• Latest
Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja - 2025 07 26 10 19 10 | #Hegemoni | Potret Online

Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja

Juli 26, 2025
0230d2bd-6709-4ccd-ae98-dc801bab2406

16 Mahasiswa Otak Mesum, Nama Baik UI Tercemar

April 14, 2026
6f8634d9-e3b0-4e1b-9d2d-1d4bc1d8a261

Dari Bunyi Menuju Makna: Arsitektur Bahasa dalam Logika Nahwu

April 14, 2026
90e31710-77d8-4737-96a8-75d78fe59c67

Kritikus, Antikritik dan Kritik

April 14, 2026
Ilustrasi dampak media sosial terhadap prasangka dan hate speech di masyarakat

Pengaruh Media Sosial terhadap Munculnya Prasangka di Era Digital

April 14, 2026
0b2db6ac-08b6-4789-b368-c7c84039b754

Tuhan-Tuhan Kecil di Meja Bulat

April 14, 2026
e8ea71e6-33f0-472e-8465-849eb085fb0a

Catatan Kebudayaan Din Saja

April 14, 2026
24620c68-3a39-4e5f-a120-86ff859eb00d

Pemimpin di Tengah Badai, Mengapa Peran Kepala Sekolah Begitu Vital?

April 14, 2026
IMG_0763

Banyumas Membuka Jalan

April 14, 2026
Rabu, April 15, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja

Redaksi by Redaksi
Juli 26, 2025
in #Hegemoni, #Perang, Thailand
Reading Time: 3 mins read
0
Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja - 2025 07 26 10 19 10 | #Hegemoni | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Thailand baru saja angkat koper dari Indonesia, akibat cakar sakti Garuda Muda. Maaf, keceplosan soal turnamen ASEAN U23. Kali ini kisah lanjutan perang terkini antara dua negara bertetangga, Thailand dan Kamboja. Banyak followers nanya, “Bang, minta update perang Thailand vs Kamboja, dong!” Followers yang suka keributan ini, ups. Baiklah, mari simak narasinya perang sesama negara ASEAN sambil seruput kopi tanpa gula agar otak selalu encer dan waras.

Tanggal 26 Juli 2025 seharusnya jadi hari biasa, mungkin waktunya panen padi atau belajar sejarah di sekolah. Tapi di perbatasan Thailand–Kamboja, hari itu berubah menjadi opera berdarah penuh artileri, drone, dan dendam sejarah yang disulut peta kuno buatan kolonialis Prancis tahun 1907.

🔥 Artikel Terkait
Begitu Susahnya Tito Minta Maaf pada Rakyat Aceh - 2025 06 14 06 06 40 | #Hegemoni | Potret Online 1
Begitu Susahnya Tito Minta Maaf pada Rakyat Aceh
Juni 18, 2025
Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Ekonomi | Potret Online 2
Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan
Maret 16, 2026
Ekonomi dan Eskalasi: Siapa yang Diuntungkan? - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Analisis | Potret Online 3
Ekonomi dan Eskalasi: Siapa yang Diuntungkan?
April 9, 2026
“Pengkhianatan” Uleebalang terhadap Ulama dan Rakyat Aceh - Image 500f493e402ee897084f8fbb0232fc11 | #Cut Nyak Dhien | Potret Online 4
“Pengkhianatan” Uleebalang terhadap Ulama dan Rakyat Aceh
Agustus 2, 2025

Thailand memulai babak baru konflik ini dengan ledakan dramatis. Mereka mengklaim telah menewaskan sekitar 100 tentara Kamboja dalam serangan udara dan artileri di wilayah Phu Phi, sebuah kawasan yang dulunya mungkin hanya dikenal tukang ojek setempat, kini viral sebagai neraka lapangan. Dentuman artileri mengguncang bukan hanya tanah, tapi juga sejarah, karena tempat yang diperebutkan adalah kuil-kuil kuno, Preah Vihear, Ta Moan Thom, dan Ta Krabei. Di tempat suci itu, di mana para leluhur dahulu memanjatkan doa, kini rudal-lah yang menggelegar.

Kamboja tak tinggal diam. Mereka tidak hanya membalas secara militer, tapi juga secara diplomatik. Dengan wajah garang dan pena yang tajam, Kamboja memutuskan hubungan diplomatik dengan Thailand dan mengirim surat resmi ke Presiden Dewan Keamanan PBB dan Ketua ASEAN, PM Malaysia Anwar Ibrahim. Lalu, menyerukan pembahasan gencatan senjata dan penyelesaian berdasarkan hukum internasional. Namun, suara surat tidak bisa menyaingi suara bom cluster, senjata yang dituduh digunakan oleh Thailand dan digolongkan sebagai pelanggaran hukum internasional.

Sementara itu, Thailand menetapkan darurat militer di 8 distrik perbatasan. Tentu saja, karena tak ada yang lebih damai dari mendirikan pos tentara di mana-mana. Mereka menegaskan bahwa semua tindakan hanyalah balasan atas serangan dari pihak Kamboja. Seolah ledakan-ledakan itu adalah diskusi intelektual antar senjata, bukan eskalasi.

Korban sipil? Tentu ada. Karena dalam peperangan modern, rakyat kecil bukan hanya jadi penonton, mereka jadi panggung dan korban. Setidaknya 14 warga sipil tewas, termasuk anak-anak yang seharusnya sedang bermain petak umpet, bukan bersembunyi dari serpihan peluru. Lebih dari 40.000 warga telah dievakuasi, meninggalkan rumah, sawah, dan sisa harapan di bawah langit yang kini dihiasi asap dan drone pengintai.

🔥 Artikel Terkait
Begitu Susahnya Tito Minta Maaf pada Rakyat Aceh - 2025 06 14 06 06 40 | #Hegemoni | Potret Online 1
Begitu Susahnya Tito Minta Maaf pada Rakyat Aceh
Juni 18, 2025
Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Ekonomi | Potret Online 2
Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan
Maret 16, 2026
Ekonomi dan Eskalasi: Siapa yang Diuntungkan? - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Analisis | Potret Online 3
Ekonomi dan Eskalasi: Siapa yang Diuntungkan?
April 9, 2026
“Pengkhianatan” Uleebalang terhadap Ulama dan Rakyat Aceh - Image 500f493e402ee897084f8fbb0232fc11 | #Cut Nyak Dhien | Potret Online 4
“Pengkhianatan” Uleebalang terhadap Ulama dan Rakyat Aceh
Agustus 2, 2025

ASEAN dan China pun bersuara, menyerukan de-eskalasi. Tapi suara mereka seperti ceramah di tengah konser metal, tak terdengar dan tak digubris. Indonesia pun angkat bicara, mengingatkan kembali soal Piagam ASEAN dan Traktat Persahabatan dan Kerja Sama. Tapi diplomasi yang tak disertai pangkalan militer, di zaman ini, hanya jadi bunga di tengah ladang ranjau.

Pertemuan bilateral? Tidak ada. Tatap muka? Masih mimpi. Perdamaian? Masih sebatas hashtag.

Di tengah semuanya, kita melihat betapa konflik ini bukan cuma soal batas tanah, tapi soal identitas. Soal kuil yang jadi lambang kebesaran masa lalu. Soal peta tua yang lebih dipercaya dari GPS. Soal dendam lama yang dirawat rapi sambil memelihara senjata modern.

Damai itu indah, kata orang. Tapi di perbatasan Thailand–Kamboja, damai tampaknya terlalu sederhana, terlalu murah, terlalu tidak dramatis.

Karena di dunia yang gila ini, kadang lebih mudah meluncurkan bom cluster dari menunduk dan bicara. Mungkin, hanya mungkin, kuil-kuil tua itu menangis di dalam reruntuhannya, berdoa agar manusia kembali menjadi makhluk berpikir.

Tapi untuk saat ini, mesiu lebih nyaring dari doa.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja - 2025 06 18 10 08 49 | #Hegemoni | Potret Online

Kapal yang Ditebuk

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com