Dengarkan Artikel
Oleh Juni Ahyar
Mentari sore mulai merunduk, menyisakan langit jingga yang merona di balik bayang pepohonan. Di teras rumah tua yang pernah menjadi saksi cinta mereka, Rendra berdiri dengan mata menerawang. Di tangannya, secarik foto sudah mulai menguning. Wajah di foto itu masih sama cantiknya seperti dulu: Salma, wanita yang dulu ia cintai dengan segenap jiwa.
Namun, takdir tak selalu berjalan sesuai keinginan.
“Tak bisa ku lupa saat-saat indah bersamamu…” kalimat itu terngiang di benaknya, seakan ada suara lirih yang bernyanyi dari masa lalu. Ia ingat setiap detik kebersamaan mereka—tertawa di bawah hujan, menatap bintang di malam yang sepi, bahkan saling diam ketika kata-kata tak lagi diperlukan. Semua kenangan itu kini hanya tinggal cerita, memudar bersama waktu.
Keputusan yang Terpaksa Malam itu, Salma menatap Rendra dengan mata sendu. “Kenapa harus pergi?” tanyanya. Suaranya pelan, tapi cukup untuk mengoyak hati Rendra.
“Bukan inginku untuk menyakitimu,” jawab Rendra, menunduk, tak berani menatap mata itu terlalu lama. “Ada hal yang tak bisa aku ceritakan. Ada jalan yang harus aku tempuh sendirian.”
Salma terdiam. Hatinya seakan patah mendengar kalimat itu. “Apakah aku salah?”
“Tidak,” Rendra menggeleng cepat. “Justru kaulah yang paling benar, yang paling tulus.
📚 Artikel Terkait
Tapi… aku tak bisa menunggu hatiku menemukan jawaban. Dan aku tak ingin kau terikat pada seseorang yang belum tentu bisa membahagiakanmu.”
Air mata Salma jatuh. Rendra ingin memeluknya, tapi tangan itu seperti berat untuk terulur. Ada dinding tak kasatmata di antara mereka.
“Maafkan aku… maafkan aku yang tak bisa menunggu hatimu,” bisik Rendra. “Lupakan saja diriku… untuk selamanya.”
Kenangan yang tertinggal hari-hari berlalu. Salma sering duduk di bawah pohon mangga di halaman rumah, menatap jalanan yang pernah dilewati Rendra. Ia masih mendengar suara tawa mereka, masih mencium aroma kopi hitam yang biasa mereka nikmati bersama. Namun kini semua itu hanya tinggal bayang.
Rendra di kejauhan pun tak kalah hancur. Ia sering berdiri di stasiun kota, menatap langit pagi, berharap bisa mengirimkan doa agar Salma bahagia. Tapi ia tak pernah kembali. Setiap malam, Rendra berbisik pada angin:
“Tidurlah, sayangku. Mentari telah menunggu. Sambutlah pagi dengan hati yang tersenyum, walau aku tak di sisimu.”
Perpisahan Terakhir Malam itu, Rendra kembali ke kota kecil tempat Salma tinggal. Ia ingin melihatnya untuk terakhir kalinya, meski dari jauh. Dari balik kaca jendela kafe yang dulu menjadi tempat mereka mengukir cerita, Rendra melihat Salma. Wajah itu masih sama, hanya kini ada mata yang tak lagi mencari. Salma duduk bersama seseorang yang terlihat membuatnya tertawa.
Hati Rendra sakit, tapi sekaligus lega. Dia sudah menemukan bahagianya, batin Rendra. Itulah yang kuinginkan.
Rendra berbalik, melangkah ke arah gelap malam. Ia tahu, cerita mereka sudah berakhir di sini.
Cinta yang Tak Pernah Hilang Salma suatu hari menemukan surat yang pernah Rendra titipkan di halaman buku puisinya.
“Salma,
Jika suatu hari kau tak lagi mengingatku, itu tak apa. Aku hanya ingin kau hidup dengan senyum yang tak pernah pudar. Aku mungkin bukan orang yang bisa menunggu hatimu, tapi aku selalu mendoakan agar kau menemukan pelabuhan yang tepat.
Selamat tinggal.
Rendra.”
Salma menutup surat itu dengan senyum bercampur air mata. Ia berbisik, “Terima kasih karena pernah mencintai aku, meski akhirnya kau pergi.”
Kadang, cinta tidak selalu berakhir dengan kebersamaan. Ada cinta yang justru menunjukkan kekuatannya dengan melepaskan, karena ingin melihat orang yang dicintai bahagia, meski bukan bersama kita…
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





