POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Aceh Tidak Bangkit Memberontak, Aceh Sedang Berduka

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
December 31, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

:Oleh: Dayan Abdurrahman
Pemerhati Perdamaian dan Keadilan

Dua puluh tahun pasca penandatanganan MoU Helsinki, Aceh secara formal telah keluar dari fase konflik bersenjata. Senjata diturunkan, status darurat militer dicabut, dan negara menyatakan bahwa Aceh telah kembali sepenuhnya ke pangkuan Republik Indonesia. Namun, perdamaian sejati tidak hanya diukur dari ketiadaan peluru, melainkan dari kehadiran negara yang adil, empatik, dan matang dalam merespons krisis kemanusiaan. Di titik inilah, bencana ekologis yang melanda Aceh hari ini menjadi cermin kejujuran bagi Republik: apakah negara benar-benar telah belajar dari sejarah konflik, atau justru kembali ke naluri lamanya—curiga, panik, dan represif.

Bencana yang menghantam belasan kecamatan di Aceh bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah tragedi kemanusiaan yang menimpa masyarakat sipil: petani kehilangan sawah, nelayan kehilangan perahu, keluarga kehilangan rumah, dan anak-anak kehilangan rasa aman. Dalam kondisi seperti ini, standar etik negara di mana pun di dunia seharusnya jelas: menyelamatkan nyawa, memulihkan martabat manusia, dan memastikan bantuan mengalir tanpa hambatan. Sayangnya, yang terlihat justru sebaliknya—negara lebih sigap mengamankan simbol daripada menenangkan korban.

Dalam ilmu politik dan studi konflik, respons negara terhadap bencana di wilayah pasca-konflik merupakan ujian krusial. Aceh adalah wilayah dengan memori traumatik panjang: DOM, operasi militer, pelanggaran HAM, dan ketidakpercayaan struktural antara rakyat dan aparat. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan tidak boleh netral-standar, apalagi militeristik. Ia harus konflik-sensitif, berbasis empati, dan sadar sejarah. Ketika aparat memperlakukan relawan secara represif, mencurigai bantuan kemanusiaan, dan mempersoalkan simbol identitas di tengah duka, negara sedang mengirim pesan yang salah: bahwa Aceh belum sepenuhnya dipercaya sebagai warga negara.

Pengibaran bendera Bulan Bintang dalam konteks bencana tidak bisa dibaca secara tunggal sebagai ancaman separatis. Secara hukum, memang simbol tersebut tidak diakui sebagai lambang resmi daerah. Namun secara sosiologis, simbol hidup dalam banyak makna: identitas, memori kolektif, ekspresi emosional, bahkan jeritan duka. Negara yang dewasa seharusnya mampu membedakan ekspresi simbolik dengan mobilisasi politik kekerasan. Tidak ada bukti empiris—baik kualitatif maupun kuantitatif—bahwa bencana ini disertai kebangkitan struktur GAM atau ancaman bersenjata terhadap kedaulatan negara. Yang ada justru akumulasi kekecewaan sosial akibat lambannya respons negara dan buruknya tata kelola ekologi.

Masalahnya, negara memilih jalan cepat: sekuritisasi bencana. Ruang kemanusiaan diperlakukan sebagai ruang ancaman. Relawan dianggap berbahaya, simbol dianggap provokasi, dan masyarakat korban dianggap rentan disusupi. Inilah kesalahan klasik negara pasca-konflik: membaca emosi rakyat dengan kacamata intelijen, bukan dengan nurani kebangsaan. Pendekatan seperti ini bukan hanya melukai korban, tetapi juga merusak fondasi perdamaian yang dibangun dengan susah payah selama dua dekade.

📚 Artikel Terkait

Mengenal Ayatollah Ali Khemeini Sang Keturunan Nabi

Menyamakan Pikiran dan Tindakan Terhadap Masalah Pengemis

Suara Rakyat Sudah Diamanahkan

Gaya Berdagang China dan Amerika Serikat (1)

Aceh bukan wilayah biasa. Ia bukan sekadar “provinsi di ujung barat Sumatra.” Aceh adalah ruang ekologis strategis—hutan, laut, dan daratan yang berfungsi sebagai paru-paru kawasan, benteng biodiversitas, dan sekaligus gudang sumber daya alam. Gas, minyak, mineral, hasil laut, dan potensi energi terbarukan menjadikan Aceh sebagai “putri cantik” yang dilirik banyak kepentingan: negara, korporasi, dan pasar global. Dalam sejarah Indonesia, wilayah yang kaya sumber daya hampir selalu diiringi pendekatan keamanan yang keras. Logika stabilitas sering kali menyingkirkan logika keadilan.

Di mata internasional hari ini, Aceh sedang diperhatikan. Bukan karena konflik, melainkan karena bencana, krisis iklim, dan keberlanjutan lingkungan. Dunia tidak lagi melihat Aceh semata sebagai “bekas wilayah pemberontakan,” tetapi sebagai wilayah kunci dalam isu ekologi global dan keadilan sosial. Ketika negara gagal menunjukkan wajah kemanusiaan di hadapan publik internasional, yang tercoreng bukan hanya Aceh, melainkan reputasi Republik Indonesia itu sendiri.

Sejarah konflik Aceh mengajarkan satu pelajaran penting: represi tidak pernah menyelesaikan akar masalah. Operasi militer memang mampu menekan perlawanan bersenjata, tetapi tidak pernah memulihkan kepercayaan. Perdamaian 2005 tercapai bukan karena kemenangan mutlak senjata, melainkan karena kesadaran politik bahwa kekerasan hanya memperpanjang luka. Maka sangat ironis jika hari ini, di tengah bencana, negara justru kembali menghidupkan refleks lama: mengontrol, membungkam, dan mencurigai.

Negara seharusnya hadir dengan tiga wajah utama dalam bencana di Aceh. Pertama, wajah kemanusiaan: memastikan bantuan tanpa diskriminasi, melindungi relawan, dan memprioritaskan korban. Kedua, wajah keadilan: mengakui kegagalan tata kelola lingkungan, mengevaluasi kebijakan eksploitasi sumber daya, dan membuka ruang partisipasi masyarakat. Ketiga, wajah kedewasaan politik: tidak panik terhadap simbol, tidak alergi terhadap ekspresi kultural, dan tidak menghidupkan trauma lama.

Aceh hari ini tidak sedang bangkit menuntut kemerdekaan. Aceh sedang bangkit menuntut kehadiran negara yang manusiawi. Yang muncul bukan semangat perang, melainkan naluri kolektif untuk bertahan hidup di tengah rasa ditinggalkan. Jika negara terus merespons dengan kecurigaan dan kekerasan simbolik, maka negara sendirilah yang berkontribusi menciptakan jarak baru antara Aceh dan Republik.

Perdamaian sejati diuji bukan saat senjata disimpan, melainkan saat bencana datang. Di situlah negara diuji: apakah ia hadir sebagai ibu yang melindungi, atau sebagai penjaga yang selalu curiga. Aceh tidak membutuhkan negara yang panik pada bendera, tetapi negara yang berani menatap luka, mengakui kesalahan, dan berdiri bersama rakyatnya. Jika Republik gagal membaca momen ini, maka yang runtuh bukan Aceh—melainkan makna keindonesiaan itu sendiri.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Refleksi Akhir Tahun 2025 Ke Era 2026

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00