POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Literasi

Bertahan dan Bergerak

Redaksi by Redaksi
Maret 6, 2025
in Literasi
0
Bertahan dan Bergerak - unnamed 93a448d24513805e3338b55d2dae0cfb | Literasi | Potret Online

Oleh Musyawir

Dari 2018 hingga 2021 kegiatan di perpus rumah teras baca masih berada di lingkaran teman dan belum sepenuhnya menjangkau banyak kalangan. Apalagi situasi 2019-2022 nuansa sosialnya diikat dalam aturan PPKM karena pandemi covid-19.

Ini posisi di mana saya bertahan dari semua kondisi yang menggoda untuk mematikan sumbu gerakan literasi. Keaktifan berkegiatan di sahabat pulau indonesia membuat saya makin meyakinkan diri pada sebuah tujuan sederhana dalam gerakan literasi yaitu menghidupkan ruang baca.

Baca Juga
  • 01
    Budaya Menulis
    Budaya Mencatat pun Mati
    16 Jul 2021
  • 02
    Bedah buku
    Menghadirkan Tuhan Dalam Buku
    09 Des 2021

Alih-alih saya menemukan pembenaran dari tulisan Wulida Rahyani dalam sebuah buku kumpulan esai ilmiah Praktik Kerelawanan di Indonesia yang diterbitkan IVOS. Tulisan itu tentang Atomic Habit; Motivasi Dasar Kerelawan, dimana saya melihat sebuah sebab akibat dari sikap kerelawanan.

Saya menganggap apa yang saya kerjakan bersifat suka rela. Menghidupkan literasi itu suka rela dan tanpa tedeng aling-aling. Tapi saya bersyukur bila gerakan ini didorong dan dibantu agar lebih gesit dan stabil.

Baca Juga
  • Bertahan dan Bergerak - dd3368ce 7359 456a 959a 57dc684d3a53 | Literasi | Potret Online
    Cerita Mini
    Teman
    18 Mei 2024
  • Bertahan dan Bergerak - de887664 5703 4ea3 b536 ece938504d8e | Literasi | Potret Online
    Budaya Menulis
    Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik
    22 Feb 2026

Menjadi relawan di ‘perpustakaan rumah teras baca’ lebih saya pilih sebagai sebutan sebuah posisi keberadaan ketimbang disebut sebagai pendiri, sebab saya menyadari ada banyak peran orang lain selain saya yang ikut terlibat di dalamnya tanpa saya sadari dan ketahui.

Misal di mana saya kemudian memutuskan ide untuk membangun rumah buku di kelurahan tanjung keramat, kecamatan Hulondalo, yang hari ini mungkin rak bukunya sudah hilang beserta bahan pustaka yang ada di sana.

Baca Juga
  • Bertahan dan Bergerak - CF3E790E B13B 4C61 BF87 CE2D5A753746 | Literasi | Potret Online
    Aceh
    Santri Dayah Apresiasi Pelaksanaan Pelatihan Penulisan Ilmiah
    19 Agu 2022
  • Bertahan dan Bergerak - IMG_2663 1 | Literasi | Potret Online
    Aceh
    Memotret ‘Majalah POTRET
    11 Jan 2025

Pada saat itu (2019) saya dibantu oleh teman-teman yang sebelumnya telah ikut dalam rangkaian bantuan bencana alam di Palu-Sulteng. Mereka berangkat dari latar pendidikan dan status sosial berbeda.

Selain itu, gagasan itu kemudian didorong oleh ‘Sahabat Pulau Indonesia’ dengan datangnya buku-buku bacaan anak yang bisa saya tinggal di sana. Belum lama kemudian datang lagi dukungan berupa kampanye dari pemerintah Kelurahan Tanjung keramat tentang budaya baca-tulis.

Ada alasan kenapa buku-buku diletakkan di sana. Sebab alasan itu juga organisasi ‘Sahabat Pulau Indonesia’ menjadikan tempat tersebut sebagai lokasi Youth Volunterr Camp di mana segala sumber masalah coba dikaji dan dicoba untuk diselesaikan. Hari ini, tugas itu belum tuntas. Kami menyadari satu hal dari aktivitas itu adalah kedisiplinan dan kesetiaan relawan pada masalah. Beberapa masalah yang kami hadapi adalah soal sanitasi dan sampah. Selain itu ada masalah pendidikan serta ekonomi.

Kegiatan perpustakaan rumah teras baca oleh saya saat itu yang berinisiatif untuk menempel pada Sahabat Pulau Indonesia. Beberapa agenda saya kerjakan dengan melibatkan potensi apa saja yang bisa dipinjam pakai, terutama buku-buku bacaan.

2023 adik-adik saya mulai ikut terpantik mengambil peran sebab tiap hari mereka selalu berpapasan dengan rak-rak buku dan bahan pustaka yang hanya dipajang diteras baca.

Gerakan ini jadi semakin kuat saat kekasih saya juga terang-terangan menghubungi para penerbit buku indie untuk memperoleh donasi buku. Beberapa buku yang datang selalu bersamaan dengan syarat ketentuannya.

Misalkan buku terbitan insan kamil, mereka meminta buku-buku didokumentasikan secara berkala kepada masyarakat saat penggunaan. Dari sana kami buat ide lapak baca buku keliling kolaborasi TBM Sigupai Mambaco dan Perpustakaan MI Alkhairaat sebagai tuan rumah dan sasaran pesertanya. Dan beberapa bahan pustaka lainnya yang dimintakan publikasi dokumentasi penggunaan bahan pustaka. Buku terus berdatangan baik dari penerbitan indie/independen/mandiri atau penerbit mayor seperti Gramedia.

Teras rumah mulai terisi buku-buku yang didominasi oleh buku anak, ensiklopedia anak, komik anak, sastra anak, dan lain-lain yang kategori anak-anak. Lokasi perpus rumah teras baca yang dikelilingi oleh lembaga pendidikan TK, MI, MTS, MA sederajat membuat ruang itu lebih didominasi pelajar walaupun sesekali orang tua murid mampir dan membicarakan resep masakan atau penyanyi dangdut daerah yang lagi ikut audisi dan jadi buah bibir.

Kami tidak menunggu respon warga baca yang mengakses layanan perpustakaan rumah teras baca untuk memberikan ide-ide atau saran usulan program. Inisiatif menciptakan program atau layanan dilakukan secara bergerilya dengan menjajaki informasi di jejaring komunitas yang tergabung di Forum TBM, Pustaka Bergerak, Perkumpulan Literasi, Patjar Merah dan diskusi lintas pegiat.

Misal program Rabu Baca di Teras, Selasa Melapak Buku Bersama, Donasi Buku Teras, saya berdiskusi dengan pegiat Sigupai Mambaco. Program Rumah Buku berdiskusi dengan pegiat di yayasan Sahabat Pulau Indonesia karena memiliki program Rumah Baca Harapan, dan seterusnya yang semua ide itu harus saya akui mengalir dan muncul dari pertemuan antar pegiat dan komunitas.

Hubungan kolaborasi itu hadir bukan hanya karena kesepakatan yang diikat dalam kerja sama melainkan obrolan antar sesama warga baca, kawan pegiat, atau stakeholder yang memiliki atensi sama terhadap ruang gerak literasi di Indonesia.

Pada akhirnya kerja-kerja keliterasian tidak hanya melulu membicarakan bagaimana bisa memperoleh buku untuk memulai sebuah gerakan literasi namun menciptakan peluang bahan pustaka (buku) penunjang kegiatan itu tiba ditangan kita dengan cuma-Cuma dan atau sepaket dengan syarat ketentuannya, seperti Seribu Buku dan Rak dari Perpustakaan Nasional.

Akhir kata, Bertahan dan Bergerak adalah sepaket uang koin yang memiliki dua sisi bernilai tinggi.

Tags: BukuLiterasiMembacaMenulisPeradaban
Previous Post

Senyum di Balik Pintu Masjid

Next Post

Suara Hati Jiwa Mati

Next Post
Bertahan dan Bergerak - IMG 20250306 WA0000 | Literasi | Potret Online

Suara Hati Jiwa Mati

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah