• Latest
Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal - 1000463992_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal

Mei 1, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal - 1001348646_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal - 1001353319_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal - 1001361361_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal

Redaksi by Redaksi
Mei 1, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal - 1000463992_11zon | Puisi Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Ririe Aiko

(Puisi esai ini ditulis untuk memperingati Hari Buruh, didramatisasi dari realitas getir meningkatnya kasus Pemutusan Hubungan Kerja massal yang melanda Indonesia pada awal tahun 2025.)

Di hari buruh kali ini
kami tak lagi ingin berteriak.
Napas kami tersengal
di batas akhir kesabaran.

Baca Juga
  • MY FIRST POEMS, FLYING ME TO THE SKY
  • Dokter Spesialis Selangkangan

Masihkah kami didengar
oleh suara-suara yang sibuk di kursi jabatan?
Mereka bilang ini era efisiensi,
tapi mengapa hanya buruh yang harus menyusutkan hidupnya?

Mengapa para petinggi masih bisa menyantap Wagyu, sementara kami hanya sisa harapan palsu?

Baca Juga
  • Menyelamatkan Masa Depan Lewat Arsip
  • Do’a yang Tak Pernah Selesai

Di layar kaca,
Pak Menteri bersabda seakan sedang membacakan puisi:
“Transformasi industri demi kemajuan negeri.”
Kami menunduk.
Di kantong kami tinggal uang receh dan surat PHK
yang dicetak massal, sebagai pemutusan kerja.

Di Karawang, (1)
ratusan buruh pabrik elektronik digiring pulang,
bukan karena acara gathering,
melainkan karena pabriknya kini kosong,
investor pergi tanpa pamit,
setelah memeras habis tenaga buruh.
“Pasar global tak menentu,” katanya.
Tapi kenapa guncangnya hanya kami yang gemetar?

Baca Juga
  • Bangku Besi Perampas Kehidupan
  • Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2)

Di hari buruh,
jalanan dipenuhi sepanduk, peluh, dan teriakan
yang terdengar seperti lagu lama:
“Hidup buruh!”
Tapi siapa yang masih hidup setelah semua ini?
Siapa yang bisa menyebut ‘hidup’
di tengah hidup yang digadai demi subsidi bahan bakar investor?

Lihatlah!
Perusahaan tekstil pailit! (2)
Pabrik sepatu gulung tikar!
Perusahaan bangsa hancur tergusur,
satu per satu pabrik raksasa tutup.
Ekonomi sedang menjerit:
sakit, dan lagi-lagi, kemiskinan bertambah.
Tak ada yang sejahtera,
selain mereka yang berada.

—000—

Para pemangku jabatan sibuk berdiskusi
di hotel bintang lima:
“Bagaimana menyelamatkan iklim investasi?”
Tapi tak satu pun bertanya:
bagaimana menyelamatkan keluarga buruh
yang tersapu badai ekonomi.

Kalian menyebutnya “resesi teknokratik.”
Kami menyebutnya:
kutukan bertahap, tak berdarah,
tapi mematikan kehidupan.

Satu demi satu: kehilangan penghasilan.
Satu demi satu: kelaparan.
Satu demi satu: pendidikan lenyap.
Satu demi satu: tak bisa berobat.

—000—

Di Hari Buruh ini,
kami tak lagi membawa poster.
Kami terlalu lelah berteriak soal kesejahteraan buruh,
sementara yang diteriaki hanya menonton
di balik layar televisi.

Kini,
kami membawa sisa-sisa tenaga
dan setumpuk surat tagihan.

Jika ini yang kalian sebut transisi,
mengapa hanya kami yang berganti status:
dari pekerja
menjadi angka statistik pengangguran? (3)

—000–

CATATAN:

  1. Data PHK massal di Karawang dari pabrik elektronik dirilis oleh Serikat Pekerja Nasional, 2024.
  2. Laporan dari Kompas, Desember 2024, menyebut 26 perusahaan garmen dan alas kaki tutup karena enggan memenuhi upah minimum regional.
  3. Badan Pusat Statistik (BPS), Februari 2025, mencatat lonjakan angka pengangguran terbuka sebesar 1,2% akibat pemutusan hubungan kerja di sektor manufaktur.
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal - REVISI | Puisi Essay | Potret Online

Tips Bijak Menerima Siswa Mutasi: Peran Strategis Wali Kelas dalam Adaptasi dan Pembinaan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com