POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Dari Limbah Menjadi Cinta

Redaksi by Redaksi
Maret 9, 2025
in Puisi Essay
0
Dari Limbah Menjadi Cinta - c24ca38d 6e95 49ba bb6a 062831573db5 | Puisi Essay | Potret Online

Oleh Habibaturrohmah

(Duta Puisi Esai Nasional dari Jawa Tengah) 

Baca Juga
  • Dari Limbah Menjadi Cinta - 8f8c9d08 898d 4718 b745 08d640c03203 | Puisi Essay | Potret Online
    Puisi Essay
    Di Antara Takbir dan Keranda
    23 Mar 2026
  • Dari Limbah Menjadi Cinta - 1000411119_11zon | Puisi Essay | Potret Online
    Puisi Essay
    Kau Harus Menyerah
    13 Mar 2025

Kasus pencemaran lingkungan ini terjadi akibat limbah perusahaan di Kabupaten Pasuruan, pada bulan Oktober 2020 yang disebabkan oleh peningkatan pemahaman perusahaan dalam mengelola limbah serta pengawasan yang lebih ketat terhadap izin lingkungan dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Akibatnya, penutupan usaha karena tidak mematuhi aturan, dan adanya penanganan tegas terhadap pelanggaran limbah B3.

***

Baca Juga
  • Dari Limbah Menjadi Cinta - f8c78e5b 4af6 41e2 8886 1b15d2417635 | Puisi Essay | Potret Online
    POTRET Budaya
    Cut Nyak Meutia: Mutiara yang Tak Pernah Padam
    25 Jan 2025
  • Dari Limbah Menjadi Cinta - 2025 08 10 18 30 10 | Puisi Essay | Potret Online
    Puisi Essay
    Merayakan Kemerdekaan Daripada yang Mana Daripada Siapa Nyang Merdeka
    10 Agu 2025

Di Pasuruan, tanah yang subur,  

Di mana padi bergoyang diterpa angin,  

Baca Juga
  • Dari Limbah Menjadi Cinta - 2025 06 21 14 08 44 | Puisi Essay | Potret Online
    Puisi Essay
    Negeriku Kaya Raya, Tapi Banyak Pencuri
    21 Jun 2025
  • Dari Limbah Menjadi Cinta - 1000387713 | Puisi Essay | Potret Online
    Perempuan
    Opu Daeng Risadju: Nyala Perlawanan di Bumi Celebes
    02 Mar 2025

Di mana sungai mengalir membawa kehidupan,  

Dan di mana langit biru, menjadi saksi sejarah.  

Namun, pada suatu pagi yang kelabu,  

Air sungai itu berubah warna.  

Busa beracun menari di atas permukaannya,  

Udara yang dulu sejuk kini bercampur bau sengit,  

Dan ikan-ikan mengambang tak bernyawa.  

Di antara gemuruh pabrik dan deru mesin,

Tersembunyi jejak-jejak kehidupan yang rapuh.

Limbah yang terbuang, 

Bagaikan luka yang menganga,

Mengalir ke sungai, 

Mengisi bumi dengan penyesalan yang tiada henti

Di antara abu dan limbah yang mencengkeram,  

ada satu cahaya kecil yang menyala.  

Heru, lelaki bersahaja,  

seorang penjaga sungai yang tak kenal lelah.  

Ia bukan pejabat tinggi, 

Bukan pula orang yang berkuasa,  

Hanya seorang anak kampung, yang mencintai tanahnya.  

Tiap pagi ia berjalan di sepanjang Kaliputih,  

Mengamati perubahan yang perlahan membunuh

Ikan yang dulu berenang bebas, 

Kini lenyap.  

Anak-anak yang dulu bermain air, kinipun menjauh.  

“Jika bukan kita yang menjaga, lalu siapa yang akan peduli?” gumamnya.  

Lalu ia mengetuk pintu-pintu hati,  

Menyampaikan kabar buruk yang terbungkus fakta,  

Bahwa limbah bukan sekadar kotoran,  

Melainkan racun, yang merampas masa depan.  

Menghimpun kekuatan untuk menata kembali 

Yang t’lah hilang

Suaranya menjadi gemuruh di antara masyarakat,  

Menggugah mereka yang lama tertidur.  

Para ibu berhenti mencuci di sungai,  

para bapak mulai bertanya kepada pemimpin.  

Desakan demi desakan mengalir deras,  

seperti air yang mencari jalannya sendiri.  

Pemerintah tak lagi bisa menutup mata.  

Polres Pasuruanpun kini turun tangan,  

Mengusut izin yang tak pernah ada,  

Menutup pabrik yang melanggar aturan

PT. yang dulu megah, kini hanya bangunan kosong

Namun lebih dari itu,  

Ini bukan sekadar tentang satu pabrik,  

Ini adalah tentang kesadaran,  

Tentang janji yang harus ditepati.  

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu,  

Harapan tumbuh dari reruntuhan kesalahan.  

Sungai Kaliputih mulai berbisik lagi,  

Menceritakan kisah tentang pemulihan.  

Pohon-pohon ditanam di tepiannya,  

Ikan-ikan kecil mulai kembali.  

Anak-anak tertawa, berlari di sepanjang sungai,  

Tanpa takut, air yang meracuni mereka kembali

Heru masih berjalan di tepinya,  

Namun kali ini, bukan dalam kesedihan,  

Melainkan dalam kebanggaan.  

Bahwa dari limbah, bisa tumbuh cinta.  

Bahwa dari kegelapan, bisa lahir cahaya.  

Bahwa dari kesalahan, bisa hadir perubahan.  

Karena Pasuruan bukan sekadar tanah,  

Bukan sekadar sungai yang mengalir,  

Ia adalah rumah yang harus dijaga

Dan dirawat sebaik mungkin

***

Catatan kaki: https://www.pasuruankab.go.id/isiberita/kasus-pencemaran-lingkungan-akibat-limbah-perusahaan-di-kabupaten-pasuruan-semakin-menurun

Previous Post

Dagelan Hukum di Pengadilan

Next Post

Menggapai Prestasi

Next Post
Dari Limbah Menjadi Cinta - WhatsApp Image 2025 02 09 at 04.10.53_2fdc9cbf | Puisi Essay | Potret Online

Menggapai Prestasi

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah