• Latest
Untaian Puisi S. Sigit Prasojo - 2025 06 22 08 42 36 | Antologi Puisi | Potret Online

Untaian Puisi S. Sigit Prasojo

Juli 19, 2025

Mengapa Ivan Illich Mengajak Kita Berhenti Memuja Sekolah

April 23, 2026
Ilustrasi kerumunan orang menatap ponsel di bawah panggung politik dengan figur pemimpin yang dikendalikan seperti boneka oleh tangan besar di atasnya, menggambarkan manipulasi, popularitas, dan hilangnya akal sehat dalam demokrasi.

Menuju Bangsa Goblok (MBG)

April 23, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Untaian Puisi S. Sigit Prasojo - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Antologi Puisi | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Untaian Puisi S. Sigit Prasojo

S.Sigit Prasojo by S.Sigit Prasojo
Juli 19, 2025
in Antologi Puisi
Reading Time: 3 mins read
0
Untaian Puisi S. Sigit Prasojo - 2025 06 22 08 42 36 | Antologi Puisi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Pernah Menjadi Seseorang

Pernah ada hari
ketika namaku disebut seperti doa:
  penuh harap,
  meski tak selalu sampai.

Pernah aku percaya—
bahwa jadi seseorang
adalah perkara mencatat jejak
di pasir yang akan pasang.

Baca Juga
  • Puisi-Puisi Cut Putri Dinata
  • Puisi-Puisi Mustiar, Ar

Tapi kini,
tak ada yang mencariku dengan suara,
        hanya jejak digital
           yang tidak menyimpan napas._

KTP-ku masih tersimpan rapi,
     tapi aku lupa siapa yang memegang tubuh ini._

Baca Juga
  • Puisi-Puisi Ilhamdi Sulaiman
  • Puisi-Puisi Putri Nanda Roswati

Aku berjalan,
     tanpa arah, tanpa alamat.
Setiap wajah yang kutemui
    adalah pantulan dari siapa yang tak sempat jadi._

Dan kadang, di antara dinding sunyi,
aku bertanya:
        “Masihkah aku seseorang
                                    atau cuma bekas nama?”_

Baca Juga
  • Puisi-Puisi Juni Ahyar
  • Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Ponorogo, Mei 2025

Bayang di Balik Wajah

Aku berdiri di antara cermin retak,
 mencari wajah yang kukenal,
  namun bayang itu berlari,
   menghindar dari pelukan waktu._

Diri yang kugenggam adalah debu,
 terbawa angin masa lalu,
  dan masa depan yang tak pasti
   adalah lorong tanpa ujung._

Aku bertanya pada gelap dan terang,
 yang mana aku?
  Dan mereka tertawa dalam diam—
   karena aku adalah teka-teki yang belum terpecahkan._

Ponorogo, Mei 2025

​

TATAKAN SUARA

kupahat bisu
di atas dengus
yang tak sempat jadi kata

kubakar gema
dalam tenggorokan
yang selalu dicegat jeda

kuselipkan lidah
di balik lidah
agar diam bisa berkata
tanpa disangka-sangka

Ponorogo, Juli 2025

AKU, DAN BUKAN AKU

aku
bukan aku
tapi aku yang dihapus oleh aku
aku yang bersembunyi di balik aku
dan aku yang tak bisa keluar dari tubuhku

aku bersuara seperti aku
tapi gema yang terdengar
bukan aku
melainkan
aku yang meniru aku

dan dalam lengang
aku yang aku kubur
diam-diam menyebut aku
lalu jadi bayang yang bayang pun enggan menyapaku

siapa aku?
suara yang tak bersumber
tubuh yang meraba takdir seperti abu
wajah yang pagi-pagi tak lagi menyatu
dalam cermin yang ragu
dan doa yang tak tahu
kepada siapa ia merayu

dan kini,
wahai aku yang palsu,
cukup kau bisikkan palsumu
ke liang jiwaku yang semu—
kau bukan aku,
kau cuma bau
dari luka yang membiru
dan aku…
muak padamu!

Ponorogo, 18 Juli 2025

DENYUT BUNTUNG


kubilang padam,
padahal cuma kuselipkan nyala
di sela napas yang disumpal kata.

kubiarkan redup,
padahal nyala itu kucicil
di rongga dada yang pura-pura lega.

kuketuk sunyi,
pakai detak
yang sengaja kulewati,
tapi malam ini
biar dunia tahu:
aku menyala.
utuh.
dan tak ingin disimpan lagi.

Ponorogo, Juli 2025

Share234SendTweet146Share
S.Sigit Prasojo

S.Sigit Prasojo

S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo, 25 Juli 2001. Aktif di Himpunan Penulis Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo dan menjabat sebagai Wakil Ketua HMPS Pendidikan Bahasa Jawa. Pernah menjadi Ketua Panitia Diwangkara Gumelar 2025 dan tergabung dalam komunitas sastra seperti Partey Penulis Puisi dan Aksara Malaysia. Karyanya dimuat di Erakini.id, Jernih.co, dan media lainnya, dengan puisi-puisi yang dikenal simbolik dan sarat sejarah..

Next Post
Untaian Puisi S. Sigit Prasojo - 2025 07 19 20 44 25 | Antologi Puisi | Potret Online

Beginilah Cara Menghukum Tom Lembong

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com