• Latest
Selembar Ijazah Tanpa Koneksi - 22d7573b 709a 4395 8b6a 4ea3afd28e45 | Puisi Essay | Potret Online

Selembar Ijazah Tanpa Koneksi

Maret 8, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Selembar Ijazah Tanpa Koneksi - 1001348646_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Selembar Ijazah Tanpa Koneksi - 1001353319_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Selembar Ijazah Tanpa Koneksi - 1001361361_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Selembar Ijazah Tanpa Koneksi

Redaksi by Redaksi
Maret 8, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Selembar Ijazah Tanpa Koneksi - 22d7573b 709a 4395 8b6a 4ea3afd28e45 | Puisi Essay | Potret Online

Ilustrasi

585
SHARES
3.2k
VIEWS


Penulis : Ririe Aiko

(Fenomena sulitnya mendapatkan pekerjaan di Indonesia salah satunya disebabkan karena persyaratan yang tidak masuk akal) (1)

Baca Juga
  • Secangkir Teh, Sejumput Doa
  • Wajah Negeriku

Di sebuah desa kecil,
Arif lahir di rumah berdinding bambu,
anak petani sayur yang percaya,
bahwa ilmu adalah jalan menuju pintu kesuksesan.

Di kota, ia mengeja mimpi,
menjadi bintang di langit kelas,
cumlaude tertulis di ijazahnya,
seperti kunci emas,
yang katanya bisa membuka pintu kemakmuran.

Baca Juga
  • Do’a yang Tak Pernah Selesai
  • Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan

Dengan harapan setinggi menara,
ia mulai menyusun satu persatu surat lamaran,
Melampirkan berbagai sertifikat penghargaan
dari Sekolah Dasar hingga Universitas.
Prestasi yang selangit,
membuatnya layak mendapat gaji dua digit.

Ia mencetak mimpi di kertas A4,
mengirimnya ke gedung-gedung tinggi,
perusahaan elit dan bonafit,
dengan harapan,
seseorang membaca dan berkata,
“Ini dia anak bangsa yang kita cari!”

Baca Juga
  • Pengantar Buku Puisi Esai “ Karena Perempuan, Aku Di-Cancel
  • Di Balik Hutan Ia Menyembunyikan Kegagalannya

Tapi realita berwajah lain.
Di ruang wawancara, ia bukan lagi Arif si cerdas,
ia hanya seorang pemuda tanpa pengalaman,
tanpa relasi, dengan wajah pas-pasan.

“Maaf, kami mencari yang sudah berpengalaman,”
kata HRD sambil tersenyum miris.
Arif mulai bertanya pada dunia,
“Kalau semua mencari yang berpengalaman,
dari mana aku harus mulai mendapatkannya?”

Arif tak berhenti disitu,
Ia terus mencoba lagi,
Mengajukan lamaran di bidang lain,
Kali ini penolakan yang berbeda, (2)
“Maaf, penampilan Anda kurang menarik,”
katanya sambil menatap pas photo di CV-nya.

Arif tertawa pahit,
Logikanya berantakan mencari korelasi,
antara pentingnya berwajah menari,
dengan kecerdasan fisik.
Seolah angka-angka di selembar ijazah,
Tak lebih berharga daripada persyaratan absurd,
yang dibuat para penguasa,

Sampai Hari berganti, bulan berlalu,
Ratusan lamaran hanya menambah beban sampah dalam berita,
Arif bukan di usia muda lagi,
Semakin sulit ia diterima,

lima tahun telah menyapu ambisi,
Arif bukan lagi pelamar kerja,
ia kini tukang fotokopi di sudut jalan kota.
Penghasilan recehan ia dapat,
dari mencetak berkas-berkas lamaran,
bukan untuk dirinya, tapi untuk mereka yang datang setelahnya,
yang masih percaya bahwa ijazah adalah kunci,
padahal kenyataan sudah lama menggantinya dengan ‘siapa yang kau kenal di perusahaan?’

Arif yang sekarang mulai pasrah
Menyerah pada pekerjaan impiannya,
Ia sadar tak semudah itu menjadi sesuatu,
Di negara yang penuh budaya nepotisme

Di desa, ibunya masih berdoa,
menanam harapan di antara ladang sayur,
berharap anaknya pulang membawa kabar,
bahwa ilmunya tidak sia-sia.

Tapi negeri ini sudah menjawab,
di tanah yang menjual mimpi sebagai barang dagangan,
Arif hanyalah pelanggan yang tak mampu membeli,
meski ia telah membayar ilmu,
dengan separuh hidupnya.

—–000—–

CATATAN
(1)https://radarsukabumi.com/rubrik/artikel/sulitnya-mendapatkan-pekerjaan-di-indonesia-karena-persyaratan-lowongan-kerja-yang-tidak-masuk-akal/?utm_sourc
(2)https://www.liputan6.com/hot/read/4325685/6-syarat-nyeleneh-di-lowongan-kerja-ini-bikin-tepuk-jidat?utm_source

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Selembar Ijazah Tanpa Koneksi - 1000398313 | Puisi Essay | Potret Online

Sajak-Sajak Sampena

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com