Dengarkan Artikel
Oleh: Emi Suy
Batavia: Tanah yang Menjaga Ingatan
Sebelum dunia tergesa-gesa menamai kota ini sebagai Jakarta dan sebelum gedung-gedung kaca menjulurkan bayangan panjang yang menutupi sejarahnya sendiri, Batavia pernah menjadi ruang luas yang mengajarkan manusia berjalan lebih pelan. Tidak ada deru kendaraan yang menghardik udara, tidak ada papan reklame yang memaksa mata menentukan pilihan. Yang ada hanyalah tanah yang menyimpan ingatan, sungai yang bernapas perlahan, dan angin yang membawa kabar dengan sopan, seakan memahami bahwa setiap pesan harus tiba pada waktu yang tepat.
Pada masa itulah sebuah kerajaan kecil berdiri. Kerajaan yang tidak besar, tidak gagah, dan tidak diliputi gemerlap kekuasaan. Ia lebih mirip sebuah rumah panjang tempat kearifan ditaruh di atas meja, bukan di atas takhta. Sang raja hidup dengan keyakinan bahwa kekuatan tidak selalu hadir dalam bentuk tombak atau barisan serdadu, bahwa harmoni justru tumbuh dari kemampuan menjaga keseimbangan di tengah dunia yang mudah terbakar oleh keserakahan. Ia percaya satu hal sederhana: manusia lebih mudah dipulihkan oleh kebaikan daripada dipaksa tunduk oleh ketakutan.
Lahirnya Sebuah Pusaka yang Tak Berkilau
Dari keyakinan itulah sebuah lambang keluhuran dilahirkan. Bukan melalui upacara besar atau bunyi gong yang menggema, bukan pula ditempa oleh empu termasyhur. Simbol kehormatan itu muncul dari kebutuhan menjaga kejujuran. Ia tidak tampak istimewa. Tidak berkilau. Tidak menjanjikan kemenangan dalam perang. Justru karena kesederhanaannya, ia tidak mudah diperebutkan oleh mereka yang matanya silau oleh kuasa. Meski demikian, di dalam ketenangannya tersimpan sesuatu yang jauh lebih menantang: pedoman batin yang tidak dapat dibeli. Dan seperti yang sering terjadi, kebenaran adalah hal yang paling tidak disukai oleh mereka yang hidup dari dusta.
Pusaka itu tidak diberikan kepada tokoh terkenal di istana, melainkan kepada seorang pengawal yang tidak pernah menuntut apa pun. Namanya Ki Sayuti.
Ki Sayuti: Penjaga Sunyi yang Menghilang dari Catatan
Sejarah lalu bergeser seperti bayangan sore hari, memanjang, mengantar kita kepada sosok yang mungkin tidak dikenal oleh banyak orang, tetapi justru menjadi pondasi dari segala cerita yang dititipkan.
Sejarah sering memilih menonjolkan nama-nama besar, sementara mereka yang bekerja dalam diam berjalan melewati waktu tanpa tanda. Ki Sayuti adalah salah satu sosok yang hidup dalam bayang sunyi. Tidak ada catatan panjang tentangnya, tidak ada arca yang dibuat untuk mengenangnya. Namun ketidaktampakannya itulah yang menjadikannya dipilih. Ia memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli oleh kekayaan atau kuasa: keteguhan hati yang tidak tergoda oleh iming-iming apa pun.
Tugasnya sederhana tetapi berat: menjaga agar ajaran lama tidak dikorbankan demi ambisi. Ia berjalan membawa lambang keluhuran itu melintasi kampung-kampung yang kini hanya tinggal nama di peta, menyeberangi sungai-sungai yang dahulu jernih tetapi kini menghitam karena waktu dan kelalaian manusia, serta melewati rawa yang perlahan berubah menjadi deretan bangunan. Ia menyimpan tinggalan batin itu bukan untuk disembunyikan, tetapi untuk memastikan bahwa makna di dalamnya tidak dirusak oleh tangan yang tidak pantas.
Legenda tentang Ki Sayuti bukan legenda tentang senjata, melainkan legenda tentang laku hidup. Ia menghilang dari jejak sejarah tanpa meninggalkan tanya, seolah ia tahu bahwa kebenaran tidak perlu disorot, cukup dijalani dan dititipkan kepada waktu.
Perguruan Pusaka Budaya: Tempat Laku Ditempa
Waktu bergerak maju, dan seperti nasib kota-kota tua lain, Batavia menjelma Jakarta tetapi pedoman batin yang lahir dari para penjaga sunyi seperti Ki Sayuti tidak serta-merta lenyap. Sebagian darinya menemukan tempat baru untuk hidup kembali.
Puluhan tahun kemudian, ketika kota berubah lebih cepat daripada manusia dapat mengejarnya, sebuah perguruan kecil berdiri dengan tekad menjaga jejak kebajikan agar tidak punah oleh derasnya modernitas. Perguruan itu didirikan oleh Babeh Mugeni, lelaki yang memahami bahwa ilmu tanpa etika adalah bencana yang menunggu waktu. Dalam perguruan ini, jurus bukan sekadar gerakan tubuh; ia adalah cara menata batin agar tidak liar. Salam bukan formalitas, melainkan janji untuk menundukkan ego sebelum melangkah. Latihan bukan rutinitas, tetapi pengingat siapa kita di tengah dunia yang keras dan gaduh.
Di antara latihan-latihan itu, legenda Ki Sayuti kembali disampaikan. Bukan untuk dipercayai mentah-mentah, tetapi untuk direnungi. Para murid belajar bahwa simbol kehormatan sejati tidak selalu berbentuk benda. Ia bisa hadir dalam kesabaran, dalam kejujuran yang dijaga bahkan ketika tidak ada yang melihat, atau dalam keberanian mengakui kesalahan. Perguruan ini menjadi tempat di mana titipan leluhur tidak hanya dibicarakan, tetapi dijalani, dihayati, dan diwariskan secara hidup.
Panggung Kota Tua: Menghidupkan Sejarah
Dan pada satu siang yang terik di penghujung November, legenda itu kembali dipanggil bukan dengan mantra, melainkan dengan tubuh-tubuh yang bersedia menghidupkannya di panggung Batavia.
Ketika hari pementasan tiba, panas Kota Tua memukul permukaan tanah seperti panggilan untuk membuktikan keteguhan. Matahari menampar aspal, debu menari tanpa malu, dan hiruk-pikuk wisatawan menjadi latar musik yang tidak bisa dihentikan. Dalam kondisi seperti itu, kami merasakan bahwa ajaran lama yang kami bawa jauh lebih penting daripada kenyamanan yang mungkin absen. Kami berlatih berulang-ulang, mencoba menyelaraskan suara dengan napas, gerak dengan ritme tubuh, dan emosi dengan alur cerita.
Panggung selalu menuntut satu hal: kejujuran. Ketika kaki kami menginjak lantai pementasan dalam rangkaian Batavia Green Tourism, kami tahu bahwa kami tidak hanya menghidupkan naskah. Kami sedang memanggil pulang sejarah. Kami membawa keyakinan yang kami warisi dari para guru, bahwa legenda tidak akan mati selama ada tubuh yang bersedia meminjamkan diri untuk menghidupkannya kembali.
Batavia Green Tourism — Pertemuan Legenda dan Masa Kini
Pertunjukan ini menjadi bagian dari Festival Batavia Green Tourism, sebuah perayaan budaya yang digelar oleh Suku Dinas Parekraf Jakarta.
Lenong Denes – Pusaka Budaya
Minggu, 30 November 2025 | 12.30–14.45 WIB
Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta
📚 Artikel Terkait
Rangkaian acara festival:
Community Performance
Plogging & Walking Tour
Kolaborasi komunitas seni: Bella Queen, Hany Pattikawa, Moluccan Soul, DJ Mike Ginger, AR Risalah Meruya
Serta tentu saja, Lenong Denes Pusaka Budaya
Festival ini bukan sekadar acara; ia adalah ruang pertemuan antara sejarah dan generasi baru. Kota Tua hari itu menjadi saksi bahwa budaya masih hidup, masih dicintai, dan masih dirawat oleh banyak tangan.
Para Pemain: Penjembatani Masa Lampau dan Masa Kini
Legenda tidak pernah hidup sendirian. Ia selalu menumpang pada tubuh-tubuh yang bersedia menjadi jalannya.
Setiap pemain membawa cerita masing-masing. Ada yang membawa kelelahan dari perjalanan panjang, ada yang menyimpan tawa dari rumahnya, ada pula yang menahan beban pikiran dari pekerjaannya. Ada doa yang dilafalkan diam-diam sebelum naik panggung, ada dendam masa kecil yang tiba-tiba jinak ketika lampu menyala. Namun ketika mereka melangkah ke panggung, semua itu menyatu menjadi energi yang sama—energi yang menjaga pedoman batin agar tetap hidup.
Nama-nama itu bukan sekadar daftar. Mereka adalah rumah sementara bagi legenda Ki Sayuti:
Emi Suy, Emak Ocha, Yokô, Deinar M A, Jambule, Syech Puji, Hery Tany, Nurjanah, Azrina, Az-zahra, Adam Dawera, Rinto Bangkit K, Pramono, Nurfa Octavianti, Abigail, Fitrah, Hisyam D, Adjie Maulana, Apit Serabut, Beni Gaok, Agus Waspada, Shelby Azalia.
Tanpa satu saja dari mereka, pementasan ini akan kehilangan keseimbangannya. Mereka adalah bukti bahwa titipan leluhur tidak pernah berdiri di atas satu nama, tetapi pada kekuatan kolektif yang saling menopang.
VIII. Di Balik Layar: Pondasi yang Jarang Dipuji
Apa yang tampak di panggung hanyalah puncak gunung. Di bawahnya terdapat kerja panjang orang-orang yang tidak pernah menuntut tepuk tangan:
Anto RistarGie yang membaca cerita bahkan sebelum para pemain menghafalkannya.
Le Suyud yang menjaga ritme agar alur tidak tersesat.
Laksmi Purwati yang memahat wajah para pemain hingga menjadi tokoh.
Gambang Kromong Sanggar Si Pitung yang menjadi denyut Batavia di sepanjang pementasan.
Mereka bekerja tanpa sorotan, tetapi tanpa mereka panggung tidak akan pernah punya jiwa.
Warisan Merah Putih: Titipan yang Tak Boleh Retak
Layar dibuka di siang yang panas; apa yang tampak di panggung bukan sekadar sandiwara, melainkan cermin dari kebiasaan manusia: memburu “hak” hingga lupa arti “pantas”. Di ruang seperti itu, persaudaraan sering kali yang paling dahulu patah. Amanat masa lampau, yang semestinya menjadi pengikat, justru berubah menjadi alasan untuk saling mengasah amarah. Barang sekecil apa pun dapat menjelma hutan, tempat saudara berubah rupa menjadi serigala.
Krisis itu tidak muncul dari ketiadaan ilmu, melainkan dari kelaparan kuasa. Ketika ajaran dianggap angin dan kata “saudara” tinggal bunyi tanpa ruh, hubungan yang semula menyulam komunitas menjadi rapuh. Maka yang paling menentukan bukan lagi siapa paling lama belajar atau paling banyak bernama, tetapi siapa paling ingin merasa berhak. Di titik inilah luka mulai lahir: bukan luka fisik semata, melainkan luka yang mengikis martabat bersama.
Namun riak perang itu dapat redup bukan oleh satu kemenangan, melainkan oleh kesadaran ketika manusia berani menurunkan pedang dan mendengar lagi suara hati yang selama ini tertutup ambisi. Pada saat itulah terungkap sebuah kebenaran sederhana: titipan leluhur sejati bukan benda untuk dimiliki, bukan gelar untuk diagungkan, bukan nama perguruan yang diperebutkan. Amanat yang bermakna adalah laku hidup yang tinggal di hati jujur dan dirawat oleh jiwa yang siap bertanggung jawab.
Di antara semua simbol kehormatan yang pernah dipertukarkan, ada satu lambang keluhuran yang tidak boleh retak: Sang Saka Merah Putih. Ia bukan sekadar kain atau simbol; ia adalah alat persatuan—pengingat bahwa negeri ini terbentuk oleh darah dan doa banyak orang, bukan oleh dominasi segelintir pihak. Ketika Merah Putih muncul kembali di tengah pertikaian, ia menuntut satu hal sederhana namun tak tergoyahkan: bahwa peninggalan makna bangsa harus dijaga bersama, bukan dijadikan trofi perorangan.
Merawat amanat berarti membesarkan kembali kemanusiaan; ia menuntut kita menolak ambisi yang merusak, menggantinya dengan tanggung jawab kolektif. Persaudaraan tidak hancur karena kurangnya pengetahuan—ia hancur karena lupa akan tujuan bersama. Sebaliknya, ketika pusaka dijaga bersama, ia menjadi sumber kekuatan yang merapuhkan segala tirai yang dipasang oleh ego.
Akhirnya, siang ini menutup pelajaran yang jelas: bukan kemenangan, bukan kekalahan yang menentukan masa depan, melainkan pilihan kita—apakah kita mewariskan kebaikan atau luka. Jika kita memilih kebaikan, maka tugas kita sederhana namun berat: menjaga Merah Putih, menjaga amanat leluhur, menjaga satu sama lain. Karena hanya dengan itu titipan leluhur akan hidup—dan hanya dengan itu bangsa ini layak dipanggil utuh.
Ketika pertunjukan selesai dan panggung kembali menjadi ruang kosong, kami memahami pelajaran yang tidak pernah ditulis: bahwa lambang keluhuran sejati bukanlah benda, melainkan laku hidup. Ia hadir dalam cara kita memperlakukan satu sama lain, dalam cara kita menjaga kejujuran ketika dunia meminta sebaliknya, dalam cara kita menghormati leluhur melalui tingkah laku yang baik, bukan simbol yang dipajang. Ia hadir dalam cara kita menjaga budaya agar tetap bernapas melalui tubuh kita.
Di titik inilah kami sadar bahwa simbol kehormatan Ki Sayuti tidak pernah hilang. Ia hanya menunggu tubuh yang bersedia menanggung maknanya.
Epilog: Rumah Baru bagi Sebuah Legenda
Senja belum turun sempurna, hari masih terik, matahari masih merona, menutup panggung dengan lembut. Namun di hati kami, sesuatu tetap menyala. Lambang keluhuran itu telah menemukan rumah barunya bukan dalam peti kayu, bukan dalam museum, bukan dalam cerita yang membeku di buku pelajaran. Ia tinggal di tubuh kami, di suara kami selama pementasan, di langkah kaki kami di panggung Kota Tua, dan dalam cara kami saling menghormati setelah lampu-lampu padam.
Selama pedoman batin itu terus dijaga, legenda Ki Sayuti akan terus hidup. Bukan sebagai kisah lama, tetapi sebagai cara baru untuk mencintai budaya kita sendiri.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






