POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Air Bersih yang Terabaikan di Aceh Utara

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
January 4, 2026
Air Bersih yang Terabaikan di Aceh Utara
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif Arsyad.

Bencana banjir bandang di Aceh Utara sebulan lalu belum benar-benar berakhir. Air memang telah surut, tetapi krisis justru menetap dalam bentuk yang lebih sunyi dan berkepanjangan: genangan lumpur, sumur warga yang tercemar, dan trauma kolektif yang terus dipelihara oleh kelambanan negara.

Dua hari lalu, bersama relawan Yayasan Askar Ramadhan, kami mengunjungi sejumlah desa di kawasan Jambo Aye, Aceh Utara. Sepanjang jalan desa, parit dan saluran air masih penuh lumpur. Akibatnya, air terus tergenang di depan rumah-rumah warga. Setiap hujan turun, genangan itu berubah menjadi simulasi banjir bandang—air bercampur lumpur yang datang tiba-tiba, menghidupkan kembali ingatan pahit bencana sebulan lalu. Trauma warga pun tak pernah benar-benar reda.

Masalah paling mengkhawatirkan adalah kondisi air bersih. Hampir seluruh sumur warga tidak lagi layak konsumsi. Air berwarna hitam, berbau, dan jelas tercemar. Secara ekologis, ini dapat dijelaskan: tanah yang jenuh air dan lumpur kehilangan daya serapnya. Kontaminasi pun merembes ke sumber air tanah. Dalam kondisi seperti ini, sumur bukan lagi solusi, melainkan sumber risiko kesehatan.

Ironisnya, hingga fase pascabencana ini, belum terlihat kehadiran alat berat dari pemerintah daerah untuk membersihkan saluran, mengeruk lumpur, atau memulihkan sistem drainase. Negara seolah berhenti bekerja setelah status tanggap darurat dicabut. Padahal, justru pada fase pascabencana inilah kebutuhan masyarakat paling mendasar—air bersih, sanitasi, dan rasa aman—harus dijamin secara serius.

Penanganan yang lamban ini terasa semakin menyakitkan karena bencana di Aceh Utara nyaris tak terdengar gaungnya di media sosial. Ia tidak viral. Terjadi di pelosok. Tidak menghadirkan visual dramatis yang mengundang empati warganet. Akibatnya, penderitaan warga seolah tak cukup penting untuk dipercepat penanganannya.

📚 Artikel Terkait

Gambung, Hujan, dan Kenangan

Awal Mula Kehancuran Pelajar Indonesia

Entrepreneur Itu Lebih Baik Bagimu

Koperasi Lawan Tanding Kapitalisme

Perlu ditegaskan, dampak banjir bandang ini bagi masyarakat setempat sangat luar biasa. Dalam banyak aspek kehidupan—kehilangan mata pencaharian, rusaknya sumber air, dan ketidakpastian masa depan—dampaknya dirasakan lebih panjang dan lebih kompleks dibandingkan bencana besar sekalipun, termasuk tsunami 2004 yang kala itu ditangani dengan respons nasional dan internasional yang masif.

Pemerintah daerah Aceh Utara tidak bisa terus mengandalkan distribusi air bersih melalui mobil tangki yang datang seminggu dua kali. Bantuan semacam itu bersifat darurat, bukan solusi. Yang dibutuhkan adalah langkah berkelanjutan: pengerukan lumpur secara menyeluruh, normalisasi saluran air, rehabilitasi sumur warga, pembangunan sumber air bersih alternatif, serta pendampingan kesehatan masyarakat untuk mencegah wabah penyakit berbasis air.

Lebih dari itu, negara harus hadir secara nyata, bukan simbolik. Kehadiran itu diwujudkan melalui kebijakan cepat, alokasi anggaran yang memadai, dan kerja lapangan yang terlihat oleh warga. Tanpa itu, narasi pemulihan hanyalah slogan administratif yang tidak menyentuh realitas.

Air bersih adalah hak dasar warga negara. Ketika hak itu diabaikan, terutama setelah bencana, maka yang terjadi bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan kegagalan moral dan kebijakan. Aceh Utara tidak membutuhkan simpati sesaat, tetapi keberpihakan yang nyata dan berkelanjutan.

Jika negara terus abai hanya karena penderitaan ini tidak viral, maka kita patut bertanya: untuk siapa sebenarnya negara ini bekerja?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00