• Latest

Perbatasan yang Merintih

Juli 27, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Perbatasan yang Merintih - 1001348646_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Perbatasan yang Merintih - 1001353319_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Perbatasan yang Merintih - 1001361361_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Perbatasan yang Merintih

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Juli 27, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah dan Ketua Satupena Kabupaten Blora

Pertikaian perbatasan antara Thailand dan Kamboja yang berlangsung sejak lama kini kembali memanas. Ketegangan kembali muncul setelah bentrokan terjadi beberapa hari lalu sehingga korban jiwa terus bertambah. [1]

“Korban jiwa perang Thailand vs Kamboja terus berjatuhan…”,
kata berita, suatu hari di arsip internet.

Baca Juga
  • Esai dan Sajak Alkhair Aljohore@
  • Palestina, Gencatan Senjata

Aku membaca kalimat itu lagi,
seperti menggali kubur yang tak pernah ditandai.

Angka-angka itu berbaris: 5, 12, 28 …

Baca Juga
  • Wajah Negeriku
  • Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes

Tapi siapa yang menghitung jerit terakhir
sebelum peluru merobek langit perbatasan?

Di sini, di layar ponsel yang hangat,
perang hanyalah headline yang terlambat,
tapi di sana, di tanah yang digaris peta buta,
setiap nama yang hilang adalah api yang membara.

Baca Juga
  • Perempuan Yang Tak Lagi Jadi Tulang Rusuk
  • DUA PUSAI, DUA PENGEYEL

-000-

Aku tidak tahu mengapa harus menembak
orang yang tak kukenal wajahnya.
Kata komandan, mereka ancaman.

Tapi ketika malam tiba,
aku mendengar mereka bernyanyi
dengan suara yang sama seperti ibuku.

Dia menulis itu di buku harian
yang suatu hari akan jadi arsip,
atau mungkin abu.

-000-

Kamboja berkata: “Ini tanah leluhur!”

Thailand menjawab: “Ini warisan kerajaan!”

Lalu mereka bertengkar di atas debu
yang dulunya adalah tubuh nenek moyang.

Di kuil Preah Vihear,
dewa-dewa diam atau pergi,
meninggalkan altar retak
dan bendera yang saling mencakar.

-000-

Dia tidak bisa membaca berita di media digital,
tapi dia tahu arti kehilangan:

“Anakku pergi dengan seragam,
pulang dengan kain putih.

Aku menanam padi di ladang
di mana mayat-mayat masih bersembunyi
di bawah akar.”

-000-

“28 tewas,” kata data.

“28 dunia yang hancur,” bantah suara tanpa wajah.

Statistik tidak menangis,
tapi kuburan-kuburan kecil
tumbuh subur di perbatasan.

-000-

Jika perang adalah bahasa,
maka kita semua bisu.

Jika perbatasan adalah jawaban,
maka pertanyaannya salah.

Aku menutup laman berita itu,
tapi di telingaku masih terdengar
tangisan tanah yang tak selesai
meratap di antara garis-garis peta.


Rumah Kayu, Cepu, 27 Juli 2025

CATATAN:
[1] Puisi ini terinspirasi dari berita tentang konflik Thailand-Kamboja di
https://news.detik.com/internasional/d-8030857/korban-jiwa-perang-thailand-vs-kamboja-terus-berjatuhan/ : tetapi juga tentang semua perang yang terlupakan. Setiap angka adalah kisah. Setiap perbatasan adalah luka.

Share234SendTweet146Share
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Next Post
Perbatasan yang Merintih - 2025 07 19 15 15 31 | Puisi Essay | Potret Online

Sekilas Sejarah Kebudayaan di Nusantara dan Agama

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com