• Latest
Wajah Negeriku - 2025 05 27 09 45 34 | #Kemerdekaan | Potret Online

Wajah Negeriku

Agustus 18, 2025
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Wajah Negeriku - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | #Kemerdekaan | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
2ba083ca-6b42-4301-9181-39025ceadd55

Hikayat Negeri Para Kuli dan Berhala Hijau

April 22, 2026
9155c5eb-ca3b-4638-879b-31953e632691

Antara Retorika dan Realitas: Pendidikan Kepemimpinan Perempuan Indonesia

April 22, 2026
Ilustrasi seorang berdiri di persimpangan jalan dengan simbol otak bercahaya di tengah, menggambarkan akal waras di era digital antara kebaikan dan pengaruh media sosial.

Akal Waras di Era Digital

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Wajah Negeriku

Nendawati by Nendawati
Agustus 18, 2025
in #Kemerdekaan, Puisi Essay
Reading Time: 6 mins read
0
Wajah Negeriku - 2025 05 27 09 45 34 | #Kemerdekaan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Oleh: Nendawati Spdi

Merdeka itu bukan tentang upacara pagi, tapi tentang menanyakan pada diri sendiri,sudahkah benar benar merdeka?Masih kah hati yang dijajah luka dan bergelantungan di atas harapan?”

Di ufuk timur matahari kembali menyala.Layaknya semangat bara di kegelapan, mengguncang keberanian menyala terang.

Baca Juga
  • Puasa, Lapar, dan Makna Sabar
  • Api di Selatan, Duka di Langit

Apakah kita benar benar sudah merasakan kemerdekaan?
Apakah ada yang merdeka di perut yang lapar?

Karena selama dapur belum bergembur ,meja tak terisi makanan,perut masih dalam keadaan lapar, dompet tak berisi bearti tugas kita belum selesai saudara!

Baca Juga
  • Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)
  • Pesan untuk OPM: Teroris Tak Berhak Menuntut Kemerdekaan

Karena bendera tak hanya memerlukan tiang yang kuat melainkan tanah kokoh untuk menancap .

Bendera merah putih bendera tanah airku gagah dan jernih tampak warnamu berkibar lah di langit yang biru .

Baca Juga
  • Senyum di Balik Pintu Masjid
  • Kartini: Fajar di Balik Tirai Keheningan

Merah adalah warna darah kita .
Darah darah yang berlumuran berkubangan tumpah ruah di medan parang.

Darah yang mengalir dari nadi jiwa raga para pejuang di masa silam,yang menolak dijajah serta diperbudakan.

Putih adalah suci
Putih tulang kita .
Putih kesucian yang ditenun dalam kain suci .
Putih yang dulu dikibarkan dengan doa juga air mata .

Merah putih berkibar lah selalu.
Dua warna yang dipasangkan di tiang bambu .
Sepasang warna yang menyatu adalah simbol kebebasan kemerdekaan jadi nafas yang mengikat kita semua dari Aceh hingga Mauroke .

Warna merah putih bukan sekadar warna melainkan ada sejarah kelam jerit luka ,tangis Angkara juga pengorbanan.

Sejarah begitu kelam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia ini ,apakah masih ada berkibar di dada merah putih itu ?

Merah putih cermin dalam kejujuran.
Bacalah kembali sejarah itu!
Bagaimana para pejuang rela dibombardir digilas meriam demi mempertahankan kemerdekaan.

Merah putih akan selalu abadi.
Tak akan pudar oleh waktu.
Maka tegaklah dan tancaplah keadilan itu di bumi Pertiwi ini.

Jangan cela dan cacatkan warna putih itu , jadikan lah terus hidup di sanubari .
Lurus yang memiliki Marwah juga prinsip tak tergoyahkan oleh seribu satu tipu muslihat.

Merah putih selalu di dada .
Merah putih jiwa raga kita .
Merah putih harus terus berkibar.
Agar negara ini bisa memeluk merdeka dengan benar benar merdeka.

Apakah kita sudah mengisi kemerdekaan ini dengan keadilan?
Atau kita alpa bahwa api bara itu harus tetap menyala?

HUT kemerdekaan RI ke delapan puluh sudah lah kita lalui .
Kalimat merdeka terpekik kuat di bulan Agustus, terdengar indah ,namun apakah kita semua masih berdiri tegak kuat di tanah ibu Pertiwi ini?atau jangan jangan kita justru berdiri retak bukan musabab perang melainkan oleh janji janji yang tidak pernah tumbuh akar .

Kita merdeka tapi jika kita tagih janji maka mulut akan di sumpal dengan kain janji dan akan tertindih terus dengan sumpalan kain janji
Selanjutnya.

Semoga yang tampak utuh harus lah dirasa sungguh .
Karena negeri ini harus merdeka di ruang bebas.
Merdeka beribadah, merdeka di perut, merdeka di hari dan merdeka seluruh nurani anak Bangsa ini.

Merdeka itu ketika lima Pancasila yang kita hafal itu benar benar bisa kita teriakan dan kita dapatkan secara utuh .

Merdeka itu ketika bisa menghidupkan tiap sila itu dengan jiwa merdeka.
Dan tak ada lagi tipu daya .

Merdeka itu ketika kita berani menolak tunduk pada pengusaha yang batil.
Agar kita bisa membingkai merdeka yang utuh sesungguhnya merdeka.

Merdeka itu bukan dalam jeratan.tapi dalam pangkuan perlindungan serta ruang tumbuh yang nyaman .

Kita generasi penerus bangsa harus mampu memaknai kemerdekaan itu, bukanlah sebatas mengibarkan bendera merah putih di tiang melainkan warisan yang harus terus menerus yang tetap kita jaga hingga menutup mata.

Kemerdekaan bukan didapat dengan mudah .
Tapi bercucuran keringat juga air mata darah .

Betapa menakutkan hidup dalam penjajahan juga penindasan.
Ribuan nyawa melayang.

350 tahun lamanya negeri ini dijajah .
Jejak jejak perjuangan akan terus mengukir cerita lama
Akan makna kemerdekaan itu .

Merdeka itu bukan hanya semata perlombaan.
Merdeka itu adalah moments bahwa jangan ada lagi di tanah ibu Pertiwi ini basah karena air mata dan darah.

Kemerdekaan bukan hanya sekadar seremonial belaka saja .
Tapi lihatlah apakah masih ada luka luka panjang?
Merdeka itu adalah situasi bagaimana kita bisa mendapatkan kedamaian, kedaulatan keadilan .

Bisa bersuara lantang keadilan tanpa takut dibungkam .
Merdeka itu bisa memeluk kemakmuran tanpa ketakutan.

Mari kobarkan semangat untuk terus melanjutkan mengisi kemerdekaan ini dengan merawat menjaga keberlangsungan hidup bumi Pertiwi ini yang adil.

Embanlah rasa cinta itu untuk bangsa.
Dengan persatuan memelihara NKRI.

Ini negara kita bersama .
Negeri yang harus terus di jaga .
Agustus harus terus menyala.
Meskipun angin mencoba memadamkannya .

Merah adalah keberanian.
Putih adalah tulang yang suci .

Berkiba lah bendera ku .
Selama doa dan cinta menyatu.
Dari Sabang sampai Merauke.

Kita memang ribuan wajah dan ribuan lidah tapi satu kalimat yang sama selalu kita gema yaitu : Merdeka.

Bhinneka tunggal Ika melambangkan bahwa perbedaan bukan pemisah melainkan kekuatan yang penuh yang disimpulkan dengan kuat .

Bulan Agustus menyelipkan pesan bahwa bangsa besar lahir itu dari perbedaan yang memilih berdiri tegak bersama , bergandengan tangan meskipun badai mencoba memecahkan.

Agustus adalah buku yang tetap terus kita baca berulang-ulang agar tidak lupa kita akan harga sebuah kebebasan.
Bung Karno berkata”
Merdeka adalah emas kini kita berdiri di atas jembatan itu kadang goyah, berguncang namun tetap melangkah ke seberang jika kita berhenti kita akan jatuh lagi ke jurang sejarah.
Dan pengorbanan mereka menjadi sia sia .

Dari itu lah maka
berjanji bahwa Indonesia kita ini akan terus kita jaga dan tak akan hilang.

Jangan padamkan api perjuangan merebut kemerdekaan itu .
Karena ada yang telah berkorban jiwa raga berguguran agar kita bisa berdiri tegak .

Agustus dijaga oleh arwah yang tak ingin dilupakan.
Dan oleh doa doa yang diletakkan dilangitkan.secara diam diam .

Kemerdekaan yang diperjuangkan pada masa lalu ditarik dengan luka .
Bahkan dari makam yang tak bernama.

Dengan slogan merdeka atau mati.
Kemerdekaan sekarang mari kita isi dengan menarik kembali mimpi mimpi yang akan membuat keadilan di bumi Pertiwi.

Delapan puluh tahun telah berlalu sejak merah putih pertama kali berkibar,
namun getarannya masih sama:
detak jantung para pejuang yang kini bersemayam dalam tanah,
berubah jadi denyut kehidupan di dada kita.

Kemerdekaan, bukan sekadar angka dalam kalender,
ia adalah doa yang tak pernah usai dipanjatkan,
ia adalah janji yang mesti kita tepati:
bahwa darah yang tertumpah dulu tak sia-sia,
bahwa luka yang mereka tanggung telah menjadi jalan
untuk kita menapak lebih tegak, lebih berani.

Hari ini, Indonesia berdiri di usia delapan puluh tahun.
bukan sekadar tua,
tetapi matang dengan segala luka dan cinta yang mendewasakan.
Dan kita, anak-anaknya, dititipi satu pesan:
jadilah cahaya, sekecil apa pun,
agar negeri ini tak pernah redup.

Dirgahayu, Indonesia.
Merah putih di dada,
cinta tanah air di jiwa,
dan doa di langit malam:
semoga engkau selalu merdeka,
selalu jaya.

Karena kemenangan bukan siapa yang menjatuhkan siapa .
Tapi siapa yang tidak melepaskan tali persaudaraan dan persatuan.

Negeri ini tumbuh bukan karena per orangan melainkan karena ribuan tubuh yang rela tertindihdemi yang lain sampai ke puncak .

Ada tangan yang saling menopang.ada bahu yang jadi tangga ,punggung yang dipijak bahkan badan badan terasa sakit menahan remuk .

Demi sebuah kemerdekaan maka kebersamaan persatuan itu harus dipupuk dengan kuat.

Karena tidak akan benar-benar kita merasakan kemerdekaan jika negeri ini di kendalikan oleh kepentingan pribadi bahkan hingga akhir zaman , tidak ada kompromi jika yang dijunjung itu adalah korupsi.


17 Agustus 2025.
Aceh , Desa sentosa Beureunuen.
08.00.
Hari Minggu .

Share234SendTweet146Share
Nendawati

Nendawati

Nendawati, lahir di Jakarta 5 Agustus 1985. Ibu rumah tangga juga Persit. Mulai menyukai dunia literasi saat pandemi. Ingin melakukan sesatu yang bermanfaat meskipun sebiji zarrah menulis , demi sebuah peradaban berjihad memerangi porno literasi. Menulis menandai kita ada. Maka, ada yang harus kita wariskan untuk generasi penerus  lewat tulisan, karya yang positif. Berfikir positif agar bisa mengarahkan tindakan tujuan yang bermanfaat untuk sesama.

Next Post
Wajah Negeriku - 2025 08 18 09 47 57 | #Kemerdekaan | Potret Online

Merdeka Dari Apa, Jika Ruang Kelas Sampai Asrama Masih Mencungkil Martabat Anak?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com