• Latest
Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja

Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja

Juli 26, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja

Redaksiby Redaksi
Juli 26, 2025
Reading Time: 3 mins read
Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Thailand baru saja angkat koper dari Indonesia, akibat cakar sakti Garuda Muda. Maaf, keceplosan soal turnamen ASEAN U23. Kali ini kisah lanjutan perang terkini antara dua negara bertetangga, Thailand dan Kamboja. Banyak followers nanya, “Bang, minta update perang Thailand vs Kamboja, dong!” Followers yang suka keributan ini, ups. Baiklah, mari simak narasinya perang sesama negara ASEAN sambil seruput kopi tanpa gula agar otak selalu encer dan waras.

Tanggal 26 Juli 2025 seharusnya jadi hari biasa, mungkin waktunya panen padi atau belajar sejarah di sekolah. Tapi di perbatasan Thailand–Kamboja, hari itu berubah menjadi opera berdarah penuh artileri, drone, dan dendam sejarah yang disulut peta kuno buatan kolonialis Prancis tahun 1907.

Thailand memulai babak baru konflik ini dengan ledakan dramatis. Mereka mengklaim telah menewaskan sekitar 100 tentara Kamboja dalam serangan udara dan artileri di wilayah Phu Phi, sebuah kawasan yang dulunya mungkin hanya dikenal tukang ojek setempat, kini viral sebagai neraka lapangan. Dentuman artileri mengguncang bukan hanya tanah, tapi juga sejarah, karena tempat yang diperebutkan adalah kuil-kuil kuno, Preah Vihear, Ta Moan Thom, dan Ta Krabei. Di tempat suci itu, di mana para leluhur dahulu memanjatkan doa, kini rudal-lah yang menggelegar.

Kamboja tak tinggal diam. Mereka tidak hanya membalas secara militer, tapi juga secara diplomatik. Dengan wajah garang dan pena yang tajam, Kamboja memutuskan hubungan diplomatik dengan Thailand dan mengirim surat resmi ke Presiden Dewan Keamanan PBB dan Ketua ASEAN, PM Malaysia Anwar Ibrahim. Lalu, menyerukan pembahasan gencatan senjata dan penyelesaian berdasarkan hukum internasional. Namun, suara surat tidak bisa menyaingi suara bom cluster, senjata yang dituduh digunakan oleh Thailand dan digolongkan sebagai pelanggaran hukum internasional.

Sementara itu, Thailand menetapkan darurat militer di 8 distrik perbatasan. Tentu saja, karena tak ada yang lebih damai dari mendirikan pos tentara di mana-mana. Mereka menegaskan bahwa semua tindakan hanyalah balasan atas serangan dari pihak Kamboja. Seolah ledakan-ledakan itu adalah diskusi intelektual antar senjata, bukan eskalasi.

Korban sipil? Tentu ada. Karena dalam peperangan modern, rakyat kecil bukan hanya jadi penonton, mereka jadi panggung dan korban. Setidaknya 14 warga sipil tewas, termasuk anak-anak yang seharusnya sedang bermain petak umpet, bukan bersembunyi dari serpihan peluru. Lebih dari 40.000 warga telah dievakuasi, meninggalkan rumah, sawah, dan sisa harapan di bawah langit yang kini dihiasi asap dan drone pengintai.

ASEAN dan China pun bersuara, menyerukan de-eskalasi. Tapi suara mereka seperti ceramah di tengah konser metal, tak terdengar dan tak digubris. Indonesia pun angkat bicara, mengingatkan kembali soal Piagam ASEAN dan Traktat Persahabatan dan Kerja Sama. Tapi diplomasi yang tak disertai pangkalan militer, di zaman ini, hanya jadi bunga di tengah ladang ranjau.

Pertemuan bilateral? Tidak ada. Tatap muka? Masih mimpi. Perdamaian? Masih sebatas hashtag.

Di tengah semuanya, kita melihat betapa konflik ini bukan cuma soal batas tanah, tapi soal identitas. Soal kuil yang jadi lambang kebesaran masa lalu. Soal peta tua yang lebih dipercaya dari GPS. Soal dendam lama yang dirawat rapi sambil memelihara senjata modern.

Damai itu indah, kata orang. Tapi di perbatasan Thailand–Kamboja, damai tampaknya terlalu sederhana, terlalu murah, terlalu tidak dramatis.

Karena di dunia yang gila ini, kadang lebih mudah meluncurkan bom cluster dari menunduk dan bicara. Mungkin, hanya mungkin, kuil-kuil tua itu menangis di dalam reruntuhannya, berdoa agar manusia kembali menjadi makhluk berpikir.

Baca Juga

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
3dd3c24e-a526-48d2-a6d6-ae83d9158322

Untuk Akhiri Perang, Amerika Ngajukan 15 Syarat, Iran Cuma Lima Tuntutan

Maret 26, 2026

Eskalasi dan Keseimbangan: Menimbang Ulang Kekuatan, Pembalasan, dan Perdamaian di Timur Tengah

Maret 26, 2026

Tapi untuk saat ini, mesiu lebih nyaring dari doa.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Kapal yang Ditebuk

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com