Dengarkan Artikel
Kali ini kita tidak sedang membedah novel, bukan pula buku motivasi, melainkan fondasi cara berpikir modern: A System of Logic karya John Stuart Mill.
Buku ini mungkin terbit di abad ke-19, tetapi pertanyaannya sangat abad ke-21: bagaimana kita tahu sesuatu itu benar? Ketika data membanjiri layar, opini berseliweran di media sosial, dan klaim politik saling bertabrakan—apa yang bisa kita jadikan pijakan?
Mill menawarkan satu kata kunci: metode. Bukan perasaan, bukan asumsi, bukan sekadar retorika. Ia mengajarkan cara menemukan sebab dari pola, membedakan kebetulan dari hukum, dan menguji generalisasi sebelum kita mengangkatnya menjadi “kebenaran”.
Bagi pembaca POTRET yang akrab dengan isu sosial, politik, dan budaya, buku ini relevan karena ia memberi alat. Alat untuk membaca data kemiskinan tanpa terjebak simplifikasi. Alat untuk memahami politik uang tanpa sekadar marah. Alat untuk membedah narasi populisme tanpa ikut terseret emosi.
📚 Artikel Terkait
Namun, Mill juga mengundang pertanyaan:Apakah realitas sosial bisa sesederhana eksperimen ilmiah?Apakah manusia bisa direduksi menjadi variabel?Dan apakah logika cukup untuk menembus kepentingan kekuasaan?
Dalam bedah ini, kita tidak hanya akan merangkum isi buku, tetapi mengujinya pada konteks kita sendiri—pada Indonesia hari ini, pada ruang publik yang riuh, pada demokrasi yang terus diuji.
Karena membaca Mill bukan soal nostalgia filsafat. Ia adalah latihan disiplin berpikir. Dan mungkin, di tengah kebisingan zaman, itu justru yang paling kita butuhkan. Simak percakapannya di bawah ini.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





