Dengarkan Artikel
Oleh Dr Tgk M Adli Abdullah
Hujan tak henti-henti sejak beberapa hari terakhir. Langit serasa tak memberi jeda, dan air datang dari segala arah. Listrik padam. Internet hilang. Aceh kembali sunyi dalam gelap dan ketidakpastian.
Pada Kamis pagi, 27 November 2025, saya memberanikan diri menuju Pesantren Najmul Hidayah Al Aziziyah, Meunasah Subung, Cot Meurak, Samalanga, dayah yang bangunannya viral di media sosial karena ambruk terseret arus sungai. Bukan untuk melihat reruntuhan semata, tetapi mencari kabar tentang anak-anak yang tinggal di sana, serta memastikan sejauh apa kerusakan akibat luapan Krueng Batee Iliek.
Di Samalanga dan sekitarnya, listrik dan internet masih lumpuh total. Tak ada informasi selain kabar dari warga yang ditemui di sepanjang jalan. Rumah-rumah terendam, jembatan putus, dan kemacetan panjang mengular. Saya bergerak pelan, berpindah dari satu jalan alternatif ke jalan lainnya, mencoba menemukan jalur yang masih mungkin dilalui.
Pukul 13.30, saya tiba di Dayah Najmul Hidayah. Dari dekat, pemandangannya lebih menyayat dari yang terlihat di video-video singkat di media sosial. Tiga blok bangunan runtuh, luluh bagai tanah yang tak lagi sanggup menahan luka. Padahal jaraknya sekitar 30 meter dari pinggiran sungai, lengkap dengan pengamanan batu gajah. Kita tahu, proyek ini pernah bermasalah pada 2018, volumenya kurang, ukuran batunya tidak sesuai standar. Sungai akhirnya menunjukkan konsekuensi dari pekerjaan yang tak dirawat kualitasnya.
📚 Artikel Terkait
Para santri berkumpul di masjid dan satu blok bangunan yang tersisa di sampingnya. Mereka tidak makan sejak pagi dan tidak memiliki apa pun kecuali pakaian yang menempel di badan. Sebagian tampak bingung, sebagian lain mencoba tetap tegar. Kerugian dari runtuhnya tiga blok asrama itu diperkirakan mencapai lebih dari 12 miliar rupiah.
Pimpinan dayah khawatir rumahnya akan menjadi korban berikutnya. Pengaman sungai sudah hilang total. Jika bukan karena pondasi bangunan yang cukup kuat masih tertancap ke tanah, dan puing-puing runtuhan yang menahan hantaman air, mungkin masjid dan rumah beliau juga ikut terseret.
Untungnya, saya membawa beberapa bungkus roti dari Banda Aceh. Di tengah kondisi begitu genting, makanan sederhana itu menjadi penyelamat sementara yang dinikmati bersama.
Ternyata bukan hanya pesantren yang digerogoti air. Masjid Jamik Cot Meurak juga amblas ke sungai padahal jaraknya sekitar 100 meter dari bibir aliran. Lagi-lagi, penyebabnya sama, proyek pengamanan sungai Batee Iliek yang dibangun asal jadi pada 2016, dan kini jebol tanpa daya menahan tekanan air.
Menjelang malam, saya kembali ke Banda Aceh. Perjalanan pulang ditemani gelap, dingin, dan suara air yang terus mencari jalannya sendiri. Pukul 23.00 saya tiba di rumah, membawa pulang satu pertanyaan yang terus menggantung.
Berapa banyak lagi bangunan, pesantren, masjid, dan rumah warga yang harus hilang sebelum kita benar-benar serius membangun dengan kualitas, bukan sekadar formalitas?
Sungai telah mengambil kembali apa yang pernah kita abaikan. Semoga kita tidak menunggu bencana berikutnya untuk belajar bahwa pembangunan yang buruk bukan hanya soal anggaran, tetapi soal nyawa, ruang belajar, tempat ibadah, dan masa depan generasi kita.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






