Senin, April 20, 2026

Rojali, Rohana, dan Simbol Kemiskinan yang Semakin Ekstrem

Rojali, Rohana, dan Simbol Kemiskinan yang Semakin Ekstrem - 2025 07 30 06 47 58 | #Ekonomi | Potret Online
Ilustrasi: Rojali, Rohana, dan Simbol Kemiskinan yang Semakin Ekstrem

Oleh: Ririe Aiko

Saat ini, istilah Rojali dan Rohana sedang marak kita dengar di media sosial. Sayangnya, istilah ini bukan tentang sepasang nama kekasih seperti kisah Romeo dan Juliet, tapi istilah ini muncul dari sebuah plesetan getir yang muncul di kalangan pedagang Indonesia. Rojali artinya “Rombongan Jarang Beli”, sementara Rohana adalah “Rombongan Hanya Nanya”. Biasanya, istilah ini muncul saat segerombolan orang masuk ke toko, lihat-lihat, tanya-tanya, lalu… pergi tanpa membeli apa pun.

Bagi sebagian pedagang, hal ini tentu memberikan dampak yang cukup berisiko, di mana rendahnya daya beli masyarakat bisa memengaruhi usaha para pedagang yang kerap mengandalkan kebutuhan harian dari barang jualannya. Jika mayoritas masyarakat memilih menjadi bagian dari ‘Rojali dan Rohana’, lalu bagaimana para pedagang ini bisa bertahan untuk kelangsungan hidupnya?
Rojali dan Rohana bukan hanya sekadar humor plesetan, tapi ini sebenarnya adalah wajah baru dari kemiskinan Indonesia yang dirias agar tak terlalu menyakitkan.

Fenomena ini adalah efek domino, di mana daya beli masyarakat yang menukik bukan karena masyarakat Indonesia tiba-tiba bermeditasi anti-konsumtif, melainkan karena perut mereka lebih penting diisi dengan nasi daripada bergaya dengan baju baru. Rojali dan Rohana ini bukan tidak mau membeli barang yang dijajakan di etalase pertokoan, tapi mereka sadar betul bahwa anggaran dari gaji bulanan yang pas-pasan membuat mereka sulit menyisihkan dana untuk kebutuhan di luar makan. Alhasil, mereka lebih memilih melihat-lihat barang di pertokoan sebagai sarana hiburan semata.

Mari kita tinjau ulang besaran UMK tiap provinsi. Meski nominalnya kerap berbeda, tapi jika dibandingkan dengan tingginya biaya hidup di kota tersebut, angka UMK tersebut tetap jauh dari kata mencukupi untuk bertahan hidup. Apalagi bagi yang sudah berkeluarga, selama dua minggu pertama mungkin aman, sisanya seperti biasa, mereka harus mencari pinjaman online.

Menyedihkan? Tapi itulah fenomena nyata yang terjadi di negara kita. Bukan karena pendidikan rendah atau kerja kerasnya yang kurang, sehingga penghasilannya dikategorikan di bawah standar kelayakan, karena pada kenyataannya yang berpendidikan S2 pun, gajinya bahkan tak sampai dua digit. Mereka yang punya banyak sertifikasi, itu kadang dibayar tidak lebih dari tiga juta. Mereka masih harus banting tulang mencari seseran ke sana ke sini demi uang dapur tetap mengepul.

Yang menyedihkan, istilah Rojali dan Rohana justru sering jadi bahan olokan para elit. Seolah masyarakat kita itu “irit dan terlalu pelit”. Padahal, mereka ini sedang berdiri di antara gaji yang pas-pasan dan kebutuhan hidup yang makin tinggi. Ini bukan soal gengsi tak mau beli, tapi soal logika: “Kalau banyak barang yang dibeli, besoknya makan apa?”

Lucunya, para petinggi kita sering pura-pura lupa bahwa realita ini bukan sekadar statistik di lembar laporan tahunan. Ini nyata! Tentang masyarakat Indonesia, tentang rakyat kita yang semakin hari semakin terjerat dalam kemiskinan ekstrem. Mereka hidup di ruang dingin ber-AC, membahas inflasi terkendali dan data statistik kemiskinan menurun, sembari menyeruput secangkir kopi luwak. Sementara rakyatnya? Jutaan orang jadi pengangguran. Jutaan orang terjerat kemiskinan. Jutaan orang terjerat pinjaman online. Lucunya, semua kerap hanya menjadi tontonan.

Rojali dan Rohana adalah simbol zaman. Sebuah sindiran diam-diam dari masyarakat yang lelah tapi masih mencoba untuk bisa bahagia, tertawa menertawakan penderitaan. Karena memang, kalau tidak ditertawakan, mungkin semuanya sudah jadi gila dengan tekanan hidup yang semakin luar biasa.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist