POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Perbatasan yang Merintih

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Juli 27, 2025
in Puisi Essay
0

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah dan Ketua Satupena Kabupaten Blora

Pertikaian perbatasan antara Thailand dan Kamboja yang berlangsung sejak lama kini kembali memanas. Ketegangan kembali muncul setelah bentrokan terjadi beberapa hari lalu sehingga korban jiwa terus bertambah. [1]

“Korban jiwa perang Thailand vs Kamboja terus berjatuhan…”,
kata berita, suatu hari di arsip internet.

Perbatasan yang Merintih - IMG_9086 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
#Korban Bencana
Serakah Teguk Derita
03 Jan 2026

Aku membaca kalimat itu lagi,
seperti menggali kubur yang tak pernah ditandai.

Angka-angka itu berbaris: 5, 12, 28 …

Baca Juga
Puisi Essay
Nyadran di Tanah Doplang
09 Mei 2025

Tapi siapa yang menghitung jerit terakhir
sebelum peluru merobek langit perbatasan?

Di sini, di layar ponsel yang hangat,
perang hanyalah headline yang terlambat,
tapi di sana, di tanah yang digaris peta buta,
setiap nama yang hilang adalah api yang membara.

Perbatasan yang Merintih - 1000486727_11zon | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
POLRI
Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering
08 Apr 2025

-000-

Aku tidak tahu mengapa harus menembak
orang yang tak kukenal wajahnya.
Kata komandan, mereka ancaman.

Tapi ketika malam tiba,
aku mendengar mereka bernyanyi
dengan suara yang sama seperti ibuku.

Dia menulis itu di buku harian
yang suatu hari akan jadi arsip,
atau mungkin abu.

-000-

Kamboja berkata: “Ini tanah leluhur!”

Thailand menjawab: “Ini warisan kerajaan!”

Lalu mereka bertengkar di atas debu
yang dulunya adalah tubuh nenek moyang.

Di kuil Preah Vihear,
dewa-dewa diam atau pergi,
meninggalkan altar retak
dan bendera yang saling mencakar.

-000-

Dia tidak bisa membaca berita di media digital,
tapi dia tahu arti kehilangan:

“Anakku pergi dengan seragam,
pulang dengan kain putih.

Aku menanam padi di ladang
di mana mayat-mayat masih bersembunyi
di bawah akar.”

-000-

“28 tewas,” kata data.

“28 dunia yang hancur,” bantah suara tanpa wajah.

Statistik tidak menangis,
tapi kuburan-kuburan kecil
tumbuh subur di perbatasan.

-000-

Jika perang adalah bahasa,
maka kita semua bisu.

Jika perbatasan adalah jawaban,
maka pertanyaannya salah.

Aku menutup laman berita itu,
tapi di telingaku masih terdengar
tangisan tanah yang tak selesai
meratap di antara garis-garis peta.


Rumah Kayu, Cepu, 27 Juli 2025

CATATAN:
[1] Puisi ini terinspirasi dari berita tentang konflik Thailand-Kamboja di
https://news.detik.com/internasional/d-8030857/korban-jiwa-perang-thailand-vs-kamboja-terus-berjatuhan/ : tetapi juga tentang semua perang yang terlupakan. Setiap angka adalah kisah. Setiap perbatasan adalah luka.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post
Perbatasan yang Merintih - 2025 07 19 15 15 31 | Puisi Essay | Potret Online

Sekilas Sejarah Kebudayaan di Nusantara dan Agama

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah