• Latest
Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja - 2025 07 26 10 19 10 | #Hegemoni | Potret Online

Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja

Juli 26, 2025
Untitled design

Anak Pertama: Benarkah Selalu Lebih Mandiri dan Dewasa?

April 20, 2026
Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja - 1001377472_11zon 1 | #Hegemoni | Potret Online

Ketika Sungai Mengalirkan Lebih dari Sekadar Air

April 20, 2026

Dialektika Dalam Seni, Sastra, Pendidikan, dan Pageant.

April 20, 2026
56b8b820-aa0d-4796-86af-eee26b4e8bbc

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

April 20, 2026
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja - IMG_9514 | #Hegemoni | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

MembacaĀ Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya LiterasiĀ Ā di Aceh

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja

Redaksi by Redaksi
Juli 26, 2025
in #Hegemoni, #Perang, Thailand
Reading Time: 3 mins read
0
Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja - 2025 07 26 10 19 10 | #Hegemoni | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Thailand baru saja angkat koper dari Indonesia, akibat cakar sakti Garuda Muda. Maaf, keceplosan soal turnamen ASEAN U23. Kali ini kisah lanjutan perang terkini antara dua negara bertetangga, Thailand dan Kamboja. Banyak followers nanya, ā€œBang, minta update perang Thailand vs Kamboja, dong!ā€ Followers yang suka keributan ini, ups. Baiklah, mari simak narasinya perang sesama negara ASEAN sambil seruput kopi tanpa gula agar otak selalu encer dan waras.

Tanggal 26 Juli 2025 seharusnya jadi hari biasa, mungkin waktunya panen padi atau belajar sejarah di sekolah. Tapi di perbatasan Thailand–Kamboja, hari itu berubah menjadi opera berdarah penuh artileri, drone, dan dendam sejarah yang disulut peta kuno buatan kolonialis Prancis tahun 1907.

Thailand memulai babak baru konflik ini dengan ledakan dramatis. Mereka mengklaim telah menewaskan sekitar 100 tentara Kamboja dalam serangan udara dan artileri di wilayah Phu Phi, sebuah kawasan yang dulunya mungkin hanya dikenal tukang ojek setempat, kini viral sebagai neraka lapangan. Dentuman artileri mengguncang bukan hanya tanah, tapi juga sejarah, karena tempat yang diperebutkan adalah kuil-kuil kuno, Preah Vihear, Ta Moan Thom, dan Ta Krabei. Di tempat suci itu, di mana para leluhur dahulu memanjatkan doa, kini rudal-lah yang menggelegar.

Kamboja tak tinggal diam. Mereka tidak hanya membalas secara militer, tapi juga secara diplomatik. Dengan wajah garang dan pena yang tajam, Kamboja memutuskan hubungan diplomatik dengan Thailand dan mengirim surat resmi ke Presiden Dewan Keamanan PBB dan Ketua ASEAN, PM Malaysia Anwar Ibrahim. Lalu, menyerukan pembahasan gencatan senjata dan penyelesaian berdasarkan hukum internasional. Namun, suara surat tidak bisa menyaingi suara bom cluster, senjata yang dituduh digunakan oleh Thailand dan digolongkan sebagai pelanggaran hukum internasional.

Sementara itu, Thailand menetapkan darurat militer di 8 distrik perbatasan. Tentu saja, karena tak ada yang lebih damai dari mendirikan pos tentara di mana-mana. Mereka menegaskan bahwa semua tindakan hanyalah balasan atas serangan dari pihak Kamboja. Seolah ledakan-ledakan itu adalah diskusi intelektual antar senjata, bukan eskalasi.

Korban sipil? Tentu ada. Karena dalam peperangan modern, rakyat kecil bukan hanya jadi penonton, mereka jadi panggung dan korban. Setidaknya 14 warga sipil tewas, termasuk anak-anak yang seharusnya sedang bermain petak umpet, bukan bersembunyi dari serpihan peluru. Lebih dari 40.000 warga telah dievakuasi, meninggalkan rumah, sawah, dan sisa harapan di bawah langit yang kini dihiasi asap dan drone pengintai.

ASEAN dan China pun bersuara, menyerukan de-eskalasi. Tapi suara mereka seperti ceramah di tengah konser metal, tak terdengar dan tak digubris. Indonesia pun angkat bicara, mengingatkan kembali soal Piagam ASEAN dan Traktat Persahabatan dan Kerja Sama. Tapi diplomasi yang tak disertai pangkalan militer, di zaman ini, hanya jadi bunga di tengah ladang ranjau.

Pertemuan bilateral? Tidak ada. Tatap muka? Masih mimpi. Perdamaian? Masih sebatas hashtag.

Di tengah semuanya, kita melihat betapa konflik ini bukan cuma soal batas tanah, tapi soal identitas. Soal kuil yang jadi lambang kebesaran masa lalu. Soal peta tua yang lebih dipercaya dari GPS. Soal dendam lama yang dirawat rapi sambil memelihara senjata modern.

Damai itu indah, kata orang. Tapi di perbatasan Thailand–Kamboja, damai tampaknya terlalu sederhana, terlalu murah, terlalu tidak dramatis.

Karena di dunia yang gila ini, kadang lebih mudah meluncurkan bom cluster dari menunduk dan bicara. Mungkin, hanya mungkin, kuil-kuil tua itu menangis di dalam reruntuhannya, berdoa agar manusia kembali menjadi makhluk berpikir.

Tapi untuk saat ini, mesiu lebih nyaring dari doa.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja - 2025 06 18 10 08 49 | #Hegemoni | Potret Online

Kapal yang Ditebuk

POTRET Online

Ā© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

Ā© 2026 potretonline.com