Dengarkan Artikel
Oleh: Jon Darmawan, S.Pd., M.Pd
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini menempatkan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai salah satu orientasi utama dalam kebijakan pendidikan. Hal ini sejalan dengan tuntutan zaman yang menekankan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta pemahaman konseptual yang lebih daripada sekadar hafalan.
Orientasi pendidikan kini diarahkan untuk menghasilkan lulusan dengan dimensi profil yang utuh, yakni individu yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga cakap dalam keterampilan, memiliki karakter kuat, serta mampu beradaptasi dengan perubahan sosial dan teknologi.
Namun, di balik gagasan besar tersebut, muncul pertanyaan kritis: apakah benar pendekatan pembelajaran mendalam sudah tepat menjadi arus utama kebijakan pendidikan Indonesia saa tini? Ataukah masih ada celah yang perlu ditinjau ulang agar kebijakan tersebut tidak berhenti pada tataran ideal, tetapi benar-benar kontekstual dengan kondisi nyata sekolah di lapangan?
Dalam dunia pendidikan, pendekatan pembelajaran dipahami sebagai sudut pandang atau cara pandang menyeluruh seorang guru dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran. Pendekatan ini berfungsi sebagai landasan yang akan melahirkan strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang lebih operasional. Tanpa pendekatan yang jelas, pembelajaran cenderung bersifat sporadis dan tidak konsisten.
Pendekatan pembelajaran bukan sekadar teknis, melainkan mencerminkan filosofi pendidikan yang dianut. Seorang guru yang memilih pendekatan saintifik akan menekankan observasi, eksperimen, dan penalaran logis. Guru yang menggunakan pendekatan keterampilan proses akan menekankan pengalaman langsung dalam menemukan pengetahuan.
Sementara guru yang menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam akan lebih fokus pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS), refleksi, dan integrasi pengetahuan lintas disiplin.
Fenomena Lapangan: Antara Idealisme dan Realitas
Jika dicermati, kebijakan Kemendikdasmen tentang pembelajaran mendalam sejatinya lahir dari semangat memajukan kualitas pendidikan Indonesia agar sejajar dengan negara-negara maju. Akan tetapi, fenomena di lapangan masih menunjukkan kesenjangan serius antara idealisme kebijakan dengan realitas implementasi.
Pertama, sebagian besar guru masih terbebani oleh administrasi pembelajaran, sehingga waktu untuk merancang pembelajaran mendalam sangat terbatas. Kedua, keterampilan pedagogis guru belum merata. Masih banyak guru yang cenderung menggunakan pola pembelajaran tradisional berorientasi ceramah dan latihan soal.
Ketiga, ketersediaan sarana prasarana yang mendukung pembelajaran mendalam, seperti akses internet, laboratorium, atau perangkat teknologi, belum merata di seluruh Indonesia.
Keempat, budaya belajar siswa masih dipengaruhi oleh paradigma mengejar nilai ujian ketimbang menumbuhkan pemahaman konseptual yang mendalam.
Fenomena inilah yang menimbulkan pertanyaan: apakah pembelajaran mendalam dapat menjadi pilihan tunggal, ataukah ia hanya salah satu alternatif dari beragam pendekatan pembelajaran yang bisa digunakan sesuai konteks?
📚 Artikel Terkait
Analisis Teori: Kelebihan dan Keterbatasan Pendekatan Pembelajaran Mendalam
Secara teoritis, pembelajaran mendalam menawarkan banyak keunggulan. Siswa tidak hanya menghafal, tetapi diajak untuk menganalisis, mengevaluasi, bahkan mencipta.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi yang ditumbuhkan akan sangat bermanfaat untuk menghadapi tantangan abad ke-21, seperti kompleksitas informasi, perubahan teknologi, dan masalah global.
Namun, literatur pendidikan juga menunjukkan bahwa tidak ada satu pendekatan pembelajaran pun yang bersifat mutlak lebih unggul. Misalnya, pendekatan keterampilan proses penting untuk mengembangkan keaktifan siswa dalam menemukan pengetahuan melalui observasi dan eksperimen.
Pendekatan active learning menekankan keterlibatan penuh siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Pendekatan humanistik berfokus pada pembentukan karakter dan motivasi belajar. Semua pendekatan ini memiliki nilai strategis dan bisa saling melengkapi.
Jika pembelajaran mendalam diposisikan sebagai satu-satunya pendekatan dominan, maka ada risiko terjadinya penyederhanaan masalah pendidikan. Padahal, konteks Indonesia sangat majemuk, dengan keragaman kondisi sekolah, latar belakang siswa, serta kesiapan guru. Dengan demikian, pembelajaran mendalam seharusnya dipandang sebagai salah satu alternatif pendekatan, bukan dogma tunggal yang menyingkirkan pendekatan lain.
Argumen Kritis terhadap Kebijakan Kemendikdasmen
Kebijakan Kemendikdasmen yang menekankan pembelajaran mendalam memang memiliki niat baik, tetapi perlu dikritisi secara ilmiah dan edukatif.
Pertama, kebijakan tersebut cenderung mengabaikan konteks keragaman sekolah di Indonesia. Sekolah dengan sumber daya terbatas akan kesulitan menerapkan pembelajaran mendalam sebagaimana dirumuskan dalam kebijakan.
Kedua, orientasi pada dimensi profil lulusan yang ideal harus diimbangi dengan fleksibilitas pemilihan pendekatan pembelajaran. Guru seharusnya diberi ruang untuk memilih pendekatan yang sesuai dengan karakteristik siswa, mata pelajaran, dan lingkungan sekolah.
Ketiga, kebijakan pembelajaran mendalam seakan menempatkan guru pada posisi yang seragam, padahal kapasitas pedagogis guru berbeda-beda. Alih-alih memaksakan satu pendekatan, seharusnya kebijakan lebih fokus pada peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan yang berkelanjutan, pendampingan, dan penyediaan sumber belajar yang memadai.
Keempat, jika pembelajaran mendalam tidak diimbangi dengan strategi penilaian yang tepat, maka hasilnya akan kontradiktif. Banyak sekolah masih menilai keberhasilan siswa dengan tes objektif berbasis hafalan. Ini jelas bertentangan dengan esensi pembelajaran mendalam.
Refleksi: Menimbang Ulang Kebijakan Pembelajaran Mendalam
Orientasi pendidikan pada dimensi profil lulusan memang sangat penting. Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga berkarakter, kreatif, dan adaptif. Namun, pencapaian profil lulusan tersebut tidak bisa digantungkan hanya pada satu pendekatan pembelajaran. Pendidikan adalah proses yang kompleks, sehingga memerlukan keragaman pendekatan yang dapat disesuaikan dengan konteks.
Dengan demikian, kebijakan Kemendikdasmen tentang pembelajaran mendalam perlu ditinjau ulang. Bukan berarti pembelajaran mendalam harus dihapus, tetapi penempatannya harus lebih proporsional: sebagai salah satu pendekatan yang direkomendasikan, bukan satu-satunya pilihan. Guru harus diberi kebebasan profesional untuk menentukan pendekatan pembelajaran yang paling relevan, baik itu mendalam, keterampilan proses, active learning, maupun lainnya.
Akhirnya, yang lebih mendesak adalah membangun ekosistem pendidikan yang kondusif: peningkatan kapasitas guru, penyediaan sarana yang merata, penyederhanaan beban administrasi, serta perubahan paradigma penilaian. Tanpa itu semua, pembelajaran mendalam hanya akan menjadi jargon kebijakan yang indah di atas kertas, tetapi sulit diwujudkan di ruang kelas nyata.
Dr. Jon Darmawan, S.Pd., M.Pd adalah Pengurus IGI dan Pemuda ICMI Aceh, serta Microsoft Innovative Educator Expert(MIEE). Email: darmawanbuchari@gmail.com
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






