Dengarkan Artikel
Oleh: Hariya Haldin, S.Pd., M.Pd.
Perkenankan, saya Hariya Haldin. Seringkali, saat saya berdiri di depan cermin, saya melihat dua bayangan. Satu adalah Guru, memegang spidol dengan semangat mengajar yang membara, yang kedua adalah Plt. Kepala Sekolah, yang memegang kunci dengan tanggung jawab kepemimpinan yang menghimpit.
Mendapat anugerah sebagai Juara Terbaik 2 Kategori Dedikatif Guru SMA dalam Apresiasi GTK 2025 Tingkat Provinsi Aceh yang digelar Balai Guru dan Tenaga Kependidikan adalah sebuah simpulan manis bagi perjuangan yang sungguh-sungguh berganda.
Ini bukan sekadar kemenangan pribadi, namun pengakuan bahwa dua peran yang saya jalankan, yang kerapkali terasa saling tarik-menarik, akhirnya bisa berjalan beriringan.
Jika mengajar adalah jantung saya, maka memimpin sekolah, meski hanya sebagai pelaksana tugas adalah napas saya.
Sebagai seorang Guru, saya menemukan kedamaian sejati. Melihat wajah-wajah ingin tahu, merancang modul ajar yang inovatif, dan memastikan setiap materi pelajaran ‘menyentuh’ hati dan pikiran anak-anak.
Dedikasi saya murni tercurah pada fasilitasi ilmu dan pembentukan karakter. Saya harus tetap menjadi guru yang dekat, yang menginspirasi, dan yang paling penting yang selalu ada di saat mereka membutuhkan.
Tapi, saat jam pelajaran usai, saya harus beralih peran. Menjadi Plt. Kepala Sekolah. Tumpukan adminitrasi, rapat koordinasi, dan lainnya, hingga memastikan sarana prasarana berfungsi dengan baik. Waktu yang seharusnya saya gunakan untuk menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan mengevaluasi tugas siswa, sering terpotong untuk mengurus administrasi dan kebijakan sekolah.
📚 Artikel Terkait
Ada masa-masa frustrasi. Saya merasa terpecah. “Apakah saya sudah maksimal sebagai guru? Apakah sekolah sudah saya urus dengan baik?” Pertanyaan itu menjadi melodi harian yang tak pernah berhenti.
Justru dari keterbatasan waktu inilah, lahir inovasi yang memaksa saya menjadi lebih efisien dan terstruktur. Kategori “Dedikatif” ini sesungguhnya adalah dedikasi terhadap manajemen waktu dan energi.
Saya belajar mengintegrasikan Kepemimpinan ke dalam Kelas untuk menerapkan ide-ide dari ruang rapat langsung ke dalam praktik mengajar, menjadikannya ‘laboratorium’ hidup.
Mendelegasikan dengan hati serta mempercayai rekan guru lain untuk mengambil peran, dan menggunakan peran Plt Kepala Sekolah untuk mendukung penuh dedikasi mereka.
Semua ini adalah bagian dari portofolio yang saya bawa ke hadapan dewan juri Apresiasi GTK 2025. Saya tidak hanya memamerkan metode mengajar yang unik, namun juga bagaimana kepemimpinan dedikatif dapat menciptakan ekosistem sekolah yang mendukung penuh semangat guru.
Malam pengumuman itu, setiap detiknya terasa seperti bertahun-tahun. Saat nama saya disebut, Hariya Haldin, S.Pd., M.Pd., Juara Terbaik 2 Kategori Dedikatif Guru SMA, rasa syukur itu bercampur dengan sebuah realisasi besar.
Dedikasi sejati bukan tentang memilih salah satu peran, tetapi tentang bagaimana kita dapat mendedikasikan diri secara total pada setiap peran yang diberikan.
Penghargaan ini bukan hanya untuk guru yang saya cintai, tapi juga untuk Plt. Kepala Sekolah yang tak kenal lelah, yang berusaha menjaga perahu pendidikan ini tetap berlayar di tengah badai. Ini adalah hadiah dari Provinsi Aceh, yang mendorong saya untuk terus menjadi guru yang memimpin dengan hati, dan pemimpin yang mengajar dengan jiwa.
Terima kasih, anak – anak hebatku. Kalian adalah alasan saya menjadi guru. Terima kasih, rekan sejawat. Kalian adalah alasan saya menjadi pemimpin.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






