• Latest
Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia

Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia

Januari 23, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Januari 23, 2026
in # Ironi, Indonesia mendongeng, Kemiskinan, Pengemis, Yatim. Piatu. Miskin
Reading Time: 4 mins read
0
Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Barusan saya menulis status singkat “Walau miskin tapi bahagia.” Luar biasa tanggapan netizen. Ada yang lugu bertanya, “Gimana caranya?” Padahal, saya ingin membahas fakta bahwa di negeri kita banyak penduduk miskin tapi mereka bahagia. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Indonesia ini memang negeri paradoks. Kalau dunia ini novel, Indonesia itu tokoh utama yang hidupnya berantakan tapi selalu bilang, “Aku nggak apa-apa.” Perut keroncongan, dompet tipis, harga beras naik, tapi senyum tetap dipajang. Dunia bingung, kita santai.

Beberapa hari ini ramai kabar, Indonesia disebut nomor dua terbanyak penduduk miskin di dunia. Ada yang marah, ada yang denial, ada pula yang langsung menuduh ini propaganda asing, seolah kemiskinan bisa diusir dengan sumpah serapah di kolom komentar. Padahal, seperti biasa, masalahnya bukan di bohong atau tidak, tapi di definisi.

Menurut data resmi BPS, jumlah penduduk miskin Indonesia sekitar 8–9 persen, kira-kira 24 jutaan orang. Angka ini dipakai negara buat nyusun kebijakan, bansos, dan pidato yang nadanya optimistis. Tapi Bank Dunia datang dengan penggaris lain. Mereka pakai garis kemiskinan internasional untuk negara menengah ke atas: sekitar 6,85 dolar PPP per hari. Dengan ukuran itu, lebih dari 60 persen rakyat Indonesia, sekitar 170 jutaan jiwa, masuk kategori miskin versi global. Bukan miskin ekstrem, tapi miskin yang “belum cukup layak” menurut standar dunia.

Dari sinilah muncul judul bombastis, Indonesia peringkat atas jumlah penduduk miskin dunia. Apalagi penduduk kita besar. Kalau dihitung orang, bukan persentase, ya jelas kelihatan menggunung. Ini bukan soal Indonesia paling melarat sedunia, tapi Indonesia negara besar yang kalau pakai standar tinggi, banyak yang belum nyampe.

Di tengah kabar itu, panggung dunia pun dibuka. Salju Davos masih putih, jas-jas mahal masih rapi, dan forum elite bernama World Economic Forum (WEF) kembali jadi altar tempat negara-negara memamerkan masa depan. Di sanalah Prabowo berdiri. Gagah perkasa. Tegap. Percaya diri. Berpidato di hadapan dunia, membawa satu mantra baru, Prabowonomics.

Dengan suara mantap, ia sampaikan, Indonesia sedang menata ulang ekonominya. Hilirisasi, industrialisasi, ketahanan pangan, makan siang gratis, kemandirian energi, semuanya disusun seolah sebuah jurus pamungkas. Narasinya jelas, kemiskinan akan dipangkas, ketimpangan akan dilipat, rakyat kecil akan diangkat derajatnya. Prabowonomics digambarkan bukan sekadar kebijakan, tapi janji sejarah. Seolah setelah ini, kemiskinan tinggal catatan kaki di buku pelajaran.

Dunia mendengar. Kamera merekam. Tepuk tangan datang. Di dalam negeri, rakyat menonton sambil menghitung ulang isi dompet.

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09

Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim

Maret 27, 2026

Lucunya, di saat yang sama, ada cerita lain yang tak kalah viral. Prabowo juga pernah mengutip survei internasional, kolaborasi Harvard, Baylor, dan Gallup yang menyebut masyarakat Indonesia termasuk yang paling bahagia di dunia. Bukan versi World Happiness Report ala negara Nordik yang dingin dan mapan itu, tapi survei kesejahteraan yang lebih luas, makna hidup, relasi sosial, spiritualitas, rasa syukur.

Hasilnya? Indonesia melesat. Dunia kembali bingung. “Loh, ini kok miskin tapi bahagia?”

Jawabannya sederhana tapi menyebalkan bagi para teknokrat, bahagia tidak selalu lahir dari angka ekonomi. Orang Indonesia itu jago adaptasi. Hidup pas-pasan tapi masih bisa ketawa. Gaji kecil tapi masih bisa traktir kopi sachet ke kawan. Rumah sempit, tapi tamu datang tetap disuruh masuk, duduk, pajoh dulu.

Survei lain seperti Ipsos juga menunjukkan mayoritas orang Indonesia mengaku bahagia. Bukan karena hidupnya enak, tapi karena mereka sudah berdamai dengan kenyataan. Di negeri ini, bahagia sering lahir dari kalimat: “yang penting sehat,” atau “masih bisa makan,” atau “yang penting anak sekolah.” Standar kebahagiaannya rendah, tapi daya tahannya tinggi.

Maka jadilah Indonesia anomali global:

  • Data kemiskinan bikin dahi berkerut.
  • Data kebahagiaan bikin alis terangkat.

Apakah ini hal yang patut dibanggakan? Belum tentu. Bahagia bukan alasan untuk memelihara kemiskinan. Senyum bukan pengganti kebijakan. Tertawa bukan solusi struktural. Tapi fakta ini memberi satu pelajaran pahit sekaligus manis, rakyat Indonesia terlalu sering disuruh kuat, bukan dibuat sejahtera.

Prabowonomics kini berdiri di persimpangan sejarah. Jika janji di Davos itu benar-benar turun ke dapur rakyat, ke sawah, ke pasar, ke kos-kosan sempit di pinggir kota, maka kebahagiaan tak lagi lahir dari pasrah, tapi dari kemajuan nyata. Tapi jika tidak, maka ia hanya akan menjadi istilah keren yang lahir di salju Swiss dan mencair sebelum sampai ke kampung-kampung.

Kita miskin menurut dunia, bahagia menurut survei. Negara sering nyaman di celah itu.

Karena selama rakyat masih bisa ketawa, penderitaan dianggap belum darurat. Selama masih ada senyum di statistik kebahagiaan, kemiskinan bisa dibilang “terkendali”.

Padahal, yang ideal itu sederhana, tidak miskin dan tetap bahagia. Bukan memilih salah satu lalu menjadikannya bahan pidato.

Indonesia bukan kekurangan senyum.
Indonesia kekurangan keberanian untuk memastikan senyum itu tidak lahir dari keterpaksaan.

ADVERTISEMENT

Begitulah. Negeri ini mungkin miskin menurut angka, tapi kaya dalam urusan bertahan. Soal sampai kapan rakyat kuat terus, itu pertanyaan yang belum dijawab siapa pun, selain oleh rakyat itu sendiri, tiap hari, diam-diam.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 300x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 227x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 175x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Baca Juga

IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818
Esai

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
Next Post
Bisakah Aceh ‘Merdeka’ Secara Struktural di Bawah NKRI?

Bisakah Aceh 'Merdeka' Secara Struktural di Bawah NKRI?

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com