POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Setelah Aku Pergi

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
October 29, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Aku tidak tahu pasti kapan napasku berhenti. Hanya terasa bahwa udara terakhir yang kuhirup begitu tenang, seperti laut yang berhenti berombak. Tak ada rasa sakit, tak ada panik — hanya sepi yang lembut. Saat mataku terpejam, dunia perlahan menjauh, namun wajah-wajah yang kucintai masih begitu jelas: istriku, dan kelima anakku.

Dari tempat yang tak lagi mengenal waktu, aku melihat rumah kami di Banda Aceh. Pagi pertama setelah kepergianku, matahari seakan enggan terbit. Di ruang tamu, istriku duduk diam memandangi sajadah yang masih terlipat rapi. Air matanya jatuh perlahan, tapi di dalamnya ada kekuatan yang luar biasa. Ia tahu hidup harus terus berjalan, meski setengah jiwanya telah pergi.

Anak sulungku, perempuan yang baru saja menamatkan kuliah, berdiri di dekatnya. Wajahnya tampak lebih dewasa dari sebelumnya. Ia tidak banyak bicara, hanya memeluk ibunya erat. Aku bisa merasakan janjinya dalam hati: “Aku akan menggantikan Ayah menjaga semuanya.”

Anak keduaku, lelaki yang sedang menempuh kuliah, duduk di lantai dengan kepala tertunduk. Ia tidak menangis keras, tapi matanya merah. Dalam diamnya, ada kesedihan seorang anak laki-laki yang belum siap kehilangan sosok panutan.

Anak ketigaku, yang kini duduk di bangku SMP, mencoba terlihat tegar di depan adik-adiknya. Ia menatap langit-langit seolah mencari jawab: ke mana Ayah pergi? Mengapa tidak pamit?

Sementara dua adikku yang masih kecil — anak keempat dan kelima — belum sepenuhnya mengerti. Mereka melihat orang-orang menangis dan ikut menangis, tapi belum memahami arti kepergian. Saat ditanya, ibunya hanya menjawab lembut, “Ayah sudah pulang ke tempat yang lebih damai.”

Anak bungsuku mengangguk, lalu berkata dengan polos, “Kalau begitu nanti aku mau ke sana juga.”
Aku tersenyum dari kejauhan. Suatu hari, Nak. Tapi tidak sekarang.


Hari-hari pertama setelah aku tiada terasa berat bagi mereka. Pagi yang dulu ramai dengan suara canda kini sepi. Hanya terdengar bunyi piring, langkah kaki, dan doa lirih setelah salat. Tapi di balik kesunyian itu, mereka mulai belajar sesuatu: hidup harus diteruskan, bukan dilupakan.

Istriku menjadi tiang utama rumah itu. Ia bekerja keras mengatur segalanya, memastikan anak-anak tetap sekolah, tetap makan, tetap tersenyum. Malam hari, setelah semuanya tidur, ia sering duduk sendirian di teras. Dari langit, aku melihatnya menatap bulan sambil berbisik, “Kau lihat, kan, Dayan? Aku berusaha kuat.”
Dan aku ingin menjawab, “Aku tahu, dan aku bangga padamu.”


Anak sulungku mulai membantu ibunya. Ia bekerja paruh waktu di lembaga pendidikan sambil membantu adik-adiknya belajar. Dalam dirinya aku melihat bayangan ibunya — sabar, tangguh, tapi lembut. Kadang ia memandangi foto kami di dinding dan tersenyum, “Ayah, tenanglah. Aku sudah besar sekarang.”

Anak keduaku semakin dewasa. Ia mulai aktif di kampus, belajar bukan hanya untuk masa depannya sendiri, tapi untuk menjadi kebanggaan keluarga. Ia sering berkata kepada ibunya, “Aku ingin kuliahku selesai cepat, Bu. Biar bisa bantu biaya sekolah adik-adik.”
Itulah kalimat yang dulu sering aku ucapkan pada orang tuaku. Kini ia mewarisinya tanpa kusadari.

Anak ketigaku, si pelajar SMP, mulai belajar tanggung jawab kecil. Ia membantu membersihkan rumah, mengantar adik-adiknya ke sekolah, dan menjaga agar suasana tetap ceria. Ia pernah menulis di buku hariannya:

📚 Artikel Terkait

Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini

Puisi-Puisi Kenangan Tsunami

Ketika Tsunami Aceh

Revitalisasi Manajemen Politik Kebencanaan

“Ayah mungkin sudah jauh, tapi aku mau jadi laki-laki kuat kayak dia.”
Tulisan sederhana itu menjadi doa yang sampai padaku.

Sementara dua anak bungsuku tumbuh dengan cara yang mengharukan. Mereka sering bermain sambil bercerita seolah aku masih ada. Kadang salah satu dari mereka berkata, “Ayah pasti senang kalau lihat kita rajin belajar.”
Dan benar, aku selalu tersenyum mendengarnya.


Waktu terus berjalan, dan tahun-tahun mulai menata luka itu menjadi kenangan. Pada setiap ulang tahun, mereka tak meniup lilin dengan gembira berlebihan, tapi selalu menyelipkan doa kecil: “Untuk Ayah, yang di surga.”

Anak sulungku akhirnya mendapat pekerjaan. Ia membantu keuangan keluarga, menabung untuk masa depan adik-adiknya. Ia menjadi tempat curhat bagi semua saudara. Kadang ia ke makamku setiap Jumat sore, membawa bunga, berbicara pelan seolah aku bisa mendengar — dan aku memang mendengar.

Anak keduaku mulai aktif di kegiatan sosial kampus. Ia bilang ingin melanjutkan kuliah ke luar kota nanti, tapi masih menunggu adik-adiknya cukup besar. Ia tahu tanggung jawabnya bukan hanya menuntut ilmu, tapi menjaga keluarga.

Anak ketigaku naik ke kelas dua SMP. Ia mulai menunjukkan bakat di bidang olahraga, sesuatu yang dulu sering kami lakukan bersama. Setiap kali ia menang lomba kecil di sekolah, ia pulang membawa piala plastik kecil dan berkata pada ibunya, “Ini buat Ayah juga.”

Dan dua bungsuku, kini semakin paham arti kehilangan. Mereka tidak lagi mencari-cari sosokku, tapi mengenalku lewat cerita. Ibu mereka sering berkata, “Ayah kalian orang baik. Ia selalu ingin kalian jujur, rajin, dan saling sayang.”
Itulah pelajaran yang mereka bawa tumbuh bersama waktu.


Sepuluh tahun kemudian, rumah kami tetap berdiri, meski cat dindingnya mulai pudar. Di ruang tamu, foto keluarga lama masih menggantung. Dalam foto itu aku tersenyum, dikelilingi istri dan lima anak kecil yang dulu kugendong satu-satu.

Kini mereka sudah dewasa. Ada yang bekerja, ada yang kuliah, ada yang masih sekolah. Tapi setiap kali berkumpul, meja makan selalu menyiapkan satu kursi kosong.
Itu bukan kursi duka, melainkan kursi kenangan. Tempat mereka percaya aku masih duduk, ikut mendengarkan obrolan mereka.

Cucu pertamaku — ya, kini aku punya cucu — sering bertanya, “Kakek mana, Bu?”
Anak sulungku menjawab, “Kakek sudah di tempat yang baik, Nak. Tapi dia selalu lihat kita dari atas.”
Anak kecil itu menatap langit, lalu melambai pelan. Dan aku membalasnya dengan angin lembut yang menyinggahi pipinya.


Kini aku tahu, kematian bukanlah akhir. Ia hanyalah perubahan bentuk kasih. Aku tidak lagi menasihati dengan kata-kata, tapi dengan kenangan yang hidup di hati mereka. Tidak lagi memeluk dengan tangan, tapi dengan keberanian yang kutinggalkan di dada mereka.

Dari langit Banda Aceh, aku menatap dengan damai. Istriku menua dengan tenang, anak-anakku tumbuh menjadi manusia yang baik. Mereka tidak hancur oleh kehilangan, mereka tumbuh oleh cinta.

Aku menulis di sini, di antara bintang-bintang:

“Aku telah pergi, tapi cintaku tertinggal di bumi.
Ia menjelma dalam doa, kerja keras, dan tawa keluarga yang terus berjalan.”

Aku tersenyum, menatap mereka sekali lagi, lalu berkata dalam hati:

“Terima kasih, Tuhanku. Mereka baik-baik saja.
Kini aku bisa benar-benar tenang.”

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Ketika Laut dan Buku Sama Asingnya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00