POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Saat Mentari Menunggu

Juni AhyarOleh Juni Ahyar
July 26, 2025
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Juni Ahyar


Mentari sore mulai merunduk, menyisakan langit jingga yang merona di balik bayang pepohonan. Di teras rumah tua yang pernah menjadi saksi cinta mereka, Rendra berdiri dengan mata menerawang. Di tangannya, secarik foto sudah mulai menguning. Wajah di foto itu masih sama cantiknya seperti dulu: Salma, wanita yang dulu ia cintai dengan segenap jiwa.


Namun, takdir tak selalu berjalan sesuai keinginan.
“Tak bisa ku lupa saat-saat indah bersamamu…” kalimat itu terngiang di benaknya, seakan ada suara lirih yang bernyanyi dari masa lalu. Ia ingat setiap detik kebersamaan mereka—tertawa di bawah hujan, menatap bintang di malam yang sepi, bahkan saling diam ketika kata-kata tak lagi diperlukan. Semua kenangan itu kini hanya tinggal cerita, memudar bersama waktu.


Keputusan yang Terpaksa Malam itu, Salma menatap Rendra dengan mata sendu. “Kenapa harus pergi?” tanyanya. Suaranya pelan, tapi cukup untuk mengoyak hati Rendra.


“Bukan inginku untuk menyakitimu,” jawab Rendra, menunduk, tak berani menatap mata itu terlalu lama. “Ada hal yang tak bisa aku ceritakan. Ada jalan yang harus aku tempuh sendirian.”
Salma terdiam. Hatinya seakan patah mendengar kalimat itu. “Apakah aku salah?”
“Tidak,” Rendra menggeleng cepat. “Justru kaulah yang paling benar, yang paling tulus.

📚 Artikel Terkait

Santri Dayah Apresiasi Pelaksanaan Pelatihan Penulisan Ilmiah

Bahaya Hoaks dan Politik Uang Menjelang Pemilu 2024

BENGKEL OPINI RAKyat

MPU Selenggarakan Mudzakarah Ulama Masalah Keagamaan

Tapi… aku tak bisa menunggu hatiku menemukan jawaban. Dan aku tak ingin kau terikat pada seseorang yang belum tentu bisa membahagiakanmu.”
Air mata Salma jatuh. Rendra ingin memeluknya, tapi tangan itu seperti berat untuk terulur. Ada dinding tak kasatmata di antara mereka.
“Maafkan aku… maafkan aku yang tak bisa menunggu hatimu,” bisik Rendra. “Lupakan saja diriku… untuk selamanya.”


Kenangan yang tertinggal hari-hari berlalu. Salma sering duduk di bawah pohon mangga di halaman rumah, menatap jalanan yang pernah dilewati Rendra. Ia masih mendengar suara tawa mereka, masih mencium aroma kopi hitam yang biasa mereka nikmati bersama. Namun kini semua itu hanya tinggal bayang.


Rendra di kejauhan pun tak kalah hancur. Ia sering berdiri di stasiun kota, menatap langit pagi, berharap bisa mengirimkan doa agar Salma bahagia. Tapi ia tak pernah kembali. Setiap malam, Rendra berbisik pada angin:
“Tidurlah, sayangku. Mentari telah menunggu. Sambutlah pagi dengan hati yang tersenyum, walau aku tak di sisimu.”


Perpisahan Terakhir Malam itu, Rendra kembali ke kota kecil tempat Salma tinggal. Ia ingin melihatnya untuk terakhir kalinya, meski dari jauh. Dari balik kaca jendela kafe yang dulu menjadi tempat mereka mengukir cerita, Rendra melihat Salma. Wajah itu masih sama, hanya kini ada mata yang tak lagi mencari. Salma duduk bersama seseorang yang terlihat membuatnya tertawa.


Hati Rendra sakit, tapi sekaligus lega. Dia sudah menemukan bahagianya, batin Rendra. Itulah yang kuinginkan.
Rendra berbalik, melangkah ke arah gelap malam. Ia tahu, cerita mereka sudah berakhir di sini.
Cinta yang Tak Pernah Hilang Salma suatu hari menemukan surat yang pernah Rendra titipkan di halaman buku puisinya.
“Salma,
Jika suatu hari kau tak lagi mengingatku, itu tak apa. Aku hanya ingin kau hidup dengan senyum yang tak pernah pudar. Aku mungkin bukan orang yang bisa menunggu hatimu, tapi aku selalu mendoakan agar kau menemukan pelabuhan yang tepat.
Selamat tinggal.
Rendra.”


Salma menutup surat itu dengan senyum bercampur air mata. Ia berbisik, “Terima kasih karena pernah mencintai aku, meski akhirnya kau pergi.”
Kadang, cinta tidak selalu berakhir dengan kebersamaan. Ada cinta yang justru menunjukkan kekuatannya dengan melepaskan, karena ingin melihat orang yang dicintai bahagia, meski bukan bersama kita…

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Juni Ahyar

Juni Ahyar

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Ketika Kami Menjadi Orang Tua: Kisah Kelahiran Anak Pertama di Tengah Keterbatasan

Ketika Kami Menjadi Orang Tua: Kisah Kelahiran Anak Pertama di Tengah Keterbatasan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00