• Latest
Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia - 935c28b0 b61d 4e0e a9a7 e06fb0709da3 | # Ironi | Potret Online

Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia

Januari 23, 2026
Ilustrasi kerumunan orang menatap ponsel di bawah panggung politik dengan figur pemimpin yang dikendalikan seperti boneka oleh tangan besar di atasnya, menggambarkan manipulasi, popularitas, dan hilangnya akal sehat dalam demokrasi.

Menuju Bangsa Goblok (MBG)

April 23, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | # Ironi | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
2ba083ca-6b42-4301-9181-39025ceadd55

Hikayat Negeri Para Kuli dan Berhala Hijau

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Januari 23, 2026
in # Ironi, Indonesia mendongeng, Kemiskinan, Pengemis, Yatim. Piatu. Miskin
Reading Time: 4 mins read
0
Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia - 935c28b0 b61d 4e0e a9a7 e06fb0709da3 | # Ironi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Barusan saya menulis status singkat “Walau miskin tapi bahagia.” Luar biasa tanggapan netizen. Ada yang lugu bertanya, “Gimana caranya?” Padahal, saya ingin membahas fakta bahwa di negeri kita banyak penduduk miskin tapi mereka bahagia. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Indonesia ini memang negeri paradoks. Kalau dunia ini novel, Indonesia itu tokoh utama yang hidupnya berantakan tapi selalu bilang, “Aku nggak apa-apa.” Perut keroncongan, dompet tipis, harga beras naik, tapi senyum tetap dipajang. Dunia bingung, kita santai.

Baca Juga
  • Rakyat Siap Mendukung Penuh Sikap dan Tindakan Presiden Prabowo Subianto Menindak dan Membersihkan Kabinet Merah Putih Yang Membuat Gaduh
  • 🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Beberapa hari ini ramai kabar, Indonesia disebut nomor dua terbanyak penduduk miskin di dunia. Ada yang marah, ada yang denial, ada pula yang langsung menuduh ini propaganda asing, seolah kemiskinan bisa diusir dengan sumpah serapah di kolom komentar. Padahal, seperti biasa, masalahnya bukan di bohong atau tidak, tapi di definisi.

Menurut data resmi BPS, jumlah penduduk miskin Indonesia sekitar 8–9 persen, kira-kira 24 jutaan orang. Angka ini dipakai negara buat nyusun kebijakan, bansos, dan pidato yang nadanya optimistis. Tapi Bank Dunia datang dengan penggaris lain. Mereka pakai garis kemiskinan internasional untuk negara menengah ke atas: sekitar 6,85 dolar PPP per hari. Dengan ukuran itu, lebih dari 60 persen rakyat Indonesia, sekitar 170 jutaan jiwa, masuk kategori miskin versi global. Bukan miskin ekstrem, tapi miskin yang “belum cukup layak” menurut standar dunia.

Baca Juga
  • Mengenal Ir. Kasmudjo, Dosen Pembimbing Akademik Jokowi
  • Di Depan Pintu yang Tak Pernah Terbuka

Dari sinilah muncul judul bombastis, Indonesia peringkat atas jumlah penduduk miskin dunia. Apalagi penduduk kita besar. Kalau dihitung orang, bukan persentase, ya jelas kelihatan menggunung. Ini bukan soal Indonesia paling melarat sedunia, tapi Indonesia negara besar yang kalau pakai standar tinggi, banyak yang belum nyampe.

Di tengah kabar itu, panggung dunia pun dibuka. Salju Davos masih putih, jas-jas mahal masih rapi, dan forum elite bernama World Economic Forum (WEF) kembali jadi altar tempat negara-negara memamerkan masa depan. Di sanalah Prabowo berdiri. Gagah perkasa. Tegap. Percaya diri. Berpidato di hadapan dunia, membawa satu mantra baru, Prabowonomics.

Baca Juga
  • Tragedi Biologis Nasional Antara Ridwan Kamil, Lisa Mariana, dan Revelino
  • HABA Si PATok

Dengan suara mantap, ia sampaikan, Indonesia sedang menata ulang ekonominya. Hilirisasi, industrialisasi, ketahanan pangan, makan siang gratis, kemandirian energi, semuanya disusun seolah sebuah jurus pamungkas. Narasinya jelas, kemiskinan akan dipangkas, ketimpangan akan dilipat, rakyat kecil akan diangkat derajatnya. Prabowonomics digambarkan bukan sekadar kebijakan, tapi janji sejarah. Seolah setelah ini, kemiskinan tinggal catatan kaki di buku pelajaran.

Dunia mendengar. Kamera merekam. Tepuk tangan datang. Di dalam negeri, rakyat menonton sambil menghitung ulang isi dompet.

Lucunya, di saat yang sama, ada cerita lain yang tak kalah viral. Prabowo juga pernah mengutip survei internasional, kolaborasi Harvard, Baylor, dan Gallup yang menyebut masyarakat Indonesia termasuk yang paling bahagia di dunia. Bukan versi World Happiness Report ala negara Nordik yang dingin dan mapan itu, tapi survei kesejahteraan yang lebih luas, makna hidup, relasi sosial, spiritualitas, rasa syukur.

Hasilnya? Indonesia melesat. Dunia kembali bingung. “Loh, ini kok miskin tapi bahagia?”

Jawabannya sederhana tapi menyebalkan bagi para teknokrat, bahagia tidak selalu lahir dari angka ekonomi. Orang Indonesia itu jago adaptasi. Hidup pas-pasan tapi masih bisa ketawa. Gaji kecil tapi masih bisa traktir kopi sachet ke kawan. Rumah sempit, tapi tamu datang tetap disuruh masuk, duduk, pajoh dulu.

Survei lain seperti Ipsos juga menunjukkan mayoritas orang Indonesia mengaku bahagia. Bukan karena hidupnya enak, tapi karena mereka sudah berdamai dengan kenyataan. Di negeri ini, bahagia sering lahir dari kalimat: “yang penting sehat,” atau “masih bisa makan,” atau “yang penting anak sekolah.” Standar kebahagiaannya rendah, tapi daya tahannya tinggi.

Maka jadilah Indonesia anomali global:

  • Data kemiskinan bikin dahi berkerut.
  • Data kebahagiaan bikin alis terangkat.

Apakah ini hal yang patut dibanggakan? Belum tentu. Bahagia bukan alasan untuk memelihara kemiskinan. Senyum bukan pengganti kebijakan. Tertawa bukan solusi struktural. Tapi fakta ini memberi satu pelajaran pahit sekaligus manis, rakyat Indonesia terlalu sering disuruh kuat, bukan dibuat sejahtera.

Prabowonomics kini berdiri di persimpangan sejarah. Jika janji di Davos itu benar-benar turun ke dapur rakyat, ke sawah, ke pasar, ke kos-kosan sempit di pinggir kota, maka kebahagiaan tak lagi lahir dari pasrah, tapi dari kemajuan nyata. Tapi jika tidak, maka ia hanya akan menjadi istilah keren yang lahir di salju Swiss dan mencair sebelum sampai ke kampung-kampung.

Kita miskin menurut dunia, bahagia menurut survei. Negara sering nyaman di celah itu.

Karena selama rakyat masih bisa ketawa, penderitaan dianggap belum darurat. Selama masih ada senyum di statistik kebahagiaan, kemiskinan bisa dibilang “terkendali”.

Padahal, yang ideal itu sederhana, tidak miskin dan tetap bahagia. Bukan memilih salah satu lalu menjadikannya bahan pidato.

Indonesia bukan kekurangan senyum.
Indonesia kekurangan keberanian untuk memastikan senyum itu tidak lahir dari keterpaksaan.

Begitulah. Negeri ini mungkin miskin menurut angka, tapi kaya dalam urusan bertahan. Soal sampai kapan rakyat kuat terus, itu pertanyaan yang belum dijawab siapa pun, selain oleh rakyat itu sendiri, tiap hari, diam-diam.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Biar Banyak Miskin,Tapi Penduduknya Bahagia - IMG_9514 | # Ironi | Potret Online

Bisakah Aceh 'Merdeka' Secara Struktural di Bawah NKRI?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com