• Latest
Kita Butuh Sekolah Literat - IMG 20250211 WA0007 | Lensa | Potret Online

Kita Butuh Sekolah Literat

Februari 11, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Kita Butuh Sekolah Literat - 1001348646_11zon | Lensa | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Kita Butuh Sekolah Literat - 1001353319_11zon | Lensa | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Kita Butuh Sekolah Literat - 1001361361_11zon | Lensa | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Kita Butuh Sekolah Literat

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Februari 11, 2025
in Lensa, Literasi, Pendidikan, pendidikan Aceh
Reading Time: 5 mins read
0
Kita Butuh Sekolah Literat - IMG 20250211 WA0007 | Lensa | Potret Online

Ilustrasi

585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Tabrani Yunis 

Masalah literasi, sudah lama dan terlalu sering dibicarakan di dalam masyarakat kita selama ini, baik secara formal seperti dalam pertemuan-pertemuan ilmiah, seminar, diskusi, workshop dan sebagainya di kantor-kantor Dinas Pendidikan Provinsi hingga Kabupaten/kota. Bahkan pada rapat rapat sekolah. Bukan hanya itu, secara informal, perbincangan soal literasi juga sering diperbincangkan  di warung kopi dan tempat-tempat lainnya.

Baca Juga
  • Menyiapkan Pemimpin Politeknik Aceh yang Visioner
  • Tetaplah Seperti Padi

Artinya, masalah literasi adalah masalah besar yang menyebabkan generasi bangsa ini menjadi telat atau lambat dalam mengejar kemajuan zaman. Kalau pun cepat, hanya menjadi konsumen, atau objek sebuah produk terbaru. Sementara untuk mengejar kemajuan kompetitif dengan negara lain, bangsa ini masih terus tertinggal di belakang.  

Maka, penting dan sangat perlu diperbincangkan oleh banyak orang, terutama di dalam masyarakat kita di tanah air tercinta ini. Ya, sebagai masalah penting dan krusial, pertanyaan lanjutannya adalah  apa  pula yang membuat hal itu penting dan perlu diperbicangkan. Pasti ada banyak alasan yang menjadi faktor penyebabnya, baik secara internal, maupun eksternal.  

Baca Juga
  • Agar Candaan Tak Membawa Petaka di Sekolah
  • Muslailati, SPd Dilantik Sebagai Ketua Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) Pidie Jaya

Penting dan perlunya perbincangan serius mengenai literasi, tidak lepas dari persoalan Bangsa ini. Ini adalah persoalan besar dan bersama. Dikatakan demikian, karena masalah literasi adalah masalah besar atau malah menjadi akar masalah dalam Pembangunan bangsa. Rendahnya kemampuan literasi anak negeri, menjadi tembok besar, penghalang upaya memajukan bangsa.

Akibatnya, bangsa ini akan terus menjadi korban, umpan bagi negara-negara maju. Menjadi objek pasar dan lain-lain, kalah bersaing dengan bangsa lain,karena kemampuan literasi bangsa yang rendah. İni adalah sinyal gelap.

Baca Juga
  • Siswi SMKN 1 Calang Raih Medali Emas di Ajang Banda Aceh Taekwondo Championship
  • CCDE Umumkan Juara Lomba Menulis, Tema “Sepeda” Berhadiah Sepeda

Apalagi di era ini, disinyalir bahwa kualitas bangsa ini semakin melorot ketika minat membaca semakin rendah. Anak-anak bangsa kehilangan kemauan  untuk membaca. Kehilangan  kemampuan mengidentisikasi dan analisis masalah  yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Semua bermuara pada persoalan literasi yang terus melemah dan  melemahkan daya pikir yang ikut terbelit-belit dihempas kemajuan teknologi yang meninabobokan dan memanjakan.

Idealnya, kemajuan teknologi yang dinikmati sekarang, menjadikan anak-anak bangsa ini semakin mudah untuk meningkatkan kemampuan literasi.Bukan hanya itu, juga bisa memperkuat kemampuan numerasi dan sains, namun yang terjadi semakin jauh dari aktivitas kegiatan literasi dalam berbagai hal. Sekali lagi bahwa kondisi ini sangat berbahaya, ditambah lagi dengan semakin hilangnya selera belajar sejarah dan geografi.

Ya, kondisi realnya adalah miskin ilmu, tertinggal dan berkemampuan literasi rendah, tapi mimpi ingin menjadikan generasi sekarang sebagai generasi emas. Impian itu akan menjadi sebuah ilusi. Itulah sebabnya, literasi adalah akar masalah bangsa yang harus diselesaikan secara bersama.

Oleh sebab itu, sebagai masalah  bangsa, literasi menjadi masalah bersama dan harus diuraikan secara bersama dan berkelanjutan. Tidak boleh dianggap enteng atau remeh. Rendahnya kemampuan lietasi anak bangsa harus diatasi secara-bersama dengan melibatakan semua orang. Walau sesungguhnya  tugas utana ada di tangan Pemerintah. Pemerintah adalah pihak yang diamanahkan oleh UU. 

Kita harus ingatkan pemerintah, bahwa   Pemerintah yang secara undang-undang melayani rakyat itu memiliki tanggungjawab yang sangat besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.  Silakan baca lagi pembukaan UUD 1945. Sudah cukup jelas disebutkan, tidak perlu kemampuan analitik. Namun, karena banyak yang lupa, selayaknya kita buka kembali  pembukaan UUD 1945, alenia 4 menyebutkan bahwa  untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pertanyan selanjutnya, sudahkah anak negri ini menjadi cerdas? Kiranya, realitas yang ada selama ini terkait kemampuan literasi anak negeri ini sangatlah memprihatinkan.  Pemerintah pasti tidak mau disalahkan. Pemerintah malah mungkin akan marah bila kita katakan tidak serius menangani masalah literasi anak negeri. Kita pasti akan menemukan alasan klasik. Ya, pemerintah sendiri sudah banyak menggelontorkan anggaran untuk meningkatkan kemampuan literasi anak negeri. 

Lalu, celakanya, program-program terkait literasi, seperti Gerakan Literasi Sekolah ( GLS) banyak yang salah arah. Pemerintah dalam hal ini tampak sangat tidak serius mengatasi masalah miskinnya kemampuan literasi anak negeri ini. Dikatakan demikian, karena tidak ada tanda-tanda keseriusan dalam meningkatkan kemampuan literasi anak bangsa ini. 

Kalau pun ada, apa yang kita sebutkan dengan Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan itu malah tidak sesuai dengan harapan kita. Gerakan literasi sekolah dijalankan tidak dengan sepenuh hati. Bahkan anehnya, gerakan literasi menjadi gerakan perlombaan menghias atau mendesain, pojok baca. Sementara upaya membangun kesadaran untuk membaca terlupakan.

Dengan kondisi itu, wajar bila kita tanyakan pertanyaan-pertanyaan kritis. Sebenarnya  ada apa dengan literasi anak bangsa ini?  Nah, pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab atau dicari jawabannya. Ini perlu agar kita bisa merasionalisasi hal itu, hingga harus ada upaya atau tindakan yang tepat dan serius serta berkelanjutan. Untuk menjawab hal itu, diperlukan hasil identifikasi, data mengenai masalah literasi tersebut.

Tentu, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk membangun kembali puing-puing literasi yang kini masih terus mengalami penghancuran itu. Yang penting semua tahu dan faham, bahwa akar masalah rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah rendahnya kemampuan literasi anak negeri. 

Jadi, kalau ingin memperbaiki nasib anak negeri, ingin mencerdaskan dan meningkatnya kemampuan literasi, numerasi dan sains, kunci penyelesaiannya adalah pada upaya membangun gerakan literasi, numerasi dan sains.

Oleh sebab itu, belumlah terlambat. Apalagi niat untuk mencerdaskan bangsa atau anak negeri ini, masih kuat. Maka, hal yang harus segera dilakukan ada melakukan upaya membangun kemampuan literasi, numerasi dan sains anak negeri dengan serius dan berkelanjutan.

Satu di antara banyak cara adalah dengan membuat sekolah-sekolah di tanah air menjadi Sekolah Literate. Sekolah literat adalah sebuah konsep sekolah yang memiliki budaya literasi yang tinggi. Sekolah sebagai sebuah masyarakat sekolah yang memiliki minat dan kemauan yang tinggi untuk membaca, mampu melakukan identifikasi masalah, menganalisis, hingga pada kemampuan kontemplatif. 

Sekolah literasi pasti menjadi sekolah yang memiliki budaya membaca serta memiliki kemampuan atau daya baca yang tinggi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang muncul dan dihadapi dalam proses kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, sekolah literat  adalah sekolah yang memiliki kemampuan literasi tinggi yang diwarnai oleh minat membaca dan menulis yang tinggi serta memiliki budaya membaca dan menulis yang progresif, sehingga setiap peserta didik dan masyarakat sekolah mampuengatasi dan membuat solusi terhadap semua fenomena dan permasalahan yang muncul atau dihadapi oleh setiap warga sekolah tersebut

Share234SendTweet146Share
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Next Post
Kita Butuh Sekolah Literat - 0fc93504 def7 42a7 914c 99c90fcc9061 | Lensa | Potret Online

Perempuan dalam Buaian Pinjol

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com