Dengarkan Artikel
Oleh Asmaul Husna
(Inong Literasi)
Jam menunjukkan pukul 00.30 WIB, namun mata enggan terpejam. Padahal biasanya pukul 22.00 aku sudah berkelana di alam mimpi. Malam ini berbeda. Hati dan pikiranku terpaut jauh ke kampung halaman, tepatnya ke Bener Meriah, salah satu kabupaten yang sangat terdampak banjir bandang yang menerjang Aceh dan Sumatera pada akhir November lalu. Akses jalan terputus, listrik padam, dan jaringan pun terganggu.
Nyaris sebulan lamanya aku tidak mendengar langsung kabar keadaan orang tua di sana akibat jaringan yang bermasalah. Baru beberapa hari lalu komunikasi kembali terjalin. Rindu yang membuncah akhirnya bisa dituntaskan, meski hanya lewat suara yang timbul-tenggelam karena jaringan yang belum sepenuhnya stabil. Namun itu sudah lebih dari cukup untuk mengetahui keadaan mereka.
Alhamdulillah, kampung halaman, orang tua, dan keluarga di sana dalam keadaan aman, sehat, dan selamat. Allah masih menjaga mereka. Meski demikian, kondisi terisolasi membuat mereka tidak bisa ke mana-mana. Banyak akses jalan rusak parah, jembatan putus total, sehingga persediaan kebutuhan pokok kian menipis.
Di tengah keterisolasian itu, satu panggilan menjadi penawar gelisah. Setelah sekian waktu hanya menunggu kabar, akhirnya suara dari seberang sana menemukan jalannya.
“Waalaikumussalam,”
jawaban salam dari ummi terdengar renyah di ujung telepon malam itu, mengawali percakapan saat jaringan akhirnya bersahabat.
Banyak hal yang berlomba ingin diceritakannya, seakan hendak merangkum kisah sebulan terakhir. Saat kejadian, ummi hanya tinggal berdua dengan ayah, yang biasa kusapa Waled. Bang Fadhli, abang keduaku, tinggal di tempat berbeda meski masih di daerah yang sama. Biasanya, ia membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk pulang ke rumah ummi.
Hari-hari ummi diliputi kekhawatiran tentang Bang Fadhli, bagaimanakah keadaannya, selamatkah ia atau tidak. Hingga dua hari setelah musibah itu, Bang Fadhli akhirnya tiba di rumah ummi bersama istri dan anaknya.
“Hai, bagaimana bisa pulang ke sini? Lewat mana? Bagaimana keadaan kalian?” cecar ummi bertubi-tubi, seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, mengingat kondisi jalan yang rusak parah dan jembatan yang putus total.
“Kami pulang lewat hutan dan kebun-kebun. Yang penting sampai ke sini untuk memastikan keadaan ummi,” jelas Bang Fadhli.
“Nenek, tadi waktu di jalan pulang, adek lihat kuburan-kuburan hancur. Batu-batunya berserakan, kain putihnya sudah kelihatan,” tutur keponakanku yang berusia empat tahun, menguatkan cerita ayahnya bahwa mereka benar-benar menempuh jalan yang tak biasa. Alhamdulillah, sungguh nikmat yang agung ketika seorang anak tetap mengingat orang tuanya, rela berikhtiar pulang seberat apa pun rintangan.
📚 Artikel Terkait
Dari cerita panjang ummi, dapat kusimpulkan bahwa masalah terbesar adalah menipisnya kebutuhan pokok. Kalaupun ada, harganya melambung tinggi. Gas sudah lama habis, dan ummi memasak menggunakan kayu bakar, seakan mengulang rutinitas lama sebelum kemajuan menyentuh kehidupan. Meski semua itu disampaikan dengan santai tanpa keluhan, rasanya ngilu sampai ke ulu hati. Apa yang bisa kulakukan?
“Adak na sayep ka lon teureubang melintas batas untuk pulang membawa harapan,”
aku termenung sendiri.
Andaikan aku punya sayap, ingin rasanya terbang menembus batas untuk pulang. Namun medan yang masih berat membuatku belum mampu nekat. Anak-anak tak mungkin kutinggalkan, dan belum memungkinkan pula untuk kubawa.
Lamunanku buyar oleh suara suami sepulang dinas.
“Hari Sabtu mungkin abang ke Bener Meriah, membawa bantuan dari HIPGABI. Kita belanja apa ya sebagai tambahan untuk rumah ummi?” ujarnya.
Penjelasan itu membawa secercah harapan. Tanpa membuang waktu, aku memetakan apa saja yang bisa kubawa sambil terus memantau kondisi jalan terkini.
Dan hari Sabtu pun tiba.
Dering suara gawainya berbunyi. Aku mengira itu panggilan dari suami. Ternyata keliru. Di layar tertulis: Ummi memanggil.
“Jadi ayahnya anak-anak berangkat hari ini?” tanya ummi tanpa basa-basi.
“Jadi, sudah berangkat sejak satu jam lalu,” jawabku.
“Kalau begitu, ummi buatkan apam ya, nanti ummi kirimkan.”
Telepon terputus begitu saja. Aku terpana. Ummi mau membuat apam?
Apam adalah makanan khas Aceh Pidie dari tepung beras yang disajikan dengan kuah santan bercampur nangka, semacam serabi berukuran besar. Biasanya dimasak pada bulan Rajab untuk dibagikan kepada tetangga dalam tradisi kenduri apam yang diwariskan turun-temurun. Meski berasal dari Pidie, Allah menakdirkan aku tumbuh dan berkembang di Bener Meriah, sehingga tradisi ini bukanlah hal asing bagiku.
Tak ada yang salah dengan rencana ummi membuat apam. Namun kali ini keadaannya sangat berbeda. Listrik masih padam, gas telah lama habis, dan bahan pokok semakin langka. Di tengah keterbatasan itu, ummi masih memikirkanku. Aku mencoba menganggapnya angin lalu agar tak merasa bersalah membayangkan kerepotannya.
Namun kenyataan berkata lain saat suami pulang.
“Ini titipan ummi,” ujarnya sambil menyerahkan sebuah bungkusan, mengawali cerita panjang perjalanan menuju Desa Sukaramai Atas, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, lampung halaman yang selalu kusebut dalam doa.
Kasih ibu memang tak selalu terlihat, namun selalu sampai.
Tak pernah cukup kata untuk mengungkapkannya.
Sehat-sehat selalu, ummiku sayang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






