• Latest
Kuliner Tradisional Situbondo, “Nasek Sodu” dan Negeri di Ambang Krisis - a68ff7be 2273 4e76 9b83 d7cda187912e | Puisi Essay | Potret Online

Kuliner Tradisional Situbondo, “Nasek Sodu” dan Negeri di Ambang Krisis

Oktober 30, 2025
825dc53a-9479-4a3d-9c57-553e51642f7e

Hari Pertama yang Terakhir

April 24, 2026
87dee712-0548-433f-a26d-23c41a9e9f00

Gencatan Senjata Perang Iran yang Penuh Pelanggaran

April 24, 2026
085066ea-362a-46bd-8029-20b521d85ccd

Nama JK Semakin Berkibar Usai Nyenggol Ijazah Jokowi dan Dilaporkan Kader PSI ke Polisi

April 24, 2026
IMG_0518

Aceh Bisa Merdeka Tanpa GAM

April 24, 2026
Ilustrasi ayah dan anak bermain bersama menunjukkan peran ayah dalam perkembangan anak

Mengapa Ivan Illich Mengajak Kita Berhenti Memuja Sekolah

April 23, 2026
Ilustrasi kerumunan orang menatap ponsel di bawah panggung politik dengan figur pemimpin yang dikendalikan seperti boneka oleh tangan besar di atasnya, menggambarkan manipulasi, popularitas, dan hilangnya akal sehat dalam demokrasi.

Menuju Bangsa Goblok (MBG)

April 23, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
Jumat, April 24, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Kuliner Tradisional Situbondo, “Nasek Sodu” dan Negeri di Ambang Krisis

Anies Septivirawan by Anies Septivirawan
Oktober 30, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Kuliner Tradisional Situbondo, “Nasek Sodu” dan Negeri di Ambang Krisis - a68ff7be 2273 4e76 9b83 d7cda187912e | Puisi Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

‎
‎
‎Oleh Anies Septivirawan|

Penulis
‎
‎
‎Langit siang di kecamatan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur cerah. Cuaca panas. Angin kencang nan kering menghempas sebagian sampah plastik di jalanan aspal berlubang.
‎
‎Di suatu siang, akhir bulan September. Panas menyengat. Panas matahari membakar aspal badan jalan, panasnya memantul dan memanggang wajahku. Perutku kosong.  Udara tidak bersahabat.
‎
‎Aku menghentikan laju motor, menepi ke pinggir jalan di sebuah kecamatan di kabupaten Situbondo sebelah timur.  Kugeletakkan motor di bawah pohon Cemara yang di sebelahnya terparkir sebuah gerobak berisi makanan khas Asembagus. Makanan khas itu bernama “Nasek Sodu”.
‎
‎Aku memesan secangkir kopi pahit dan sepiring makanan khas Asembagus, “Nasek Sodu” kepada sang pria setengah baya yang baru bangun dari tidurnya di atas lincak kayu setengah reot. 
‎
‎Sejak tadi, dari jauh kulihat pria itu tampaknya tertidur pulas, damai dan tidak peduli pada dagangannya yang sepi karena tidak ada pembeli.
‎
‎Hanya aku saja yang kini duduk sebagai pembeli yang lapar. Duduk di hadapan gerobak berisi dagangan kuliner khas Asembagus itu. 
‎
‎Tempat dagangan pria itu sejuk karena dipayungi pohon Cemara meskipun sedikit bising suara kendaraan jurusan Surabaya – Banyuwangi dan sebaliknya.
‎
‎Di kecamatan Asembagus ini, tempat lahirnya kuliner khas bernama Nasek Sodu. Dan para penjualnya bertebaran di seluruh antero Asembagus, bahkan sebagian ada juga di Situbondo kota. Namun aku tidak tahu persis, sejak kapan kuliner khas Asembagus ini booming dan digandrungi banyak orang dari berbagai daerah luar Situbondo.
‎
‎Yang hanya aku tahu dan aku rasakan Nasek Sodu ini sudah sejak ada ketika aku masih bersekolah. Meskipun rumahku di kota, aku sering mencicipi di warung – warung kecil saat aku bolos sekolah. Sampai hari ini, sampai saat ini, sampai usiaku menginjak 56 tahun, aku tidak pernah lupa pada rasa Nasek Sodu.
‎
‎Aku bertanya kepada sang pria penjual Nasek Sodu yang baru terbangun dari tidur lelapnya itu,
‎
‎”Sudah berapa lama berjualan Nasek Sodu, mas?”  tanyaku.
‎
‎”Sudah agak lama juga, ” jawabnya.
‎
‎”Dulu, saya sering makan nasek sodu di sebelah gerobak ini,” ujarku sembari jemariku menunjuk ke arah sebelah gerobak.
‎
‎”Oh…iya …itu dulu yang jualan adalah paman saya dan istrinya. Tapi mereka berdua sudah lama pergi dan bekerja di negeri Jiran, Malaysia sepuluh tahun lalu. Dan setelah itu saya tidak mendengar kabarnya lagi tentang paman dan istrinya,”  ujar sang pria setengah gondrong seraya matanya menyapu pandang pada sebuah benda berupa meja panjang dan deretan kursi kayu usang nan lapuk.
‎
‎Ekspresi wajah sang pria seolah memaparkan gambaran berpuluh tahun lalu saat pamannya berjualan kuliner khas yang kini sudah jadi ikon Situbondo.
‎
‎”Paman saya dan istrinya adalah orang pertama yang berjualan Nasek Sodu di kecamatan ini, setelah itu semakin banyak orang yang ikut – ikutan membuka warung  dan menjual Nasek Sodu yang harganya bervariasi, dan warungnya semakin hari semakin banyak saingan akhirnya sepi pengunjungnya, sementara mereka berdua menanggung beban kedua putranya yang kuliah dan yang bungsu masih SMP kala itu.
‎
‎Warung itu pun tutup, ditinggal bekerja ke luar negeri,” papar pria itu dengan suara lirih yang dilumat suara bising kendaraan di jalan raya provinsi jurusan Banyuwangi – Surabaya. 
‎
‎Meskipun sudah banyak para penjual Nasek Sodu yang bermuara pada persaingan dan faktor adu keberuntungan, gerobak Nasek Sodu milik sang pria gondrong itu tampaknya masih berdiri kokoh setiap hari di tempat itu. Di bawah pohon Cemara berdaun hijau. Di sisi selatan jalan lampu merah, simpang tiga menuju pelabuhan Jangkar.  .
‎
‎Kokoh dan masih berdiri, tampak berjualan.  Gerobak itu terbukti setiap pagi kulihat saat aku melintas di jalan itu. Kendati hanya satu atau dua orang saja yang membeli. Produk dagangan si pria itu masih bertahan. Meski negeri ini katanya sudah diambang krisis parah, namun daya beli penikmat Nasek Sodu masih kurasa kuat.  
‎
‎
‎Situbondo, 30 Oktober 2025

Baca Juga
  • Sebait Puisi, Secangkir Kopi
  • Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan
Share234SendTweet146Share
Anies Septivirawan

Anies Septivirawan

Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"

Next Post
Kuliner Tradisional Situbondo, “Nasek Sodu” dan Negeri di Ambang Krisis - cd37c54e 62bc 4843 a5cf fbf3c88de9bb | Puisi Essay | Potret Online

Politik Token Listrik

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com