• Latest

Aceh Tidak Bangkit Memberontak, Aceh Sedang Berduka

Desember 31, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Aceh Tidak Bangkit Memberontak, Aceh Sedang Berduka

Dari Darurat Kemanusiaan ke Darurat Kecurigaan Negara

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Desember 31, 2025
in #Korban Bencana, Aceh, Artikel, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan
Reading Time: 4 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

:Oleh: Dayan Abdurrahman
Pemerhati Perdamaian dan Keadilan

Dua puluh tahun pasca penandatanganan MoU Helsinki, Aceh secara formal telah keluar dari fase konflik bersenjata. Senjata diturunkan, status darurat militer dicabut, dan negara menyatakan bahwa Aceh telah kembali sepenuhnya ke pangkuan Republik Indonesia. Namun, perdamaian sejati tidak hanya diukur dari ketiadaan peluru, melainkan dari kehadiran negara yang adil, empatik, dan matang dalam merespons krisis kemanusiaan. Di titik inilah, bencana ekologis yang melanda Aceh hari ini menjadi cermin kejujuran bagi Republik: apakah negara benar-benar telah belajar dari sejarah konflik, atau justru kembali ke naluri lamanya—curiga, panik, dan represif.

Bencana yang menghantam belasan kecamatan di Aceh bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah tragedi kemanusiaan yang menimpa masyarakat sipil: petani kehilangan sawah, nelayan kehilangan perahu, keluarga kehilangan rumah, dan anak-anak kehilangan rasa aman. Dalam kondisi seperti ini, standar etik negara di mana pun di dunia seharusnya jelas: menyelamatkan nyawa, memulihkan martabat manusia, dan memastikan bantuan mengalir tanpa hambatan. Sayangnya, yang terlihat justru sebaliknya—negara lebih sigap mengamankan simbol daripada menenangkan korban.

Dalam ilmu politik dan studi konflik, respons negara terhadap bencana di wilayah pasca-konflik merupakan ujian krusial. Aceh adalah wilayah dengan memori traumatik panjang: DOM, operasi militer, pelanggaran HAM, dan ketidakpercayaan struktural antara rakyat dan aparat. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan tidak boleh netral-standar, apalagi militeristik. Ia harus konflik-sensitif, berbasis empati, dan sadar sejarah. Ketika aparat memperlakukan relawan secara represif, mencurigai bantuan kemanusiaan, dan mempersoalkan simbol identitas di tengah duka, negara sedang mengirim pesan yang salah: bahwa Aceh belum sepenuhnya dipercaya sebagai warga negara.

Pengibaran bendera Bulan Bintang dalam konteks bencana tidak bisa dibaca secara tunggal sebagai ancaman separatis. Secara hukum, memang simbol tersebut tidak diakui sebagai lambang resmi daerah. Namun secara sosiologis, simbol hidup dalam banyak makna: identitas, memori kolektif, ekspresi emosional, bahkan jeritan duka. Negara yang dewasa seharusnya mampu membedakan ekspresi simbolik dengan mobilisasi politik kekerasan. Tidak ada bukti empiris—baik kualitatif maupun kuantitatif—bahwa bencana ini disertai kebangkitan struktur GAM atau ancaman bersenjata terhadap kedaulatan negara. Yang ada justru akumulasi kekecewaan sosial akibat lambannya respons negara dan buruknya tata kelola ekologi.

Masalahnya, negara memilih jalan cepat: sekuritisasi bencana. Ruang kemanusiaan diperlakukan sebagai ruang ancaman. Relawan dianggap berbahaya, simbol dianggap provokasi, dan masyarakat korban dianggap rentan disusupi. Inilah kesalahan klasik negara pasca-konflik: membaca emosi rakyat dengan kacamata intelijen, bukan dengan nurani kebangsaan. Pendekatan seperti ini bukan hanya melukai korban, tetapi juga merusak fondasi perdamaian yang dibangun dengan susah payah selama dua dekade.

Aceh bukan wilayah biasa. Ia bukan sekadar “provinsi di ujung barat Sumatra.” Aceh adalah ruang ekologis strategis—hutan, laut, dan daratan yang berfungsi sebagai paru-paru kawasan, benteng biodiversitas, dan sekaligus gudang sumber daya alam. Gas, minyak, mineral, hasil laut, dan potensi energi terbarukan menjadikan Aceh sebagai “putri cantik” yang dilirik banyak kepentingan: negara, korporasi, dan pasar global. Dalam sejarah Indonesia, wilayah yang kaya sumber daya hampir selalu diiringi pendekatan keamanan yang keras. Logika stabilitas sering kali menyingkirkan logika keadilan.

Di mata internasional hari ini, Aceh sedang diperhatikan. Bukan karena konflik, melainkan karena bencana, krisis iklim, dan keberlanjutan lingkungan. Dunia tidak lagi melihat Aceh semata sebagai “bekas wilayah pemberontakan,” tetapi sebagai wilayah kunci dalam isu ekologi global dan keadilan sosial. Ketika negara gagal menunjukkan wajah kemanusiaan di hadapan publik internasional, yang tercoreng bukan hanya Aceh, melainkan reputasi Republik Indonesia itu sendiri.

Sejarah konflik Aceh mengajarkan satu pelajaran penting: represi tidak pernah menyelesaikan akar masalah. Operasi militer memang mampu menekan perlawanan bersenjata, tetapi tidak pernah memulihkan kepercayaan. Perdamaian 2005 tercapai bukan karena kemenangan mutlak senjata, melainkan karena kesadaran politik bahwa kekerasan hanya memperpanjang luka. Maka sangat ironis jika hari ini, di tengah bencana, negara justru kembali menghidupkan refleks lama: mengontrol, membungkam, dan mencurigai.

Negara seharusnya hadir dengan tiga wajah utama dalam bencana di Aceh. Pertama, wajah kemanusiaan: memastikan bantuan tanpa diskriminasi, melindungi relawan, dan memprioritaskan korban. Kedua, wajah keadilan: mengakui kegagalan tata kelola lingkungan, mengevaluasi kebijakan eksploitasi sumber daya, dan membuka ruang partisipasi masyarakat. Ketiga, wajah kedewasaan politik: tidak panik terhadap simbol, tidak alergi terhadap ekspresi kultural, dan tidak menghidupkan trauma lama.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Aceh hari ini tidak sedang bangkit menuntut kemerdekaan. Aceh sedang bangkit menuntut kehadiran negara yang manusiawi. Yang muncul bukan semangat perang, melainkan naluri kolektif untuk bertahan hidup di tengah rasa ditinggalkan. Jika negara terus merespons dengan kecurigaan dan kekerasan simbolik, maka negara sendirilah yang berkontribusi menciptakan jarak baru antara Aceh dan Republik.

Perdamaian sejati diuji bukan saat senjata disimpan, melainkan saat bencana datang. Di situlah negara diuji: apakah ia hadir sebagai ibu yang melindungi, atau sebagai penjaga yang selalu curiga. Aceh tidak membutuhkan negara yang panik pada bendera, tetapi negara yang berani menatap luka, mengakui kesalahan, dan berdiri bersama rakyatnya. Jika Republik gagal membaca momen ini, maka yang runtuh bukan Aceh—melainkan makna keindonesiaan itu sendiri.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 329x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 289x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 245x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 234x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Refleksi Akhir Tahun 2025 Ke Era 2026

HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com