• Latest

Saat Mentari Menunggu

Juli 26, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Saat Mentari Menunggu

Juni Ahyarby Juni Ahyar
Juli 26, 2025
in #Cerpen, Artikel, Cerpen Remaja
Reading Time: 3 mins read
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh Juni Ahyar


Mentari sore mulai merunduk, menyisakan langit jingga yang merona di balik bayang pepohonan. Di teras rumah tua yang pernah menjadi saksi cinta mereka, Rendra berdiri dengan mata menerawang. Di tangannya, secarik foto sudah mulai menguning. Wajah di foto itu masih sama cantiknya seperti dulu: Salma, wanita yang dulu ia cintai dengan segenap jiwa.


Namun, takdir tak selalu berjalan sesuai keinginan.
“Tak bisa ku lupa saat-saat indah bersamamu…” kalimat itu terngiang di benaknya, seakan ada suara lirih yang bernyanyi dari masa lalu. Ia ingat setiap detik kebersamaan mereka—tertawa di bawah hujan, menatap bintang di malam yang sepi, bahkan saling diam ketika kata-kata tak lagi diperlukan. Semua kenangan itu kini hanya tinggal cerita, memudar bersama waktu.


Keputusan yang Terpaksa Malam itu, Salma menatap Rendra dengan mata sendu. “Kenapa harus pergi?” tanyanya. Suaranya pelan, tapi cukup untuk mengoyak hati Rendra.


“Bukan inginku untuk menyakitimu,” jawab Rendra, menunduk, tak berani menatap mata itu terlalu lama. “Ada hal yang tak bisa aku ceritakan. Ada jalan yang harus aku tempuh sendirian.”
Salma terdiam. Hatinya seakan patah mendengar kalimat itu. “Apakah aku salah?”
“Tidak,” Rendra menggeleng cepat. “Justru kaulah yang paling benar, yang paling tulus.

Tapi… aku tak bisa menunggu hatiku menemukan jawaban. Dan aku tak ingin kau terikat pada seseorang yang belum tentu bisa membahagiakanmu.”
Air mata Salma jatuh. Rendra ingin memeluknya, tapi tangan itu seperti berat untuk terulur. Ada dinding tak kasatmata di antara mereka.
“Maafkan aku… maafkan aku yang tak bisa menunggu hatimu,” bisik Rendra. “Lupakan saja diriku… untuk selamanya.”

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026


Kenangan yang tertinggal hari-hari berlalu. Salma sering duduk di bawah pohon mangga di halaman rumah, menatap jalanan yang pernah dilewati Rendra. Ia masih mendengar suara tawa mereka, masih mencium aroma kopi hitam yang biasa mereka nikmati bersama. Namun kini semua itu hanya tinggal bayang.


Rendra di kejauhan pun tak kalah hancur. Ia sering berdiri di stasiun kota, menatap langit pagi, berharap bisa mengirimkan doa agar Salma bahagia. Tapi ia tak pernah kembali. Setiap malam, Rendra berbisik pada angin:
“Tidurlah, sayangku. Mentari telah menunggu. Sambutlah pagi dengan hati yang tersenyum, walau aku tak di sisimu.”


Perpisahan Terakhir Malam itu, Rendra kembali ke kota kecil tempat Salma tinggal. Ia ingin melihatnya untuk terakhir kalinya, meski dari jauh. Dari balik kaca jendela kafe yang dulu menjadi tempat mereka mengukir cerita, Rendra melihat Salma. Wajah itu masih sama, hanya kini ada mata yang tak lagi mencari. Salma duduk bersama seseorang yang terlihat membuatnya tertawa.


Hati Rendra sakit, tapi sekaligus lega. Dia sudah menemukan bahagianya, batin Rendra. Itulah yang kuinginkan.
Rendra berbalik, melangkah ke arah gelap malam. Ia tahu, cerita mereka sudah berakhir di sini.
Cinta yang Tak Pernah Hilang Salma suatu hari menemukan surat yang pernah Rendra titipkan di halaman buku puisinya.
“Salma,
Jika suatu hari kau tak lagi mengingatku, itu tak apa. Aku hanya ingin kau hidup dengan senyum yang tak pernah pudar. Aku mungkin bukan orang yang bisa menunggu hatimu, tapi aku selalu mendoakan agar kau menemukan pelabuhan yang tepat.
Selamat tinggal.
Rendra.”


Salma menutup surat itu dengan senyum bercampur air mata. Ia berbisik, “Terima kasih karena pernah mencintai aku, meski akhirnya kau pergi.”
Kadang, cinta tidak selalu berakhir dengan kebersamaan. Ada cinta yang justru menunjukkan kekuatannya dengan melepaskan, karena ingin melihat orang yang dicintai bahagia, meski bukan bersama kita…

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Ketika Kami Menjadi Orang Tua: Kisah Kelahiran Anak Pertama di Tengah Keterbatasan

Ketika Kami Menjadi Orang Tua: Kisah Kelahiran Anak Pertama di Tengah Keterbatasan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com