Minggu, April 19, 2026

Merah Putih di Dada Kami

Juli 2025
Oleh: Luhur Susilo

Oleh Luhur Susilo,

SMPN 1 Sambong – Satupena Blora

Di Jumat Legi yang berseri cahaya pagi,

595 jiwa berdiri, menjawab panggilan negara.

Di Indoor Sporthall, semangat membuncah,

derap langkah kecil menuju sumpah yang megah.

“Anak-anakku,” seru pembina bersuara tajam,

“Negeri memanggil lewat kalian yang terang.”

Padamu negeri kami berjanji,

jiwa raga kami mengabdi.

“Kita tinggal menikmati kemerdekaan, bukan merebutnya,”

ujar sang guru, matanya memantik cahaya sejarah bangsa.

Teduh lapangan, saksi bisu yang setia,

menyimpan langkah-langkah menuju makna merdeka.

Langit lazuardi menyaksikan barisan terbentuk,

di bawah panji merah putih yang lambaiannya menggugah sukma.

Camat pun bersabda dengan nada teguh,

“Sinergi dan khidmat, itu harga sebuah peluh.”

Padamu negeri kami berjanji,

jiwa raga kami mengabdi.

Tentara dan polisi menyatu dalam misi,

membina generasi agar kuat dalam visi.

“Fisik kalian baik, mental harus ditata,

karena paskibra bukan sekadar baris yang sempurna.”

Rerumputan mendoakan dalam bisu,

setiap jejak kaki membawa harap yang baru.

“Jadikan tugas ini cermin jiwa merdeka,

kibarkan bendera dengan cinta dan makna,” ucap guru dalam dada yang membara.

Di setiap aba-aba tersembunyi nilai,

disiplin, tanggung jawab, dan cinta pada tanah yang mulai.

Padamu negeri kami berbakti,

jiwa raga kami suci.

Orang tua, guru, dan masyarakat bersatu,

melahirkan anak-anak yang tangguh dan tak mudah runtuh.

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni pagi,

melainkan ladang karakter yang tumbuh abadi.

Di tengah matahari dan dedaunan yang rindang,

berkibar bendera dan harapan yang menjulang.

Mereka bukan sekadar pengibar, tapi pelita,

yang kelak memimpin dengan nurani dan logika.

Padamu negeri, air mata kami tertumpah,

jiwa kami berpadu dalam cinta yang ramah.

“Teruskan jejak sejarah ini,” pesan dalam hening,

“karena bangsa besar lahir dari jiwa yang tak genting.”

Panggilan negeri ini adalah kehormatan,

dan kami menyambutnya dengan cinta dan keteguhan.

Rumah Tua, 18 Juli 2025

Tentang Penulis
Luhur Susilo Luhur Susilo adalah seorang penulis kelahiran Blora tahun 1970. Ia merupakan alumnus IKIP N Yogyakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta yang mulai menulis sejak kuliah profesi. Antologi puisi Sajak dari Belantara (2020), Blandhong (2021), dan beberapa karya mulai terbit di media online. Luhur mulai aktif di komunitas penulisan, termasuk Satupena. Ia juga menulis di bidang sastra, sosiohistoris, dan humaniora.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist