Dengarkan Artikel
Oleh: Hanif
Dosen Universitas Malikussaleh & Pegiat Literasi
Di tengah perbincangan akademik tentang AI, politik anggaran pendidikan, dan reformasi kurikulum, ada satu realitas yang kerap luput dari radar diskusi kampus: realitas guru-guru yang bekerja dalam senyap, di ruang-ruang kelas sederhana, merawat peradaban dari akarnya.
Sebagai seorang dosen yang juga aktif mendampingi guru-guru di daerah pelosok, saya menyaksikan langsung bagaimana banyak dari mereka bekerja dalam keterbatasan. Tidak ada gaji pasti, tidak ada jaminan pensiun, kadang bahkan tidak ada papan tulis yang layak. Tapi mereka tetap datang. Tetap mengajar. Tetap percaya bahwa setiap anak adalah kemungkinan bagi dunia yang lebih adil.
Sebut saja Bu Ani. Seorang guru sekolah dasar di utara Aceh. Ia mengajar dengan meja kayu reyot dan spidol yang sering habis di tengah pelajaran. Tapi ia tidak pernah kehilangan semangat untuk membuat setiap anaknya merasa penting. Ia tidak hanya mengajarkan huruf, tapi juga nilai. “Kalau kamu bicara, Nak, jujurlah. Seperti huruf-huruf ini, mereka bicara jujur,” katanya suatu pagi kepada Ahmad, murid kelas satu, sambil membimbing tangannya mengeja: B-A-P-A-K.
Di ruang kelas Bu Ani, kejujuran bukan diajarkan lewat teori etik, tapi diteladankan dalam praktik. Ketika ia mengembalikan uang lebih dari warung kantin di hadapan murid-muridnya, ia sedang menanamkan nilai integritas yang mungkin tidak akan muncul dalam Rencana Pembelajaran Semester, tapi akan tumbuh subur dalam ingatan moral anak-anak itu.
Pendidikan: Antara Narasi Besar dan Praktik Hening
Kita sering terpaku pada narasi besar: kurikulum nasional, capaian PISA, atau reformasi struktural. Tapi kita lupa bahwa pendidikan sejati tumbuh dari relasi mikro antara guru dan murid, antara manusia dan manusia. Di sinilah nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan empati pertama kali diperkenalkan — bukan lewat wacana, tetapi lewat pengalaman konkret.
Ketika seorang guru sabar mengulang penjelasan berkali-kali kepada murid yang lambat memahami, ia sedang membangun kepercayaan diri dan rasa aman berpikir. Ketika ia memilih mendengar cerita murid tentang orang tuanya yang sakit, daripada memarahi tugas yang belum selesai, ia sedang mengajarkan bahwa manusia bukan sekadar angka rapor.
Di ruang-ruang seperti ini, revolusi mental tidak digerakkan oleh jargon, tapi oleh ketekunan dan cinta yang konsisten.
📚 Artikel Terkait
Guru: Agen Perubahan Sosial yang Terabaikan
Mahasiswa pendidikan sering mengidolakan nama-nama besar: Ki Hadjar Dewantara, Paulo Freire, Maria Montessori. Tapi di balik teori-teori mereka, sesungguhnya ada jutaan “guru lokal” yang tanpa disadari menjalankan gagasan-gagasan besar itu — bukan dengan membaca jurnal, tapi dengan menjalani hidup sebagai refleksi nilai-nilai itu sendiri.
Ketika mahasiswa merancang program pengabdian masyarakat, jangan lupa bahwa perubahan tidak selalu berarti intervensi baru. Terkadang, yang dibutuhkan adalah mendengarkan suara guru-guru seperti Bu Ani, lalu memperkuat kerja-kerja sunyi mereka. Mahasiswa bisa belajar banyak dari mereka: tentang kesetiaan, keberanian bekerja dalam ketidakpastian, dan makna mendalam dari pengabdian.
Membaca Kelas Sebagai Arena Demokrasi
Ruang kelas seharusnya dipahami bukan sekadar tempat belajar formal, tapi sebagai arena pembentukan karakter demokratis. Di sana anak belajar mengambil giliran bicara, menghormati perbedaan pendapat, menyampaikan gagasan, dan belajar dari kesalahan. Nilai-nilai ini tidak bisa ditanamkan dengan sistem top-down, melainkan perlu ekosistem yang membebaskan dan merawat pertumbuhan nalar.
Sayangnya, sistem pendidikan kita masih terlalu mengejar angka dan rangking, alih-alih merawat kebajikan. Maka para guru yang dengan sadar membiarkan anak berpikir, mempertanyakan, dan mengalami kesalahan tanpa hukuman, justru menjadi penjaga paling setia bagi semangat demokrasi itu sendiri.
Penutup: Peradaban Tidak Dibangun dengan Teriakan, Tapi dengan Keteladanan
Dalam dunia yang semakin gaduh — di mana perdebatan identitas, kepentingan politik, dan narasi besar bersaing memperebutkan ruang — guru tetap bekerja dalam senyap. Tapi jangan remehkan senyap itu. Sebab dari senyap ruang kelas lahirlah cara berpikir jernih. Dari kesabaran seorang guru, lahirlah keberanian untuk bertanya. Dari keteladanan yang tampak sepele, tumbuhlah integritas yang kelak menyelamatkan bangsa.
Bagi kita yang hari ini duduk di ruang kuliah, berdiskusi tentang masa depan negeri, mari kembali mengingat siapa yang pertama kali mengajarkan kita membaca, bertanya, dan berpikir: para guru, para penjaga nilai yang bekerja tanpa sorot kamera.
Dan bila hari ini kita masih memiliki nalar kritis, empati, serta semangat untuk memperbaiki keadaan, barangkali itu karena di suatu masa lalu, ada seseorang seperti Bu Ani — yang tanpa banyak bicara, telah mengubah hidup kita dalam diam.
“Pendidikan sejati bukan tentang seberapa banyak kita tahu, tapi tentang bagaimana kita menyadari dan menghidupi nilai yang paling mendasar: menjadi manusia.”
– Catatan dari ruang kelas, tempat sunyi yang menyimpan masa depan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






