• Latest
Tadarus – QS Al-Mā’idah ayat 8 - 1001320304_11zon | Islam | Potret Online

Tadarus – QS Al-Mā’idah ayat 8

Maret 4, 2026
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
Tadarus – QS Al-Mā’idah ayat 8 - IMG_9514 | Islam | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Tadarus – QS Al-Mā’idah ayat 8

Redaksi by Redaksi
Maret 4, 2026
in Islam
Reading Time: 3 mins read
0
Tadarus – QS Al-Mā’idah ayat 8 - 1001320304_11zon | Islam | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Ada satu jenis keadilan yang mudah: keadilan kepada mereka yang kita cintai. Dan ada satu jenis keadilan yang hampir mustahil: keadilan kepada mereka yang melukai kita.

QS Al-Mā’idah ayat 8 berbicara tentang yang kedua. Ayat ini tidak lahir di ruang hening. Ia turun di Madinah, di tengah ketegangan politik, pengkhianatan, dan perbedaan iman. Namun yang diperintahkan bukan pembalasan, bukan dominasi, bukan kemenangan moral atas lawan. Yang diperintahkan adalah sesuatu yang jauh lebih berat: adil.

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.”

Kalimat ini seperti memindahkan pusat pertempuran dari luar ke dalam. Musuh terbesar bukan lagi kelompok lain — tetapi kecenderungan batin untuk membenarkan diri sendiri.

Dalam tradisi tafsir klasik seperti Tafsir al-Tabari dan Tafsir Ibn Kathir, ayat ini dipahami sebagai perintah universal: keadilan tidak gugur hanya karena relasi sosial rusak. Bahkan terhadap musuh, integritas harus dijaga.

Namun jika kita membacanya lebih dalam, ayat ini tidak hanya berbicara tentang hukum. Ia berbicara tentang kesadaran.

Mengapa Allah menutup ayat ini dengan kalimat: “Adil itu lebih dekat kepada takwa”? Karena keadilan dalam Islam bukan sekadar prosedur legal. Ia adalah disiplin spiritual.

Takwa bukan hanya takut kepada Tuhan. Takwa adalah kemampuan menjaga jarak antara emosi dan keputusan. Antara luka dan vonis. Antara amarah dan kesimpulan.

Filsuf Yunani seperti Plato berbicara tentang keadilan sebagai harmoni jiwa. Filsuf modern seperti John Rawls membayangkan “tirai ketidaktahuan” agar manusia bisa memutuskan secara objektif.

Namun Al-Qur’an melangkah lebih jauh: Ia tidak hanya mengatur sistem. Ia menata hati.

Dalam hadis sahih yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, Nabi ﷺ menolak membedakan hukum antara bangsawan dan rakyat biasa. Itu bukan hanya tindakan politik; itu adalah konsistensi moral. Sunnah menjadi bukti bahwa ayat ini bukan idealisme utopis — tetapi realitas yang bisa diwujudkan.

Hari ini, kita hidup dalam ekosistem yang mempercepat kebencian. Algoritma memperkuat preferensi. Identitas menggantikan argumentasi. Opini sering lahir sebelum verifikasi. QS Al-Mā’idah ayat 8 berdiri seperti cermin:

Apakah kita membela kebenaran — atau hanya membela kelompok? Apakah kita mencari keadilan — atau hanya mencari kemenangan?Keadilan sejati sering kali tidak terasa heroik. Ia sunyi. Ia tidak viral. Ia bahkan bisa membuat kita terlihat lemah di hadapan kelompok sendiri. Tetapi justru di sanalah letak takwa.

Episode ini bukan sekadar tafsir ayat. Ia adalah perjalanan batin untuk menimbang ulang cara kita menilai orang lain. Ia adalah pertanyaan yang mungkin tidak nyaman: Jika musuhmu benar, mampukah engkau mengakuinya? Jika temanmu salah, beranikah engkau mengoreksinya?

Karena mungkin, ukuran kedewasaan iman bukan pada seberapa keras kita membela yang kita cintai —tetapi pada seberapa adil kita terhadap yang kita benci.

Dengarkan episode ini. Dan biarkan satu ayat menguji bukan dunia luar —tetapi dunia di dalam diri kita.

Tags: IslamPodcast
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Tadarus – QS Al-Mā’idah ayat 8 - 0fe24566 6737 42e7 bb3b deda43952a5d | Islam | Potret Online

Ramadhan dan Warung Kopi, Rutinitas yang Tak Lekang oleh Waktu.

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com