• Latest
Ketika Sastra Terasa Menakutkan bagi Generasi Muda - de4d6b39 9a04 4e54 bf09 cfb247d01682 | Apresiasi Sastra | Potret Online

Ketika Sastra Terasa Menakutkan bagi Generasi Muda

Oktober 29, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ketika Sastra Terasa Menakutkan bagi Generasi Muda

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Oktober 29, 2025
in Apresiasi Sastra, Kritik Sastra, Puisi Essay, Sastra
Reading Time: 3 mins read
0
Ketika Sastra Terasa Menakutkan bagi Generasi Muda - de4d6b39 9a04 4e54 bf09 cfb247d01682 | Apresiasi Sastra | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Tanggapan atas tulisan Mila Muzakkar “Beginikah Wajah Lain Sastrawan Indonesia?”

Oleh Ririe Aiko

Membaca tulisan Mila Muzakkar yang berjudul Beginikah Wajah Lain Sastrawan Indonesia? membuat saya terdiam cukup lama. Ada rasa heran, sekaligus getir, melihat bagaimana ruang sastra yang seharusnya menjadi tempat paling teduh bagi dialog dan empati justru diwarnai oleh arogansi.

Saya memang tidak hadir langsung di konferensi pers BRICS Literary Award di Taman Ismail Marzuki itu. Namun, membaca catatan Mila membuat saya seperti ikut menyaksikan sendiri bagaimana sekelompok orang yang mengaku mewakili “sastrawan Indonesia” meneriakkan penolakan, bahkan merebut mikrofon, hanya karena tidak sepakat dengan satu nama kandidat — Denny JA.

Sebagai seseorang yang sudah lama menulis, tapi baru beberapa tahun terakhir mengenal dunia sastra secara lebih serius, saya merasa perlu menyampaikan pandangan. Dunia literasi bagi saya adalah rumah belajar yang luas. Saya menulis sejak SMP, diawali dengan fiksi, lalu berkembang ke esai dan tulisan-tulisan reflektif. Namun, baru di pertengahan 2024 saya benar-benar jatuh cinta pada puisi esai — sebuah genre yang memadukan keindahan bahasa, refleksi sosial, dan kedalaman analisis.

Melalui bimbingan para senior yang sabar, saya belajar memahami bahwa puisi bukan hanya tentang kata-kata indah, tapi tentang menghadirkan kesadaran manusiawi. Hingga pada awal 2025, saya berkesempatan menjadi salah satu pemenang lomba puisi esai tingkat ASEAN. Dari situ saya paham, puisi esai bukan sekadar karya estetis, tapi media yang membangkitkan nurani sosial.

Sosok Denny JA sebagai penggagas puisi esai bukan hanya dikenal karena kiprah intelektualnya dalam memperkaya khazanah sastra Indonesia, tetapi juga karena perannya membuka ruang bagi generasi muda untuk tumbuh. Melalui karya dan ekosistem yang ia bangun, Denny JA memberi tempat bagi penulis pemula untuk belajar, berekspresi, dan menumbuhkan kecintaan pada sastra tanpa sekat maupun diskriminasi.

Saya pribadi, sebagai anak bawang di dunia sastra, dibimbing dengan sangat baik oleh beliau saat menyusun buku puisi esai Sajak dalam Koin Kehidupan. Beliau memberikan kritik yang membangun—tidak mencemooh atau mematikan semangat penulis muda dalam berkarya. Sebaliknya, ia justru menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya penulis-penulis baru.

Itu sebabnya, ketika mendengar kabar ada sastrawan senior yang menolak namanya sebagai kandidat penghargaan internasional dengan cara yang tidak elok, saya tidak hanya kecewa, tapi juga miris. Bukankah sastra seharusnya menjadi ruang perenungan dan empati, bukan ajang untuk saling menjatuhkan?

Mila benar ketika menulis bahwa dunia sastra sering dianggap sebagai tempat lahirnya orang-orang berhati lembut, berwawasan luas, dan berjiwa empatik. Tapi, apa jadinya jika wajah sastra justru tampil penuh caci? Bagaimana generasi muda bisa tertarik mencintai sastra bila yang mereka lihat hanyalah debat tak berujung dan sikap merasa paling benar?

Sejujurnya, saya pribadi pernah mengalami hal serupa — menjadi sasaran komentar tajam dari seorang sastrawan senior. Kritik bukanlah masalah. Tapi ketika kritik berubah menjadi penghinaan, di situ saya melihat wajah lain dunia sastra yang menyedihkan. Padahal, bukankah yang disebut “senior” seharusnya menjadi guru yang mengayomi, bukan penghakim yang menakutkan?

Sastra, bagi saya, bukanlah arena untuk menguji siapa yang paling pintar atau paling layak disebut “sastrawan sejati.” Sastra adalah ruang berbagi rasa, ruang tumbuh bersama. Ketika kita menulis, kita sedang memahat empati. Ketika kita membaca, kita sedang menumbuhkan kesadaran.

Maka, melihat peristiwa di TIM itu, saya ingin mengulang pertanyaan Mila dengan sedikit penyesuaian: Beginikah wajah sastra yang ingin kita wariskan pada generasi setelah kita?

Jika jawabannya tidak, maka sudah saatnya dunia sastra berbenah. Mulailah dengan cara yang sederhana: saling menghormati. Tidak perlu sepakat terhadap semua hal, karena perbedaan itu hal yang wajar dan harus dihargai. Tapi mari belajar menyampaikan perbedaan dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.

Generasi muda hari ini mencari nilai, bukan sekadar nama besar. Mereka lebih tertarik pada karya yang berdampak, bukan pada perdebatan yang membingungkan. Kalau sastra terus menjadi ruang yang penuh intrik dan caci maki, jangan salahkan mereka bila lebih memilih berdialog dengan AI daripada membaca karya sastra kita.

Sastra seharusnya menjadi cermin kemanusiaan, bukan panggung ego. Biarkan ia dikenalkan dengan indah pada generasi selanjutnya, sebagai warisan yang menumbuhkan empati dan menginspirasi kebaikan.

Share234SendTweet146Share
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Next Post
Ketika Sastra Terasa Menakutkan bagi Generasi Muda - 335460c7 f601 49e8 a844 b4b746130bae | Apresiasi Sastra | Potret Online

Penghargaan PIN  Sikap Siswa SDIT An Nur, Pidie Jaya

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com