POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam?

Frida PignyOleh Frida Pigny
January 11, 2026
Menata Aceh di Atas Air atau Menunggu Tenggelam?
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: @Frida.Pigny

Beberapa waktu lalu, seorang teman, pilot perempuan asal Belanda bernama Fenna, mengirim pesan singkat ketika ia tahu Aceh sedang banjir: “Come move to the Netherlands, hehe.” Kalimat itu mendarat di ponselku tepat saat Aceh kembali dikepung genangan akibat hujan lebat, sebuah siklus yang kini terasa seperti “menu wajib” sejak akhir 2025 dan menyambut awal 2026. Bahkan masih dalam keadaan tergenang saat tulisan ini dimuat!

Aku membalasnya dengan candaan tentang aroma rumput di Giethoorn dan Friesland, dua kota penuh air Belanda. Tapi candaan itu menahan pikiranku lebih lama dari yang kuduga. Mengapa Belanda bisa menjinakkan air dan menjadikannya kemewahan, sementara kita, di Indonesia, khususnya Aceh, menjadikannya bencana berkala yang “disengajai”?

Belanda hidup dengan ancaman yang jauh lebih ekstrem. Lebih dari seperempat wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Tapi mereka tidak melawan air dengan ‘doa-sabar-ikhlas’ saja. Mereka menatanya. Sejak abad ke-17, mereka membangun sistem kanal, tanggul, dan polder. Hari ini, air bukan musuh, melainkan bagian dari arsitektur hidup. Kota seperti Giethoorn bahkan menjadikan kanal sebagai jalan utama. Tidak ada mobil di kota ini. Air adalah aset, bukan kutukan.

Lalu kita? Negeri yang dikaruniai hutan hujan tropis, pegunungan, sungai, dan tanah subur. Kita seharusnya menjadi bangsa yang paling siap menghadapi air. Tapi justru kita yang paling sering kelabakan.

Seandainya VOC Menang?


Kadang, dalam kegeraman melihat banjir yang tak kunjung surut dan pemerintah yang tanpa berdosa menganggap Aceh “sudah normal dan baik-baik saja”, muncul pikiran liar: bagaimana jika dulu moyang kita menyerah saja pada Belanda?


Sangat satir memang. Sejarah mencatat Aceh adalah tanah yang tak pernah benar-benar bisa diduduki VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), kongsi dagang raksasa Belanda abad ke-17 yang memonopoli rempah-rempah Asia. Kita punya darah pahlawan yang menolak dijajah demi kedaulatan. Tapi lihat ironinya hari ini. Kita menang melawan Belanda, tapi tampaknya kita kalah melawan “penjajah” dari dalam gudang kita sendiri.

Jika saja Aceh berada di bawah manajemen Belanda seperti Friesland atau Giethoorn, barangkali hutan kita tetap rimbun karena mereka paham pohon adalah “teknologi” penahan air terbaik. Atau, jika hutan pun harus dibuka, mereka akan membangun sistem kanal kelas dunia agar warga tak perlu berendam lumpur setiap kali hujan turun.

Kita bangga tak pernah dijajah bangsa pirang, tapi kita diam saja saat alam kita dikuras secara kolonial oleh bangsa sendiri, yang warna rambutnya sama.

Hutan Kita Dicuri di Gudang Sendiri


Data lapangan dari wawancara warga dengan salah satu penebang pohon berizin resmi dari Kementerian Kehutanan sangat mengerikan. Hampir bisa dipastikan, bapak penggundul hutan Aceh berasal dari luar daerah. Dari pengakuannya: puluhan ribu hektar hutan di Aceh, dari Aceh Timur, Penarun, hingga Aceh Utara, digunduli dengan dalih “jatah kombatan”, “plasma PT”, atau “pembukaan lahan”.

📚 Artikel Terkait

SMAN 10 Fajar Harapan Gelar Simposium P5

BENGKEL OPINI RAKyat

Bangsa Unggul: Antara Kontroversi, Kepemimpinan, dan Perlawanan

Makna Kata “Uffin” Dalam Al-Quran

Padahal, riset global sudah lama menunjukkan bahwa deforestasi adalah faktor utama meningkatnya banjir bandang. Hutan tropis bukan sekadar kumpulan pohon; ia adalah spons raksasa yang menyerap air hujan, menahan erosi, dan menstabilkan tanah. Ketika ia hilang, hujan tidak lagi diserap, ia meluncur bebas, membawa lumpur, batu, dan kehancuran.

Kayu-kayu raksasa itu mengalir ke luar: ke kota besar, ke pelabuhan, mungkin ke luar negeri. Lalu apa yang tersisa bagi orang Aceh? Ampasnya, dalam bentuk banjir, rusaknya ekosistem, trauma, dan biaya pemulihan yang harus ditanggung warga lokal dalam jangka waktu puluhan tahun.

Inilah kolonialisme modern. Kekayaan diambil, risikonya ditinggal di depan pintu rumah kita.

Para pelaku di lapangan sering merasa “tidak bersalah”. Mereka merasa bahwa mereka hanya sekrup kecil dalam mesin besar. Tapi di situlah tanda matinya nalar dan moral: ketika manusia terbiasa menjadi pekerja ABS, Asal Bapak Senang, bahkan jika yang disenangkan adalah mesin perusak masa depan. Yang penting ada kerja dan dibayar!

“Aceh City of Canals”?


Kita harus jujur pada realitas. Pohon-pohon yang ditebang hari ini butuh setidaknya dua dekade untuk kembali memiliki akar yang mampu menahan air. Kita tidak punya waktu 20 tahun untuk menunggu.

Jika pemerintah pusat terus menolak eskalasi status bencana dan bantuan internasional tersendat oleh birokrasi, mungkin sudah saatnya kita berhenti sekadar “melawan” air dan mulai hidup bersamanya.
Lupakan slogan ‘The Light of Aceh’. Mungkin saatnya kita mulai menggantinya dengan yang baru: ‘Aceh, The City of Canals’.

Bukan dalam arti romantik belaka. Ini soal survival. Di banyak kota dunia, seperti Amsterdam, Bangkok, bahkan Jakarta mulai terlambat belajar tentang konsep ‘water-based urban design’ yang menjadi keniscayaan. Air tidak lagi dianggap musuh, tapi infrastruktur hidup: jalur transportasi, ruang resapan, buffer bencana.

Namun kanal tercanggih pun akan jebol jika “keran” di hulu, yakni hutan kita, terus dibuka paksa. Teknologi tanpa etika hanya akan mempercepat kehancuran.

Apa yang Harus Kita Lakukan, Sekarang?
Kita tak bisa lagi bersembunyi di balik gelar akademik jika buta membaca tanda alam yang sekarat. Sebagai komunitas intelektual dan warga sadar, kita butuh lompatan konkret:

  1. Kurikulum Hutan
    Pengetahuan ekologi harus menjadi pelajaran wajib. Anak-anak Aceh harus bisa membaca sungai, tanah, dan awan, bukan hanya menghafal definisi.
  2. Ekonomi Pohon Berdiri
    Warga harus mendapat manfaat dari pohon yang tetap hidup, seperti ekowisata, karbon kredit, hasil hutan non-kayu. Mereka harus menjadi garda utama penjaga pohon, bukan penebang.
  3. Citizen Surveillance
    Latih pemuda kampung untuk mendokumentasikan setiap truk kayu, setiap pembukaan liar, dengan GPS dan kamera. Tak boleh ada lagi kejahatan tersembunyi, apalagi yang didiamkan karena akan menjadi kebiasaan.
  4. Izin Lingkungan Rakyat
    Siapa pun yang menyentuh hutan Aceh harus memiliki “izin sosial” dari rakyat dan adat. Jangan biarkan orang luar masuk tanpa pengawasan kita sendiri. Ini harus menjadi salah satu tugas utama ‘Tuha Peut’.

Alam bukan hanya untuk kita tempati tanpa merawatnya. Ia akan bereaksi terhadap bagaimana kita memperlakukannya. Jika kita membiarkan hutan dijarah, jangan heran ketika air datang menagih ruangnya yang sudah dirampok itu.

Aceh butuh arsitek transformasi, bukan sekadar ‘penikmat bencana’.
Sekarang lupakan Friesland dan Giethoorn sejenak, juga lupakan pemerintah dan pejabat zalim, agar kita bisa mulai membangun kedaulatan di atas tanah yang katanya “tak pernah dijajah” ini.

“Alam semesta ini bukan sesuatu yang ‘jadi’ lalu kita tinggal di dalamnya. Alam semesta ini adalah Partisipatori.” ~ John Archibald Wheeler

Pilihan kita sederhana:
menata Aceh di atas air atau menunggu tenggelam bersama kebanggaan kosong? (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Frida Pigny

Frida Pigny

Frida Pigny adalah seorang home educator bersertifikat, pembicara transformasional, dan pendiri SuperSchooling, sebuah platform pendidikan keluarga yang membantu orang tua merancang perjalanan belajar yang lebih bermakna, personal, dan selaras dengan nilai keberagaman. Ia menggabungkan ilmu NLP, Time Line Therapy™️, Hipnosis, Psikologi Positif, Psikologi Energi, Kinesiologi, dan Emotional Freedom Technique (EFT) dalam pendekatan pendidikan holistik yang ia bangun. Lewat Axellent Method, pendekatan khas Frida yang santai namun transformatif, ia memberi ruang bagi keluarga untuk keluar dari sistem pendidikan yang kaku dan menumbuhkan anak-anak yang lebih percaya diri, kreatif, dan penuh empati. Frida juga seorang Firewalk Trainer tersertifikasi dan anggota Aceh Australian Alumni. Misinya adalah menghidupkan pendidikan masa depan yang berpijak pada kekuatan keluarga, kemerdekaan belajar, dan keberagaman nilai abad 21. Ayo, connect dengan Frida di Instagram: @Frida.Pigny Frida Pigny is a certified home educator, energy psychology practitioner, and founder of SuperSchooling, a movement that helps families design personalized, diversity-aligned learning experiences. Combining neuroscience, EFT, NLP, kinesiology, and positive psychology, Frida empowers parents to raise confident, creative children beyond the limits of traditional schooling. Through her Superschooling platform and signature Axellent Method, a relaxed yet powerfully transformative learning approach, she guides families to break free from rigid systems and nurture emotionally resilient, empathetic, and curious young learners. Frida is also a certified Firewalk Trainer and a proud member of the Aceh Australian Alumni network. Her mission is to reimagine future education by rooting it in family strength, freedom, and cultural integrity.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Belajar Empati di Tengah  Krisis Ekologis

Belajar Empati di Tengah  Krisis Ekologis

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00