POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Lensa

Ibu yang Cerdas di Era Global

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Februari 2, 2025
in Lensa
0

Oleh: Tabrani Yunis 

Direktur CCDE Banda Aceh

Ibu yang cerdas. Ungkapan ini sudah sering kita dengar dalam setiap ceramah agama, pelatihan dan dalam banyak tulisan di media massa. Berbagai macam ungkapan itu bisa dibaca dan didengar di media massa maupun media orasi di podium dan sebagainya. Ungkapan tentang, ibu cerdas, anak pun cerdas.. Ibu cerdas keluarga ikut cerdas. akan melahirkan generasi yang cerdas, bahkan menjadi materi iklan-iklan produk yang cukup laku untuk dijual. Dalam konteks Negara, perempuan adalah tiang Negara. Perempuan juga sebagai tiang agama. Apakah makna dari semua ungkapan itu?

Baca Juga
  • Ibu yang Cerdas di Era Global - eb424d26 edf6 4b94 b371 66a7d26bff6b | Lensa | Potret Online
    Aceh Tengah
    Melirik Tambang dan Masa Depan Tanah Gayo
    03 Sep 2024
  • 02
    Aceh
    Untukmu, Para Bunda…
    22 Des 2016

Semua ungkapan itu mengisyaratkan betapa pentingnya kaum ibu (perempuan) itu cerdas. Merujuk kepada tujuan pembangunan nasional, dan tujuan pendidikan nasional, kecerdasan ibu dan perempuan berkorelasi positif yang ingin mencerdaskan bangsa. Kunci untuk mencerdaskan bangsa ada di tangan ibu (perempuan). Oleh sebab itu maka sangat rasional kalau perempuan harus cerdas (smart). Ibu yang cerdas akan bisa memberikan pendidikan yang cerdas kepada anak-anak. Jadi, eksistensi perempuan atau ibu yang cerdas dalam keluarga berperan penting untuk menyiapkan masa depan anak-anak kita yang cerdas pula. Alasannya sangat realistis. Secara psychologis, tidak dapat terbantahkan bahwa ibu adalah sosok teladan anak yang paling dekat. Ibu adalah tempat anak-anak bertanya. Ibu adalah guru pertama dan utama bagi anak. Ketika teori pendidikan menyebutkan bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi anak, maka ketika kita masuk dalam lembaga keluarga, ibulah yang menjadi guru pertama dan utama bagi anak. Apapun yang ingin dipelajari oleh anak, maka nara sumber dan fasilitator pertama dan utama adalah ibu itu sendiri. Suara ibu adalah suara yang sangat didengar oleh anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan phisik dan psykologis. Walau sebenarnya dalam keluarga ada sang Bapak atau ayah, namun hubungan anak yang paling dekat adalah ibu.

Sebuah pengalaman yang tidak bisa kita lupakan terkait dengan pertanyaan anak kepada ibu. Sebuah pertanyaan sensitive yang sering tidak diberikan jawaban oleh ibu, karena factor kurangnya kecerdasan ibu. Ingatkah pembaca ketika kecil, kita sering bertanya kepada ibu. Bu’ dari mana datangnya adik ?”. sang ibu sering menjawab dengan jawaban “ jatuh dari pesawat”, atau juga jatuh dari langit” Kita pun terdiam setelah mendapatkan jawaban itu dan tidak lagi bertanya. Anehnya ketika sang anak semakin bertanya dan bertanya, karena keterbatasan pengetahuan ibu, maka ibu mencari alternatif agar anak tidak lagi bertanya. Biasanya dilakukan dengan menyuruh anak bermain dan ibu memberikan sedikit uang jajan.Ujungnya, anak tidak mendapatkan jawaban yang ingin diperolehnya, tetapi sebuah kesalahan yang dilakukan ibu untuk menutupi kelemahan ibu sendiri. Semua ini, kini sudah ketinggalan zaman dan tak perlu kita lakukan.

Baca Juga
  • Ibu yang Cerdas di Era Global - 2025 05 14 19 27 16 | Lensa | Potret Online
    # Ironi
    Negeri Ijazah, Republik Sandera Sebuah Kertas
    14 Mei 2025
  • Ibu yang Cerdas di Era Global - DB5649B5 183C 4A39 9F25 B17BC94D4D1C | Lensa | Potret Online
    # Gugat cerai
    Mengurai Angka Gugat Cerai di Aceh
    11 Mar 2025

Kini Era Global, bu

Kini era globaliasi. Sebuah era dimana tatanan kehidupan manusia yang semakin dekat tanpa batas atau sekat Negara (borderless) untuk menyampaikan informasi, produk dan gaya hidup. Globalisasi yang dirancang oleh Negara-negara maju lewat produk teknologi yang canggih, telah membuat jarak antar negera, bangsa, produk dan lain-lain semakin dekat. Semua berbau sangat kapitalis, internasionalisasi, liberalisasi dan sebagainya yang sangat kompetitif. Tentu saja, interaktif sosial, budaya dan agama semakin cepat terjadi. Oleh sebab itu di era globalisasi sekarang ini, perubahan gaya hidup, moralitas dan mentalitas suatu bangsa berubah secara cepat, tergantung pada pengaruh kekuatan suatu budaya, produk yang dipromosi dan diusung oleh sebuah Negara maju. Di era global seperti sekarang setiap Negara maju maupun yang sedang berkembang bersaing ketat menjual produk budaya, agama, politik, social dan segalanya. Akibatnya gaya hidup kebanyakan bangsa pun mengikuti arus global.

Baca Juga
  • Ibu yang Cerdas di Era Global - 6EE80D17 C241 43E5 9200 16150F06B3ED | Lensa | Potret Online
    Artikel
    Belajar Kejujuran di Sekolah?
    08 Mar 2025
  • Ibu yang Cerdas di Era Global - e76c585c b71b 4151 b1cc 946d87a33a66 1 | Lensa | Potret Online
    Lensa
    Kontribusi Ulama Aceh dalam Menghidupkan Budaya Menulis Era 1600-1700 M.
    14 Feb 2025

Nah, ketika gaya hidup semakin global, maka terjadi perubahan nilai, norma, moralitas , mentalitas dan kearifan lokal yang kita miliki. Ketika dunia semakin global, maka moralitas dan mentalitas kita juga menjadi semakin global tantangannya. Kita cendrung meninggalkan nilai moral yang kita miliki dan mengadopsi segala hal yang baru dengan tanpa menggunakan filter untuk memilih. Ini semua menjadi tantangan dalam membangun manusia Indonesia sebagaiamana yang kita cita-citakan ketika Negara ini diproklamirkan.

Bagi ibu-ibu dan para perempuan, globalisasi membaca konsekwensi tersendiri. Derasnya arus globalisasi yang kini telah masuk, menusuk ruang makan, ruang tidur dan bahkan ruang hati kita, harus bisa disikapi oleh perempuan secara cerdas. Risiko yang dihadapioleh kaum yang mengalami tindak diskriminasi selama berabad-abad, yang memposisikan perempuan pada posisi yang lemah dan melemahkan, membuat daya saing perempuan rendah. Sehingga posisi perempuan di ruang publik juga akan semakin sempit. Padahal, ketika era global yang didorong oleh kemajuan ilmu dan teknologi canggih ini, kesiapan perempuan menghadapi perubahan gaya hidup bangsa semakin dibutuhkan, bukan hanya karena factor kedekatan perempuan dengan anak sebagai genarasi baru, tetapi menyiapkan perempuan mampu bersaing agar tidak terlindas dan tertindas oleh arus budaya global.

Dalam perjalanan sejarah globalisasi, membuktikan banyak perempuan yang menjadi korban dari globalisasi. Perempuan banyak yang menjadi budak globalisasi, karena produk-produk global ikut mempengaruhi gaya hidup perempuan yang semakin konsumtif di tengah kelemahan sector ekonomi perempuan. Globalisasi banyak menyeret perempuan dan generasi muda dalam budaya global yang menindas. Kita memang jarang menyadarinya.

Oleh sebab itu, agar perempuan tidak kalah bersaing mendapatkan posisi yang layak dalam tata kehidupan modern, perempuan harus mau berbenah, belajar meningkatkan pengetahuan, ketrampilan serta sikap kreatif, inovatif dan kompetitif. Perempuan tidak boleh lagi malas membaca, malas belajar. Perempuan harus belajar, mengejar ketertinggalan dan juga untuk menjadi kuat agar perempuan menjadi ini kuat dan mandiri serta berkembang. Maka, teruslah belajar dan produktif dengan apa yang dipelajari. Sehingga mampu mengatasi perubahan global yang terus mengintai. Selamat Hari Ibu.

Previous Post

Harga Naik, Jumlah Perokok Berkurang?

Next Post

Revitalisasi Manajemen Politik Kebencanaan

Next Post

Revitalisasi Manajemen Politik Kebencanaan

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah