Dengarkan Artikel
Pernah Menjadi Seseorang
Pernah ada hari
ketika namaku disebut seperti doa:
penuh harap,
meski tak selalu sampai.
Pernah aku percaya—
bahwa jadi seseorang
adalah perkara mencatat jejak
di pasir yang akan pasang.
Tapi kini,
tak ada yang mencariku dengan suara,
hanya jejak digital
yang tidak menyimpan napas._
KTP-ku masih tersimpan rapi,
tapi aku lupa siapa yang memegang tubuh ini._
Aku berjalan,
tanpa arah, tanpa alamat.
Setiap wajah yang kutemui
adalah pantulan dari siapa yang tak sempat jadi._
Dan kadang, di antara dinding sunyi,
aku bertanya:
“Masihkah aku seseorang
atau cuma bekas nama?”_
Ponorogo, Mei 2025
Bayang di Balik Wajah
Aku berdiri di antara cermin retak,
mencari wajah yang kukenal,
namun bayang itu berlari,
menghindar dari pelukan waktu._
Diri yang kugenggam adalah debu,
terbawa angin masa lalu,
dan masa depan yang tak pasti
adalah lorong tanpa ujung._
Aku bertanya pada gelap dan terang,
yang mana aku?
Dan mereka tertawa dalam diam—
karena aku adalah teka-teki yang belum terpecahkan._
Ponorogo, Mei 2025
📚 Artikel Terkait
TATAKAN SUARA
kupahat bisu
di atas dengus
yang tak sempat jadi kata
kubakar gema
dalam tenggorokan
yang selalu dicegat jeda
kuselipkan lidah
di balik lidah
agar diam bisa berkata
tanpa disangka-sangka
Ponorogo, Juli 2025
AKU, DAN BUKAN AKU
aku
bukan aku
tapi aku yang dihapus oleh aku
aku yang bersembunyi di balik aku
dan aku yang tak bisa keluar dari tubuhku
aku bersuara seperti aku
tapi gema yang terdengar
bukan aku
melainkan
aku yang meniru aku
dan dalam lengang
aku yang aku kubur
diam-diam menyebut aku
lalu jadi bayang yang bayang pun enggan menyapaku
siapa aku?
suara yang tak bersumber
tubuh yang meraba takdir seperti abu
wajah yang pagi-pagi tak lagi menyatu
dalam cermin yang ragu
dan doa yang tak tahu
kepada siapa ia merayu
dan kini,
wahai aku yang palsu,
cukup kau bisikkan palsumu
ke liang jiwaku yang semu—
kau bukan aku,
kau cuma bau
dari luka yang membiru
dan aku…
muak padamu!
Ponorogo, 18 Juli 2025
DENYUT BUNTUNG
kubilang padam,
padahal cuma kuselipkan nyala
di sela napas yang disumpal kata.
kubiarkan redup,
padahal nyala itu kucicil
di rongga dada yang pura-pura lega.
kuketuk sunyi,
pakai detak
yang sengaja kulewati,
tapi malam ini
biar dunia tahu:
aku menyala.
utuh.
dan tak ingin disimpan lagi.
Ponorogo, Juli 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






