• Latest
Do’a yang Tak Pernah Selesai - 2025 05 15 09 56 48 | Puisi Cinta | Potret Online

Do’a yang Tak Pernah Selesai

Mei 15, 2025

Mengapa Ivan Illich Mengajak Kita Berhenti Memuja Sekolah

April 23, 2026
Ilustrasi kerumunan orang menatap ponsel di bawah panggung politik dengan figur pemimpin yang dikendalikan seperti boneka oleh tangan besar di atasnya, menggambarkan manipulasi, popularitas, dan hilangnya akal sehat dalam demokrasi.

Menuju Bangsa Goblok (MBG)

April 23, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Do’a yang Tak Pernah Selesai - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Puisi Cinta | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Do’a yang Tak Pernah Selesai

Rika Puji Lestari by Rika Puji Lestari
Mei 15, 2025
in Puisi Cinta, Puisi Essay
Reading Time: 2 mins read
0
Do’a yang Tak Pernah Selesai - 2025 05 15 09 56 48 | Puisi Cinta | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rika Puji Lestari
Anggota Satupena Kab. Blora

Tak ada yang benar-benar kebetulan,
Setiap langkah, setiap pertemuan,
Telah digariskan oleh tangan Tuhan,
Membawa makna dalam diam dan kehilangan.

Baca Juga
  • Palestina, Gencatan Senjata
  • Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes

Kau hadir sebentar, tapi mengakar dalam,
Rasa itu tinggal, meski tak bisa kuucap terang.
Tak tergantikan, meski banyak yang datang,
Karena kasih sejati tak mengenal pergantian.

Mengikhlaskanmu—bukan karena tiada cinta,
Justru karena cinta itu terlalu besar untuk ku jaga.
Saat kulepas genggamanmu, jiwaku teruji,
Tapi kuyakini, itulah jalan terbaik yang harus kujalani.

Baca Juga
  • Laboratorium Rasa Takut
  • Ketika Sepucuk Surat Luka Terdampar di Pantai Pasir Putih‎

Masih kuingat semua tentang kita,
Langkah-langkah kecil, tawa sederhana,
Perhatianmu yang tak pernah menunggu diminta,
Pengorbananmu, bahkan di tengah malam yang sunyi tak bersuara.

Biarlah aku yang mengingat,
Biarlah semua tinggal dalam relung yang tak tampak,
Karena penyesalanku bukan karena kau pergi,
Tapi karena tak kubiarkan kau berjuang sekali lagi.

Baca Juga
  • Sahur di Ujung Doa
  • Sebait Puisi, Secangkir Kopi

Kau mungkin melihatku sebagai sosok yang egois,
Namun, tahukah kau… aku selalu bangga, selalu menangis.
Melihatmu tetap melangkah dalam hidup yang keras,
Kau hebat, meski tanpaku di sisimu yang lepas.

Jangan pikirkan semua ini terlalu dalam,
Teruslah melangkah, jangan berhenti di persimpangan.
Temukan seseorang yang akan merawatmu hingga senja,
Yang memelukmu dalam suka dan luka.

Terima kasih telah hidup dengan baik,
Maaf atas luka yang tak bisa kembali ku benahi.
Doaku menyertaimu—senyap, tak terlihat,
Karena cukup melihatmu bahagia, hatiku telah hangat.

Share234SendTweet146Share
Rika Puji Lestari

Rika Puji Lestari

Rika Puji Lestari lahir di Blora pada 19 April 1997. Ketertarikannya pada dunia menulis bermula sejak duduk di bangku SMA, saat puisinya pertama kali dimuat di majalah sekolah. Sejak itu, Rika terus menulis cerpen, puisi, dan esai, beberapa di antaranya telah dipublikasikan di berbagai media daring. Ia aktif dalam sejumlah komunitas kepenulisan seperti Satupena dan Kreator Era AI, yang turut mendukung perjalanannya dalam dunia literasi. Bagi Rika, menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan cara untuk menyuarakan hal-hal yang tak sempat terucap, sebuah ruang untuk menuangkan pikiran dan perasaan.

Next Post
Do’a yang Tak Pernah Selesai - 2025 05 15 10 03 05 | Puisi Cinta | Potret Online

Kunikahi Kamu Secepat Argo Bromo, Kuceraikan Kamu Secepat Sembrani

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com