POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menulis sebagai Jalan Integritas: Ketekunan, Iman, dan Ketahanan Intelektual di Tengah Ketimpangan

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
November 23, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Penulis berbantu AI


  1. Menulis sebagai Ibadah Kebaikan dan Amal yang Tak Terputus

Dalam tradisi Islam, menulis dianggap bagian dari amal jariyah—amal yang terus mengalir walau penulisnya sudah tiada. Sabda Nabi SAW: “Apabila manusia mati, terputuslah amalannya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakan.” (HR. Muslim).

Menulis termasuk ilmu yang bermanfaat, sebab ia menyimpan pengetahuan, mengajar orang, memberi arah, dan mencegah keburukan. Al-Qur’an pun memberi isyarat kuat tentang pentingnya tulisan dalam QS. Al-‘Alaq ayat 4–5: “Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Ayat ini menjadikan pena sebagai simbol pencerahan peradaban. Karena itu, menulis bukan semata aktivitas intelektual, tetapi juga ibadah batin: upaya menyebarkan kebaikan dan mencegah kezaliman melalui kata-kata.


  1. Perspektif Psikologi: Menulis Menjaga Kewarasan dan Daya Tahan Emosi

Dalam psikologi modern, menulis disebut sebagai expressive writing—metode untuk menjaga kesehatan mental, meredakan stres, menata gagasan yang berserakan, dan memulihkan identitas seseorang. Penelitian James Pennebaker (University of Texas) menunjukkan bahwa orang yang menulis rutin tentang pengalaman dan pikiran mereka memiliki tingkat kecemasan lebih rendah, tekanan darah lebih stabil, dan kemampuan berpikir lebih tajam.

Menulis membuat seseorang “memegang kendali” atas hidupnya—terutama ketika realitas ekonomi dan sosial tidak berpihak. Bagi seorang penulis seperti saya, menulis setiap hari, meski tanpa bayaran, adalah cara untuk tetap waras, tetap terhubung dengan diri sendiri, dan tidak hanyut dalam arus stres yang merusak.


  1. Pandangan Budayawan: Peradaban Besar Dibangun oleh Mereka yang Menulis

Budayawan Indonesia seperti Goenawan Mohamad dan Pramoedya Ananta Toer selalu menekankan bahwa bangsa yang tidak menulis akan kehilangan ingatan kolektifnya. Pramoedya berkata: “Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari sejarah.” Sementara Goenawan Mohamad mengingatkan bahwa menulis bukan soal bayaran, tetapi soal keberanian merawat kewarasan publik.

📚 Artikel Terkait

Cut Nyak Meutia: Mutiara yang Tak Pernah Padam

Kacabdindik Aceh Timur Bersama Gudep SMAN 1 Ranto Peureulak Tanam Pohon

Belajar Rumus Berita 5 W+ 1H dan News Feature, Bekal Menjadi Penulis Andal

Puisi-Puisi Delia Rawanita

Dalam konteks Aceh, tradisi intelektual yang ditinggalkan ulama syafi’iyah, sastrawan lokal, dan hikayat-hikayat lama menjadi bukti bahwa masyarakat yang menulis bukan hanya mencatat, tetapi membangun jati diri. Karena itu, ketika saya menulis setiap hari, saya sesungguhnya sedang menjaga rantai panjang peradaban kecil yang pernah hidup dalam sejarah bangsa ini.


  1. Negara-Negara Literasi Tinggi: Lebih Sehat, Lebih Rasional, dan Lebih Kuat Secara Ekonomi


Negara dengan tingkat literasi menulis tertinggi—Finlandia, Norwegia, Jepang, Korea Selatan, Jerman, dan Belanda—memiliki tiga ciri yang konsisten:

  1. warganya lebih tenang secara emosional, tidak reaktif,
  2. tingkat hoax dan manipulasi politik lebih rendah,
  3. ekonomi kreatif, inovasi, dan riset berkembang pesat.

Finlandia misalnya bukan negara kaya sumber daya alam, tetapi menjadi negara paling bahagia karena warganya terbiasa membaca, menulis, dan berpikir reflektif. Jepang memiliki budaya diary writing sejak zaman Edo, yang membuat rakyatnya terlatih mengolah emosi secara dewasa. Korea Selatan bangkit dari kemiskinan melalui budaya belajar dan menulis. Semua negara ini menunjukkan bahwa menulis bukan hanya hobi—tetapi fondasi struktur masyarakat yang sehat dan cerdas.


  1. Menulis Tidak Membuat Orang Jatuh Miskin—Justru Sebaliknya

Sejarah menunjukkan bahwa hampir tidak ada penulis yang “jatuh” karena menulis, tetapi banyak yang bangkit karena tulisan. Penulis besar dunia seperti Tolstoy, Victor Hugo, Ahmad Tohari, atau A. Hasan berkembang bukan karena bayaran, tetapi karena ketekunan. Bahkan hari ini, ribuan akademisi, guru, dan cendekiawan menulis bertahun-tahun tanpa kompensasi langsung—namun hidup mereka tetap stabil karena integritas dan disiplin yang dibangun dari kegiatan menulis. Menulis adalah latihan mental yang memperkuat daya tawar intelektual seseorang. Orang yang menulis teratur biasanya memiliki pikiran jernih, kemampuan riset kuat, dan jaringan sosial intelektual yang luas—semuanya berdampak pada stabilitas hidup.


  1. Dampak Sosial Kesehatan: Menulis Membuat Seseorang Lebih Tenang, Lebih Bijak, Lebih Dewasa

Menulis adalah terapi diri. Ketika seorang penulis memindahkan pikiran ke kertas, ia membersihkan pikiran yang kusut. Menulis membuat seseorang lebih sabar, karena setiap paragraf mengajarkan proses. Menulis juga mengurangi impulsif, sebab orang terbiasa berpikir dalam struktur, bukan reaksi spontan. Dalam masyarakat yang penuh hoax, penulis lebih lambat terpicu emosi. Ia berhenti, membaca ulang, menganalisis, lalu merespons dengan terukur. Karena itu, penulis menjadi “orang yang paling tahan banting” secara mental.


  1. Kenapa Akademik Global Mewajibkan Menulis?

Dunia akademik—baik Barat maupun Timur—menjadikan menulis sebagai indikator utama integritas intelektual karena tiga alasan:

  1. kemampuan menulis menunjukkan kemampuan berpikir,
  2. tulisan menjadi bukti kontribusi ilmu,
  3. tulisan memastikan pengetahuan bisa diwariskan.

Profesor tidak diukur dari gelar, tetapi dari publikasi. Ulama besar tidak dikenang dari banyaknya ceramah, tetapi dari kitab dan manuskrip yang ditinggalkan. Hari ini, meskipun ada AI, universitas top dunia tetap mewajibkan mahasiswa, dosen, dan peneliti untuk menulis—karena menulis adalah bukti otentik dari kemampuan memahami, mengolah, dan menghasilkan pengetahuan.


  1. Menulis sebagai Jalan Hidup: Konsisten Walaupun Tidak Dibayar

Saya, Dayan Abdurrahman, menulis bukan karena dibayar, tetapi karena saya percaya menulis adalah jalan panjang untuk membangun integritas batin dan ketahanan intelektual. Saya menulis setiap hari, meski tidak ada yang membaca atau memberi apresiasi. Saya menulis bukan untuk saat ini, tetapi untuk masa depan—ketika suatu hari skill ini menjadi pintu rezeki, pintu martabat, atau pintu kebaikan bagi orang lain. Menulis adalah cara saya memastikan bahwa dalam dunia yang tidak adil dan penuh ketimpangan, saya tetap utuh sebagai manusia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 83x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 63x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Bangku Besi Perampas Kehidupan

Bangku Besi Perampas Kehidupan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00