POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
January 23, 2026
Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Barusan saya menulis status singkat “Walau miskin tapi bahagia.” Luar biasa tanggapan netizen. Ada yang lugu bertanya, “Gimana caranya?” Padahal, saya ingin membahas fakta bahwa di negeri kita banyak penduduk miskin tapi mereka bahagia. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Indonesia ini memang negeri paradoks. Kalau dunia ini novel, Indonesia itu tokoh utama yang hidupnya berantakan tapi selalu bilang, “Aku nggak apa-apa.” Perut keroncongan, dompet tipis, harga beras naik, tapi senyum tetap dipajang. Dunia bingung, kita santai.

Beberapa hari ini ramai kabar, Indonesia disebut nomor dua terbanyak penduduk miskin di dunia. Ada yang marah, ada yang denial, ada pula yang langsung menuduh ini propaganda asing, seolah kemiskinan bisa diusir dengan sumpah serapah di kolom komentar. Padahal, seperti biasa, masalahnya bukan di bohong atau tidak, tapi di definisi.

Menurut data resmi BPS, jumlah penduduk miskin Indonesia sekitar 8–9 persen, kira-kira 24 jutaan orang. Angka ini dipakai negara buat nyusun kebijakan, bansos, dan pidato yang nadanya optimistis. Tapi Bank Dunia datang dengan penggaris lain. Mereka pakai garis kemiskinan internasional untuk negara menengah ke atas: sekitar 6,85 dolar PPP per hari. Dengan ukuran itu, lebih dari 60 persen rakyat Indonesia, sekitar 170 jutaan jiwa, masuk kategori miskin versi global. Bukan miskin ekstrem, tapi miskin yang “belum cukup layak” menurut standar dunia.

Dari sinilah muncul judul bombastis, Indonesia peringkat atas jumlah penduduk miskin dunia. Apalagi penduduk kita besar. Kalau dihitung orang, bukan persentase, ya jelas kelihatan menggunung. Ini bukan soal Indonesia paling melarat sedunia, tapi Indonesia negara besar yang kalau pakai standar tinggi, banyak yang belum nyampe.

Di tengah kabar itu, panggung dunia pun dibuka. Salju Davos masih putih, jas-jas mahal masih rapi, dan forum elite bernama World Economic Forum (WEF) kembali jadi altar tempat negara-negara memamerkan masa depan. Di sanalah Prabowo berdiri. Gagah perkasa. Tegap. Percaya diri. Berpidato di hadapan dunia, membawa satu mantra baru, Prabowonomics.

Dengan suara mantap, ia sampaikan, Indonesia sedang menata ulang ekonominya. Hilirisasi, industrialisasi, ketahanan pangan, makan siang gratis, kemandirian energi, semuanya disusun seolah sebuah jurus pamungkas. Narasinya jelas, kemiskinan akan dipangkas, ketimpangan akan dilipat, rakyat kecil akan diangkat derajatnya. Prabowonomics digambarkan bukan sekadar kebijakan, tapi janji sejarah. Seolah setelah ini, kemiskinan tinggal catatan kaki di buku pelajaran.

Dunia mendengar. Kamera merekam. Tepuk tangan datang. Di dalam negeri, rakyat menonton sambil menghitung ulang isi dompet.

Lucunya, di saat yang sama, ada cerita lain yang tak kalah viral. Prabowo juga pernah mengutip survei internasional, kolaborasi Harvard, Baylor, dan Gallup yang menyebut masyarakat Indonesia termasuk yang paling bahagia di dunia. Bukan versi World Happiness Report ala negara Nordik yang dingin dan mapan itu, tapi survei kesejahteraan yang lebih luas, makna hidup, relasi sosial, spiritualitas, rasa syukur.

Hasilnya? Indonesia melesat. Dunia kembali bingung. “Loh, ini kok miskin tapi bahagia?”

📚 Artikel Terkait

Surat-Surat yang Tersangkut di Langit Gaza

Puisi Nesa Arya

Doa Mereka

GSI Aceh Melaju ke 16 Besar Nasional

Jawabannya sederhana tapi menyebalkan bagi para teknokrat, bahagia tidak selalu lahir dari angka ekonomi. Orang Indonesia itu jago adaptasi. Hidup pas-pasan tapi masih bisa ketawa. Gaji kecil tapi masih bisa traktir kopi sachet ke kawan. Rumah sempit, tapi tamu datang tetap disuruh masuk, duduk, pajoh dulu.

Survei lain seperti Ipsos juga menunjukkan mayoritas orang Indonesia mengaku bahagia. Bukan karena hidupnya enak, tapi karena mereka sudah berdamai dengan kenyataan. Di negeri ini, bahagia sering lahir dari kalimat: “yang penting sehat,” atau “masih bisa makan,” atau “yang penting anak sekolah.” Standar kebahagiaannya rendah, tapi daya tahannya tinggi.

Maka jadilah Indonesia anomali global:

  • Data kemiskinan bikin dahi berkerut.
  • Data kebahagiaan bikin alis terangkat.

Apakah ini hal yang patut dibanggakan? Belum tentu. Bahagia bukan alasan untuk memelihara kemiskinan. Senyum bukan pengganti kebijakan. Tertawa bukan solusi struktural. Tapi fakta ini memberi satu pelajaran pahit sekaligus manis, rakyat Indonesia terlalu sering disuruh kuat, bukan dibuat sejahtera.

Prabowonomics kini berdiri di persimpangan sejarah. Jika janji di Davos itu benar-benar turun ke dapur rakyat, ke sawah, ke pasar, ke kos-kosan sempit di pinggir kota, maka kebahagiaan tak lagi lahir dari pasrah, tapi dari kemajuan nyata. Tapi jika tidak, maka ia hanya akan menjadi istilah keren yang lahir di salju Swiss dan mencair sebelum sampai ke kampung-kampung.

Kita miskin menurut dunia, bahagia menurut survei. Negara sering nyaman di celah itu.

Karena selama rakyat masih bisa ketawa, penderitaan dianggap belum darurat. Selama masih ada senyum di statistik kebahagiaan, kemiskinan bisa dibilang “terkendali”.

Padahal, yang ideal itu sederhana, tidak miskin dan tetap bahagia. Bukan memilih salah satu lalu menjadikannya bahan pidato.

Indonesia bukan kekurangan senyum.
Indonesia kekurangan keberanian untuk memastikan senyum itu tidak lahir dari keterpaksaan.

Begitulah. Negeri ini mungkin miskin menurut angka, tapi kaya dalam urusan bertahan. Soal sampai kapan rakyat kuat terus, itu pertanyaan yang belum dijawab siapa pun, selain oleh rakyat itu sendiri, tiap hari, diam-diam.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Bisakah Aceh ‘Merdeka’ Secara Struktural di Bawah NKRI?

Bisakah Aceh 'Merdeka' Secara Struktural di Bawah NKRI?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00