Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Pandangan Awal tentang Patriarki dan Kecantikan
Saya tertarik pada hubungan antara kepemimpinan, kecantikan, dan budaya patriarki ketika menonton video Miss World 2018. Dalam video itu tergambar jelas bagaimana dunia pageant dibentuk dari sudut pandang laki-laki. Di balik gemerlap panggung dan senyum para finalis, ada warisan pandangan lama bahwa perempuan dinilai pertama-tama dari tubuhnya.
Namun, seiring waktu, saya melihat adanya perubahan. Kecantikan kini dikaitkan dengan intelektualitas, kepedulian sosial, dan misi kemanusiaan. Moto Beauty with a Purpose misalnya, menunjukkan bahwa perempuan mulai mengambil kendali atas narasi mereka sendiri. Meski demikian, bayang-bayang patriarki masih ada: standar kecantikan tetap menjadi bentuk kontrol sosial yang halus, terselubung dalam kemasan modernitas.
Ironi “Iron Lady” dan Adaptasi terhadap Patriarki
Ketertarikan saya kemudian bertambah ketika membaca tulisan yang menggambarkan bagaimana “Iron Lady” terbentuk dari adaptasi terhadap patriarki. Sosok ini sering dipuja karena tegas dan kuat, namun pada saat yang sama menjadi bukti bahwa perempuan baru diakui jika berperilaku seperti laki-laki.
Ironi ini terasa begitu nyata. Saya memahami bahwa untuk bertahan di dunia yang didominasi laki-laki, banyak perempuan terpaksa membangun ketegasan dan rasionalitas sebagai bentuk perlindungan diri. “Iron Lady” bukan gelar kehormatan yang lahir dari kemudahan, melainkan hasil dari perjuangan panjang menghadapi sistem sosial yang terus menundukkan. Ia lahir dari luka, dari keharusan menyesuaikan diri dengan tatanan yang tidak memberi ruang bagi kelembutan yang dianggap kelemahan
Pengalaman Pribadi dan Warisan Pemikiran
Dalam perjalanan kehidupan pribadi terutama setelah terjun ke dunia aktivisme, saya tidak bisa menolak kenyataan bahwa patriarki masih membentuk banyak hal dalam kehidupan perempuan. Pandangan pesimis tentang kemampuan perempuan membuat kami harus beradaptasi dengan situasi yang tidak adil.
Saya pribadi sering merefleksikan pemikiran kakek saya, dr. Sagaf Yahya, pendiri Partai Parindra cabang Jambi tahun 1940. Semangat nasionalismenya menekankan keberanian berpikir dan pentingnya peran sosial. Namun, saya juga menyadari bahwa keterbatasan saya sebagai perempuan membuat perjuangan itu memiliki dimensi berbeda. Bila laki-laki berjuang untuk diakui gagasannya, perempuan harus berjuang untuk diakui keberadaannya terlebih dahulu.
Perempuan sebagai “Kotak Pandora”
📚 Artikel Terkait
Pandangan filsuf Rocky Gerung yang menyebut perempuan sebagai “kotak Pandora” memberi refleksi menarik. Pandora bukan sekadar simbol misteri dan kesalahan, tetapi juga lambang kekuatan dan harapan. Dalam diri perempuan tersimpan kemampuan dan keterbatasan, kelembutan dan keteguhan, kekacauan dan kebijaksanaan.
Bagi saya, pandangan itu mengandung kebenaran yang pahit: perempuan memang menyimpan misteri kemampuan yang sering diremehkan, namun ketika muncul ke permukaan, kekuatan itu dapat mengguncang tatanan lama. Mungkin karena itulah patriarki berusaha mengekang karena takut pada daya cipta dan ketahanan yang tidak dapat dikendalikan.
Kepemimpinan dan Paradoks Feminitas
Kepemimpinan perempuan kerap dipandang paradoksal. Perempuan diminta untuk kuat, tapi tetap lembut; untuk tegas, tapi tetap menyenangkan. Dalam tekanan semacam itu, banyak perempuan harus memadukan rasionalitas dengan empati agar tidak kehilangan identitas dirinya.
Tubuh, kecantikan, dan cara bicara menjadi alat ukur sosial yang mengekang kebebasan perempuan. Di sinilah satire budaya patriarki terasa nyata: sistem yang mengaku melindungi perempuan justru menuntut mereka menyesuaikan diri dengan pola yang tidak perempuan pahami.
Kesimpulan: Ketahanan sebagai Satire Patriarki.
Dari semua refleksi itu, saya belajar bahwa “Iron Lady” tidak lahir karena privilese, melainkan dari perjuangan melawan tembok yang berlapis-lapis. Ia tumbuh dari luka yang dijahit oleh ketahanan, dan dari keraguan yang diubah menjadi kekuatan.
Satire terbesar dari budaya patriarki adalah bahwa sistem yang berusaha mengendalikan perempuan justru melahirkan perempuan-perempuan yang tak lagi bisa dikendalikan. Kekuatan kami bukan pemberian, melainkan hasil dari keberanian untuk tetap berdiri di tengah tekanan, untuk berpikir di tengah pembatasan, dan untuk mencintai tanpa kehilangan diri sendiri.
Daftar Referensi
Kompas. (2019, 14 Februari). Rahasia Cantik Miss World 2018, Vanessa Ponce Bukan dari Make Up.
Potret Online. (2025, 7 November). Ironi Iron Lady dan Politik Identitas yang Retak.
UICI. (2024). Rocky Gerung Sebut Laki-laki Berhutang pada Perempuan Selama 25 Abad.
Jurnal Perempuan. (2016, April). Blog Arsip Isu Gender dan Representasi.
Novita sari yahya
Penulis dan peneliti.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





