• Latest
Kunikahi Kamu Secepat Argo Bromo, Kuceraikan Kamu Secepat Sembrani - 2025 05 15 10 03 05 | Cerpen Remaja | Potret Online

Kunikahi Kamu Secepat Argo Bromo, Kuceraikan Kamu Secepat Sembrani

Mei 15, 2025

Mengapa Ivan Illich Mengajak Kita Berhenti Memuja Sekolah

April 23, 2026
Ilustrasi kerumunan orang menatap ponsel di bawah panggung politik dengan figur pemimpin yang dikendalikan seperti boneka oleh tangan besar di atasnya, menggambarkan manipulasi, popularitas, dan hilangnya akal sehat dalam demokrasi.

Menuju Bangsa Goblok (MBG)

April 23, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Kunikahi Kamu Secepat Argo Bromo, Kuceraikan Kamu Secepat Sembrani - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Cerpen Remaja | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Kunikahi Kamu Secepat Argo Bromo, Kuceraikan Kamu Secepat Sembrani

PD Hendriyatmoko by PD Hendriyatmoko
Mei 15, 2025
in Cerpen Remaja
Reading Time: 3 mins read
0
Kunikahi Kamu Secepat Argo Bromo, Kuceraikan Kamu Secepat Sembrani - 2025 05 15 10 03 05 | Cerpen Remaja | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Hendriyatmoko
Guru SMK Muda Cepu dan Anggota Satupena Kabupaten Blora

Tomi berdiri di pelataran stasiun, mengenakan jas sederhana namun rapi. Sinar matahari sore menyentuh wajahnya yang tampak bimbang. Di sampingnya, Isma dan Bara menepuk bahunya, memberi semangat.

Baca Juga
  • Raffa, Pena, dan Sunyi yang Bernyanyi
  • Jayapura

“Kamu yakin, Mi?” tanya Bara.

Tomi mengangguk, meski tak sepenuhnya yakin. “Kata orang cinta itu kadang harus dikejar secepat kereta. Dan aku… aku memilih Argo Bromo.”

Baca Juga
  • Air Wudhu Sang Ibu
  • Malaikat Penolong

Dua bulan lalu, Tomi baru mengenal Tantri—wanita cantik dan mandiri yang dikenalkan oleh Yuli, teman kuliahnya. Sejak pertemuan pertama, hubungan mereka tumbuh cepat. Terlalu cepat. Dalam waktu tiga minggu, Tomi melamar.

“Kamu kayak orang kesambet, Mi,” cibir Lili waktu itu. “Cinta itu nggak bisa buru-buru.”

Baca Juga
  • KAMU HEBAT DENGAN BAKATMU
  • Anak Pertama Tidak Harus Sempurna

Tapi Tomi tak peduli. Ia yakin, Tantri adalah jawabannya.

Pernikahan mereka digelar sederhana. Karno, ayah Tantri, terlihat terkejut tapi tak bisa menolak karena Tantri sendiri yang mendesak. Semua serba kilat, seperti Argo Bromo yang melaju nyaris tanpa jeda dari Jakarta ke Surabaya.


Namun secepat itu pula badai datang.

Tantri ternyata bukan orang yang mudah diajak kompromi. Ia keras kepala, dominan, dan sering meledak karena hal-hal kecil. Tomi yang terbiasa lembut dan tenang, mulai kelelahan.

“Kenapa kamu nggak pernah nurut kalau aku bilang sesuatu?” bentak Tantri suatu malam.

“Karena aku bukan robot, Tantri. Aku suami kamu, bukan pelayan.”

Pertengkaran demi pertengkaran terjadi. Santi, sahabat Tantri, mencoba menengahi. Wawan, sahabat Tomi, juga menasihati agar bersabar.

Tapi hubungan mereka sudah terlalu retak. Seperti rel yang berguncang hebat ketika roda tak lagi seirama.

Dan pada bulan ketiga, Tomi akhirnya berkata pelan, namun tegas.

“Maaf, Tantri. Mungkin memang ini salah. Kita terlalu cepat. Aku menikahimu secepat Argo Bromo, dan kini… aku menceraikanmu secepat Sembrani.”

Tantri menatap kosong. Tak menangis, hanya diam. Ia tahu, semuanya terburu-buru. Hubungan yang cepat datang, kadang memang cepat pula pergi.


Di stasiun yang sama, enam bulan kemudian, Tomi berdiri sendiri lagi. Ia melihat kereta lewat, membawa cerita-cerita manusia yang tak selalu indah.

Isma mendekat. “Masih percaya cinta?”

Tomi tersenyum tipis. “Aku percaya. Tapi kali ini, aku nggak akan pakai kereta cepat. Mungkin cukup jalan kaki saja.”

Isma tertawa pelan. “Jalan kaki pun asal searah, bisa sampai juga.”

Dan Tomi tahu, hidup memang bukan soal cepat-cepatan. Tapi tentang arah yang benar, dan teman perjalanan yang sejiwa.

Share234SendTweet146Share
PD Hendriyatmoko

PD Hendriyatmoko

P.D. Hendriyatmoko lahir di Blora pada tahun 1975. Ia merupakan alumnus Universitas Widya Gama Malang, jurusan Teknik Elektro. Meskipun berlatar belakang pendidikan teknik, Hendriyatmoko memiliki minat besar terhadap dunia seni, khususnya seni menulis. Semasa kuliah, ia aktif mendalami seni penyiaran, karawitan, dan pewayangan yang semakin memperkaya wawasan dan pengalamannya dalam bidang seni. Ia pernah menekuni dunia penulisan cerpen, meski karyanya belum sempat terpublikasi di media, baik daring maupun cetak. Baru pada tahun 2024, Hendriyatmoko kembali mencoba menulis dan, berkat dorongan serta bantuan dari Mas Gunawan, salah satu karyanya berhasil terbit di media online. Semangatnya untuk terus berkarya menjadi bekal penting dalam perjalanan kreatifnya.

Next Post
Kunikahi Kamu Secepat Argo Bromo, Kuceraikan Kamu Secepat Sembrani - 1000579147_11zon | Cerpen Remaja | Potret Online

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com