seperti Indonesia yang masih mengimpor lebih dari separuh kebutuhan minyaknya menjadi sangat rentan. Dampaknya terasa hingga ke level lokal, termasuk di Aceh: harga bahan bakar meningkat, biaya distribusi naik, dan daya beli masyarakat menurun.

Di sinilah analisis menjadi krusial. Tatanan global lama yang didominasi Barat memang tidak lepas dari kritik: standar ganda, intervensi politik, dan ketimpangan ekonomi adalah realitas yang sulit disangkal. Namun, sistem ini juga menciptakan stabilitas tertentu. Perdagangan global berjalan, sistem keuangan terintegrasi, dan rantai pasok relatif terjaga. Dunia mungkin tidak sepenuhnya adil, tetapi tetap berfungsi.

Sebaliknya, tatanan baru yang diharapkan muncul dari Timur—dengan simbol kekuatan seperti Iran—membawa narasi perlawanan dan keadilan. Ini menjadi harapan baru, terutama bagi umat Muslim. Namun, harapan ini harus diuji secara rasional. Mengelola sistem global bukan hanya soal semangat perlawanan, tetapi juga soal kapasitas institusional, stabilitas ekonomi, dan kemampuan menjaga keseimbangan antar kepentingan global.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap transisi kekuasaan global hampir selalu diiringi ketidakstabilan. Krisis energi, inflasi, dan perlambatan ekonomi adalah konsekuensi yang sulit dihindari. Bahkan dalam konteks internal, dunia Muslim sendiri belum sepenuhnya solid. Perbedaan politik, mazhab, dan kepentingan nasional masih menjadi tantangan besar. Maka, membayangkan bahwa tatanan global baru otomatis akan lebih adil adalah asumsi yang perlu dikritisi.

Dari sini, kita masuk pada tahap sintesis. Dilema umat Muslim hari ini bukan sekadar memilih antara Barat atau Timur, tetapi bagaimana menempatkan diri secara rasional di tengah perubahan global. Solidaritas terhadap penderitaan di Timur Tengah adalah sesuatu yang manusiawi dan penting. Namun, solidaritas tanpa kesiapan menghadapi konsekuensi ekonomi hanya akan menjadi retorika.

Dalam perspektif Islam, keadilan tidak bisa dipisahkan dari kemaslahatan. Jika perubahan tatanan global justru membawa krisis yang lebih luas—kelangkaan pangan, kemiskinan, dan ketidakstabilan sosial—maka tujuan keadilan itu sendiri menjadi tidak tercapai. Islam tidak mengajarkan untuk sekadar mengganti satu dominasi dengan dominasi lain, tetapi menekankan keseimbangan antara keadilan dan keberlangsungan hidup.

Dalam konteks Aceh, refleksi ini menjadi sangat relevan. Masyarakat Aceh memiliki solidaritas yang tinggi terhadap isu-isu keumatan global. Namun, pada saat yang sama, mereka juga berada dalam struktur ekonomi yang rentan terhadap gejolak global. Ketika harga kebutuhan pokok naik dan lapangan kerja tertekan, maka idealisme akan diuji oleh realitas.

Kesimpulan dari analisis ini menegaskan bahwa runtuhnya dominasi Barat tidak secara otomatis menghadirkan keadilan global. Tatanan baru, apa pun bentuknya, tetap membutuhkan kapasitas, stabilitas, dan komitmen terhadap keadilan yang nyata, bukan sekadar narasi.

Sebagai penutup, perlu ditegaskan bahwa ujian terbesar umat Muslim hari ini bukanlah memilih antara Barat atau Timur, tetapi menjaga rasionalitas di tengah gelombang emosi global. Dunia tidak membutuhkan sekadar perubahan kekuasaan, tetapi perubahan cara mengelola kekuasaan.

Jika umat hanya berharap pada runtuhnya satu kekuatan tanpa membangun kesiapan sendiri, maka yang lahir bukanlah keadilan, melainkan ketergantungan dalam wajah yang berbeda.

Share234SendTweet146Share
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Next Post
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com