POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Mastnawi Purbaya

RedaksiOleh Redaksi
October 23, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh ReO Fiksiwan

“Kebenaran adalah cahaya yang tidak membutuhkan bukti. Ia bersinar sendiri, dan mereka yang melihatnya tidak memerlukan penjelasan.” — Jalaluddin Rumi(1207-1273), Fihi Ma Fihi(Forum, 2014).

Dalam pusaran politik yang penuh intrik dan kepentingan, muncul seorang tokoh yang tak hanya membawa strategi fiskal baru, tetapi juga semangat spiritual yang menggetarkan.

Purbaya Yudhi Sadewa(61), Menteri Keuangan Republik Indonesia, bukan sekadar teknokrat. Ia adalah seorang pejalan sunyi yang menapaki jalan kebenaran dengan keberanian yang tak biasa.

Dalam 18 prinsip yang dirangkum oleh Peter F. Gontha(77) di laman FB-nya, tampak jelas bahwa langkah-langkah Purbaya bukan sekadar manuver politik, melainkan refleksi mendalam dari jiwa yang telah menyatu dengan nilai-nilai spiritual ala Jalaluddin Rumi.

Rumi dalam Masnawi(Belukar, 2004) menulis:

“Kebenaran adalah cermin yang jatuh dari langit, pecah berkeping-keping, dan setiap orang memungut serpihannya.”

Purbaya tampaknya telah memungut serpihan itu dan menjadikannya pedoman.

Ia tidak datang untuk menyerang, melainkan untuk menyibak kebiasaan yang telah lama membungkus sistem.

Ketika kebenaran dianggap ancaman, ia tidak berteriak, sebab suara paling nyaring datang dari keheningan.

Seperti gazal Rumi berujar: “Diam adalah bahasa Tuhan, segala yang lain adalah terjemahan buruk.”

Purbaya — dari harafiah Jawa Kuno berarti: “kehadiran dari asal yang bijak” — tidak membela diri. Karena ia tahu bahwa fitnah akan mati dengan sendirinya saat kebenaran muncul.

Ia tidak ingin dikenang karena keberanian, tetapi karena tidak memilih diam ketika semua orang membisu dalam kemaksiatan politik.

📚 Artikel Terkait

Rabu Abeh dan Terapi Air Laut untuk Kesehatan

Tetaplah Menulis Walau Dompet Tipis

Nilai Yang Bergeser

Mengapa Perempuan Memilih Bekerja di Luar Rumah?

Dalam semangat “Ewako Daeng” tulis Gontha, ia melangkah bukan sebagai malaikat, tetapi sebagai manusia yang tahu membedakan benar dan salah.

Ia tidak menyebut nama untuk menghancurkan, melainkan untuk menyelamatkan negeri dari permainan yang terlalu lama dibiarkan dalam kegelapan dan absurditas.

Ketika proyek rakyat dikuasai elit dan negeri gempar — Rp. 13. 255.244.538.149.00 uang rasuah diserahkan Kejaksaan kepada Presiden — Purbaya tidak gentar. Ia tahu bahwa ketakutan adalah musuh sejati, bukan lawan politik.

Ia tidak melawan individu, tetapi sistem yang korup. Ia tidak datang membawa pedang, tetapi membawa cahaya.

Lagi, mengutip Rumi: “Jangan padamkan cahaya orang lain agar cahayamu tampak lebih terang.”

Dalam prinsipnya yang ke-18, Purbaya menyatakan bahwa “satu nama telah jatuh, tetapi perjuangan melawan gelap baru saja dimulai.”

Ini bukan akhir, melainkan awal dari babak baru. Ia telah menyerahkan semua data, transaksi, dan komunikasi kepada lembaga resmi.

Ia tidak bicara untuk membongkar, tetapi untuk membuka tabir yang selama ini menutupi wajah gelap bangsa.

Nama Purbaya kini menjadi sorotan dunia, disebut sebagai polisi yang mengguncang sistem lama.

Namun di balik sorotan itu, ada jiwa yang berjalan dalam sunyi, seperti Rumi yang menari dalam keheningan, menyatu dengan semesta.

Purbaya bukan hanya Menteri Keuangan, ia adalah penari dalam badai, pembawa cahaya dalam gelap, dan pemungut serpihan kebenaran yang jatuh dari langit.

Jika Rumi hidup hari ini, mungkin ia akan berkata, “Di dalam Purbaya, aku melihat diriku.”

coverlagu: Tema Lagu “Gundala’s Theme”

Lagu ini merupakan bagian dari soundtrack film Gundala(2019), yang menjadi pembuka semesta sinematik Bumilangit.

Komponis Aghi Narottama(49) dan sutradara dan penulis skenario Joko Anwar(49).

Tema musiknya menggambarkan:

Kebangkitan seorang pahlawan dari rakyat biasa.
Atmosfer kelam dan penuh ketegangan, juga mencerminkan perjuangan melawan sistem korup.

Bernuansa heroik dan emosional, dengan komposisi instrumental yang dramatis dan menghentak.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Sidang Ijazah Palsu, Jokowi Tak Hadir Lagi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00