• Latest
Dari Kampung yang Terisolasi, Cinta Tetap Sampai - IMG_8731 | #Cerpen | Potret Online

Dari Kampung yang Terisolasi, Cinta Tetap Sampai

Desember 30, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Dari Kampung yang Terisolasi, Cinta Tetap Sampai

Asmaul Husna by Asmaul Husna
Desember 30, 2025
in #Cerpen, #Korban Bencana, Aceh, Banjir bandang, Bencana, Bener Meriah, Kebencanaan, Mitigasi bencana
Reading Time: 4 mins read
0
Dari Kampung yang Terisolasi, Cinta Tetap Sampai - IMG_8731 | #Cerpen | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Asmaul Husna
(Inong Literasi)

Jam menunjukkan pukul 00.30 WIB, namun mata enggan terpejam. Padahal biasanya pukul 22.00 aku sudah berkelana di alam mimpi. Malam ini berbeda. Hati dan pikiranku terpaut jauh ke kampung halaman, tepatnya ke Bener Meriah, salah satu kabupaten yang sangat terdampak banjir bandang yang menerjang Aceh dan Sumatera pada akhir November lalu. Akses jalan terputus, listrik padam, dan jaringan pun terganggu.

Nyaris sebulan lamanya aku tidak mendengar langsung kabar keadaan orang tua di sana akibat jaringan yang bermasalah. Baru beberapa hari lalu komunikasi kembali terjalin. Rindu yang membuncah akhirnya bisa dituntaskan, meski hanya lewat suara yang timbul-tenggelam karena jaringan yang belum sepenuhnya stabil. Namun itu sudah lebih dari cukup untuk mengetahui keadaan mereka.

Alhamdulillah, kampung halaman, orang tua, dan keluarga di sana dalam keadaan aman, sehat, dan selamat. Allah masih menjaga mereka. Meski demikian, kondisi terisolasi membuat mereka tidak bisa ke mana-mana. Banyak akses jalan rusak parah, jembatan putus total, sehingga persediaan kebutuhan pokok kian menipis.

Di tengah keterisolasian itu, satu panggilan menjadi penawar gelisah. Setelah sekian waktu hanya menunggu kabar, akhirnya suara dari seberang sana menemukan jalannya.

“Waalaikumussalam,”
jawaban salam dari ummi terdengar renyah di ujung telepon malam itu, mengawali percakapan saat jaringan akhirnya bersahabat.

Banyak hal yang berlomba ingin diceritakannya, seakan hendak merangkum kisah sebulan terakhir. Saat kejadian, ummi hanya tinggal berdua dengan ayah, yang biasa kusapa Waled. Bang Fadhli, abang keduaku, tinggal di tempat berbeda meski masih di daerah yang sama. Biasanya, ia membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk pulang ke rumah ummi.

Hari-hari ummi diliputi kekhawatiran tentang Bang Fadhli, bagaimanakah keadaannya, selamatkah ia atau tidak. Hingga dua hari setelah musibah itu, Bang Fadhli akhirnya tiba di rumah ummi bersama istri dan anaknya.

“Hai, bagaimana bisa pulang ke sini? Lewat mana? Bagaimana keadaan kalian?” cecar ummi bertubi-tubi, seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, mengingat kondisi jalan yang rusak parah dan jembatan yang putus total.

“Kami pulang lewat hutan dan kebun-kebun. Yang penting sampai ke sini untuk memastikan keadaan ummi,” jelas Bang Fadhli.

“Nenek, tadi waktu di jalan pulang, adek lihat kuburan-kuburan hancur. Batu-batunya berserakan, kain putihnya sudah kelihatan,” tutur keponakanku yang berusia empat tahun, menguatkan cerita ayahnya bahwa mereka benar-benar menempuh jalan yang tak biasa. Alhamdulillah, sungguh nikmat yang agung ketika seorang anak tetap mengingat orang tuanya, rela berikhtiar pulang seberat apa pun rintangan.

Dari cerita panjang ummi, dapat kusimpulkan bahwa masalah terbesar adalah menipisnya kebutuhan pokok. Kalaupun ada, harganya melambung tinggi. Gas sudah lama habis, dan ummi memasak menggunakan kayu bakar, seakan mengulang rutinitas lama sebelum kemajuan menyentuh kehidupan. Meski semua itu disampaikan dengan santai tanpa keluhan, rasanya ngilu sampai ke ulu hati. Apa yang bisa kulakukan?

“Adak na sayep ka lon teureubang melintas batas untuk pulang membawa harapan,”
aku termenung sendiri.

Andaikan aku punya sayap, ingin rasanya terbang menembus batas untuk pulang. Namun medan yang masih berat membuatku belum mampu nekat. Anak-anak tak mungkin kutinggalkan, dan belum memungkinkan pula untuk kubawa.

Lamunanku buyar oleh suara suami sepulang dinas.

“Hari Sabtu mungkin abang ke Bener Meriah, membawa bantuan dari HIPGABI. Kita belanja apa ya sebagai tambahan untuk rumah ummi?” ujarnya.

Penjelasan itu membawa secercah harapan. Tanpa membuang waktu, aku memetakan apa saja yang bisa kubawa sambil terus memantau kondisi jalan terkini.

Dan hari Sabtu pun tiba.
Dering suara gawainya berbunyi. Aku mengira itu panggilan dari suami. Ternyata keliru. Di layar tertulis: Ummi memanggil.

“Jadi ayahnya anak-anak berangkat hari ini?” tanya ummi tanpa basa-basi.
“Jadi, sudah berangkat sejak satu jam lalu,” jawabku.
“Kalau begitu, ummi buatkan apam ya, nanti ummi kirimkan.”

Telepon terputus begitu saja. Aku terpana. Ummi mau membuat apam?

Apam adalah makanan khas Aceh Pidie dari tepung beras yang disajikan dengan kuah santan bercampur nangka, semacam serabi berukuran besar. Biasanya dimasak pada bulan Rajab untuk dibagikan kepada tetangga dalam tradisi kenduri apam yang diwariskan turun-temurun. Meski berasal dari Pidie, Allah menakdirkan aku tumbuh dan berkembang di Bener Meriah, sehingga tradisi ini bukanlah hal asing bagiku.

Tak ada yang salah dengan rencana ummi membuat apam. Namun kali ini keadaannya sangat berbeda. Listrik masih padam, gas telah lama habis, dan bahan pokok semakin langka. Di tengah keterbatasan itu, ummi masih memikirkanku. Aku mencoba menganggapnya angin lalu agar tak merasa bersalah membayangkan kerepotannya.

Namun kenyataan berkata lain saat suami pulang.

“Ini titipan ummi,” ujarnya sambil menyerahkan sebuah bungkusan, mengawali cerita panjang perjalanan menuju Desa Sukaramai Atas, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, lampung halaman yang selalu kusebut dalam doa.

Kasih ibu memang tak selalu terlihat, namun selalu sampai.
Tak pernah cukup kata untuk mengungkapkannya.

Sehat-sehat selalu, ummiku sayang.

Share234SendTweet146Share
Asmaul Husna

Asmaul Husna

Asmaul Husna merupakan alumni Tarbiyah Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry angkatan 2003. Sejak menamatkan sarjananya pada tahun 2008 ia mengajar di SDIT Nurul Ishlah Banda Aceh sebagai guru kelas sampai sekarang. Pengalaman menulisnya diawali saat ia dipercayakan untuk menulis naskah drama yang akan dipentaskan pada perhelatan akhir tahun para siswa di sekolah tempat ia mengajar. Sketsa Jiwa di Kanvas Waktu adalah antologi cerpen pertamanya yang sudah diterbitkan.

Next Post
Dari Kampung yang Terisolasi, Cinta Tetap Sampai - IMG_9086 | #Cerpen | Potret Online

Cara Orang Jepang Bertahan dan Tanggap Menghadapi Bencana

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com