HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Bencana Aceh; Tambang Ilegal dan Hutan Berubah Sawit

Redaksi by Redaksi
November 28, 2025
in Artikel, Bencana, Catatan Akhir Tahun, Kebencanaan, Mitigasi bencana
Reading Time: 3 mins read
0
608
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Catatan; Mukhlisuddin Ilyas

Hujan tak henti-henti sejak beberapa hari terakhir. Banjir datang dari segala arah. Listrik padam. Internet hilang. Aceh seakan tenggelam dalam gelap.

Baca Juga

Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Maret 13, 2026

Pagi Kamis, 27 November 2025, setelah mengantar anak ke sekolah, saya memberanikan diri pulang ke kampung di Samalanga, Kabupaten Bireuen—mencari kabar orang tua, kurang lebih 24 jam hilang kontak. Sampai hari ini, listrik dan internet di Samalanga dan sekitarnya masih lumpuh total.

Sepanjang jalan, rumah-rumah terendam, jembatan putus, kemacetan panjang mengular. Saya terus bergerak pelan, mencari celah di antara jalan-jalan alternatif yang masih bisa dilalui. Pukul 13.30 saya tiba di Dayah Najmul Hidayah Batee Iliek. Dari dekat, saya melihat tiga blok bangunan dayah itu runtuh, luluh seperti tanah tak lagi sanggup menahan luka.

Tak berlama, saya melanjutkan perjalanan menjenguk Mak. Namun warga di Kampung Lueng Keubeu sudah berkumpul di Meunasah—mengungsi, rumah mereka dibanjiri air.

Dari kejauhan, saya melihat rumah Mak. Rumah yang ia tempati sejak 1993. Rumah yang tak pernah sekalipun tersentuh banjir. Hari ini, untuk pertama kalinya, air menerobos masuk lebih dari satu meter. Kuburan almarhum ayah, hanya lima meter dari kamar yang dulu saya tempati, tak terlihat lagi—tenggelam bersama ingatan masa kecil.

Warga menyarankan saya untuk tidak masuk. Arus air masih kuat. Saya bertanya, “Mak lon ho?”(dimana mamak saya). Mereka menjawab: Mak sudah mengungsi.

Ternyata mak terlambat keluar dari rumah. Ia diangkat oleh adiknya dan dibawa ke Meunasah, sebelum akhirnya dievakuasi ke rumah saudara lain yang tidak terkena banjir.

Saya bergegas ke sana. Syukurlah, Mak sehat—meski wajahnya menyimpan lelah yang tak mampu ia sembunyikan. Waktu menunjukkan pukul 14.30. Baru terasa lapar sejak pagi. Saya makan siang dari bekal istri, sambil menetapkan hati: istri menjaga anak-anak di Banda Aceh, sementara bapak mertua di Lhokseumawe juga kebanjiran. Tapi mereka sudah terbiasa menghadapi banjir tahunan di Tumpok Tengeh.

Alhamdulillah, mak sehat. Itu cukup.

Sepanjang perjalanan pulang, Banda Aceh–Samalanga dan kembali lagi, saya melihat sendiri titik-titik banjir yang semakin menggila: Tringgadeng, Meureudu, Ulim, Ulee Glee, Samalanga. Semuanya berada di daerah yang di atasnya—di gunung dan sungai—telah terjadi galian C, tambang ilegal dan hutan-hutan berubah menjadi kebun sawit.

Pemilik galian C, tambang ilegal dan kebun-kebun itu bukan hanya orang yang minim ilmu. Orang berpendidikan tinggi, bahkan bergelar mahaguru, toke dan teungku. Ikut bangga meratakan hutan, menanam sawit menebang pohon-pohon besar demi sawit. Akibatnya, rumah warga di hilir memikul derita.

Padahal firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 41 sudah jelas:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Teori natural resource curse, teori kutukan dan keberkahan sumber daya alam, juga mereka pelajari. Tapi mungkin tak pernah benar-benar merasapi.

Pukul 23.00 saya tiba kembali di Banda Aceh. Ketika melewati Jembatan Cot Iri, saya melihat air Krueng Aceh mulai meluap. Saya hanya mampu berdoa dalam hati: Ya Allah, jauhkan kami dari bala.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 103x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare243
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post

Ketika Sungai Mengambil Kembali yang Pernah Kita Abaikan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com