POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home POTRET Budaya

Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan

Redaksi by Redaksi
Januari 22, 2025
in POTRET Budaya, Puisi Essay, Sastra
0
Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan - 7cff1bac 8d15 4a90 bf36 7d06f5cacd91 | POTRET Budaya | Potret Online

 

Oleh Mila Muzakkar

(Puisi esai ini terinspirasi dari pengalaman Penulis saat mengalami hari pertama menstruasi, serta pengalaman para perempuan di seluruh dunia).
***

Baca Juga
  • 01
    Aceh
    TRADISI ACEH ‘MAKMEUGANG’ TETAP TERJAGA DI PADANGPANJANG
    01 Mei 2022
  • 02
    Abdya
    Malam
    29 Mar 2022

Penelitian UNICEF di Indonesia, di Indonesia Timur khususnya, menyebutkan 1 dari 7 perempuan yang mengalami menstruasi tidak pergi ke sekolah selama menstruasi berlangsung, meninggalkan kelas dan berujung tidak naik kelas, bahkan putus sekolah.
***

Kring… kring… kring…
Lonceng emas di sudut sekolah berbunyi,
Pertanda jeda dari pena dan kertas.
Pintalan karet-karet gelang telah siap di laci bangku.
Aku dan temanku tak sabar bermain lompat tali di lapangan sekolah.

Baca Juga
  • Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan - b2e87dd7 a4e0 4f1d bc1c edfe1793b7e7 | POTRET Budaya | Potret Online
    POTRET Budaya
    RINDU REMBULAN
    10 Jan 2024
  • 02
    POTRET Budaya
    Air Mata Mata Air
    29 Jan 2022

“Ecce, ada darah di rokmu,” teriakan itu menghentikanku.
Nina memegang tanganku, Lalu memeriksa rok putihku.
Hari itu, bukan merah putih yang kupakai. Tapi seragam batik dengan rok putih tulang.

“Darah apa? Saya tidak sakit apa-apa,” agak heran, tapi santai saja aku menjawabnya.

Baca Juga
  • Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan - b5b063ec 3b6d 49b8 a0eb 2787d50bab87 | POTRET Budaya | Potret Online
    Blora
    Duta Puisi Esai Nasional dari Jawa Tengah Sosialisasikan Puisi Esai di Blora, Jawa Tengah
    14 Jan 2025
  • 02
    Puisi
    Terima Kasih DPR
    25 Agu 2017

“Oh, accera’moko (1) kapang.”
“Baru kelas 5 SD accera’mi,
Edede…jabena (2)
Teriakan-teriakan teman sekelas menusuk, menghantam dinding telingaku.

Bocah laki-laki tak mau ketinggalan.
Bak bertemu mangsa daging gemuk nan segar,
segera ia menerkam.
“Jabena inne bainea (3).
Nia’mo kapang (4) cowokna,”
Terbahak-bahak mereka.

Bergemuruh hatiku.
Belum juga aku mencerna asal-muasal cairan merah ini,
sekonyong-konyong stempel “jabe” menempel di jidatku.
Bagai noda hitam, kelam, busuk.

Aku tahu betul,
Jabe adalah cap negatif yang selama ini dilekatkan pada perempuan.
Perempuan jabe jauh dari kesucian,
lumbung nafsu dan birahi,
Kepada tuan-tuan,
tubuh dijajakan gratis.

Bercak-bercak merah membentuk bulatan kokoh di rokku,
Memintal-mintal tali stigma.
Stigma tentang perempuan yang tidak benar, nakal, centil, kegatelan, kotor, menjijikkan.

Bangsat!
Tolol!

Hei, sadarlah bro!
Bisikan-bisikan syetan terlalu meninabonokkanmu.
Katanya, darah perempuan haram mengalir di rumah Tuhan.
Katanya, perempuan berdarah baik diasingkan ke gunung Himalaya.

Hei, bangun dong Sist!
Syetan-syetan itu terlalu melenakanmu.
Menenggelamkan wahyu Tuhan,
yang penuh kasih membuka rumah-Nya
untuk semua umat manusia.

Tak tahukah mereka darah yang mengalir dari vagina itu adalah wahyu Tuhan?
Bukan perempuan punya mau.
Tak pernah pula perempuan memintanya.

Pura-pura butakah mereka menyaksikan dahsyatnya rasa sakit perempuan,
hingga tak sadarkan diri,
karena darah merah itu?
Roda kehidupan terhenti,
Sekolah, bekerja, bahkan makan pun tak lagi mampu.

Sekali sebulan,
perempuan dengan ikhlas menerima dan menjalani takdir menstruasi itu dari Pencipta-Nya.

Tak tahukah mereka darah yang mengalir dari vagina itu yang menguatkan dinding rahim,
tempat para manusia penghuni dunia dilahirkan?
Darah merah itulah yang meng “adakan” milyaran khalifah di hamparan dunia yang fana ini.

Darah merah itu,
Adalah bahasa Tuhan menghamparkan simbol Ketuhanan-Nya,
Simbol kekuatan perempuan,
Yang mustahil ada pada makhluk lainnya.

“Darah perempuan ada, maka manusia ada.”
Jika bukan karena darah merah yang mengalir itu,
Keberadaan para lelaki,
hanyalah mimpi di siang bolong.

Darah perempuan ada, maka peradaban ada.”
Jika bukan karena darah merah yang mengalir itu,
Peradaban kuno di Yunani hingga revolusi Industri di Inggris,
hanyalah dongeng belaka.

 

*CATATAN*

1. Accera’ dalam bahasa Makassar berarti berdarah atau menstruasi. Accera’moko kapang: mungkin kamu sudah menstruasi.
2. Edede, dalam bahasa Makassar berarti: ya ampun. Jabena, dalam bahasa Makassar berarti: kecentilan dalam arti negatif.
3. Jabena inne bainea, dalam bahasa Makassar berarti: centil banget nih perempuan
4. Nia’mo kapang cowoknya: mungkin dia sudah punya pacar. Kalimat yang mengarah pasa stigma perempuan yang nakal dan centil pada laki-laki.
5.https://hellosehat.com/wanita/menstruasi/darah-haid-itu-darah-kotor/

Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRETPerempuan
Previous Post

Manfaat dan Tantangan Gadget bagi Perkembangan Anak

Next Post

Peunajoh Prang

Next Post
Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan - Bu Indra | POTRET Budaya | Potret Online

Peunajoh Prang

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah