• Latest
Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita - 2025 05 02 21 01 31 | #Pendidikan | Potret Online

Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita

Mei 2, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita - 1001348646_11zon | #Pendidikan | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita - 1001353319_11zon | #Pendidikan | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita - 1001361361_11zon | #Pendidikan | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Mei 2, 2025
in #Pendidikan, Aceh, Geohistory, pendidikan Aceh, Sejarah
Reading Time: 5 mins read
0
Revitalisasi Pelajaran Sejarah dan Geografi Dalam Pendidikan kita - 2025 05 02 21 01 31 | #Pendidikan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Tabrani Yunis

Ketika melintasi jalan Teuku Umar bersama anak yang paling kecil, Arisya Anum Tabrani Yunis, ia melihat sebuah bangunan putih terbit dari beton yang kelihatan begitu kokoh. Ia bertanya, what house  is that? Ya, bangunan apa itu ayah?  Ia bertanya dengan penuh rasa ingin tahu dalam bahasa Inggris. Padahal usianya belum 5 tahun.  Ia tersengat melihat bangunan putih yang berdiri kokoh di tengah taman dekat taman Putroe Phang. Ia tertarik, karena ia sangat suka melihat rumah-rumah besar dan cantik.  Setiap saat ia  melihat rumah besar dan cantik, Ia selalu mengungkapkan dengan kata-kata, wow! The house is big and beautiful. 

Saya sedikit kaget dengan pertanyaan itu. Ya, saya tahu jawabannya. Jadi, sebagai ayah yang  tahu tentang nama bangunan tersebut, wajib memberi tahu padanya. Walau hanya menyebut nama Gunongan.  Saya katakan itu “ Gunongan”. Ia pun mengulangi dengan kata yang sama. Tentu di usianya yang belum 5 tahun, saya tidak bisa menjelaskan lebih detail pada Arisya bahwa itu adalah bangunan bersejarah, tempat permandian putri masa kerajaan Aceh. Belum bisa, dia belum tahu apa arti sejarah. Itu wajar.

Baca Juga
  • Sepeda : Kendaraan Ramah Lingkungan yang Kian Populer
  • Budaya Nongkrong di Tanah Rencong

Bukan hanya itu, ketika  berbalik arah dari Setui ke kota, kami melintas lagi dan ia melihat pula ada komplek yang banyak batu nisannya. Ia pun bertanya lagi, kalau itu  apa ayah? Saya berfikir sejenak. Jawaban apa yang harus diberi?  Lalu saya menyebutkan  That is “Kerkhof”.  Kerkhof? What is that?

Yes, baby. Jawab saya. Do you want to know more about it? Yes, jawabnya. Tapi sekali lagi saya merasa sulit juga menjelaskannya bahwa Kerkhof Pocut itu adalah kompleks pemakaman serdadu Belanda dan serdadu KNIL yang mati terbunuh di Aceh dalam perang Aceh. Ia pasti sangat asing dengan hal itu. Namun, kata yang paling ia ketahui adalah kata kuburan atau grave. Saya pun mengatakan itu kuburan. 

Baca Juga
  • Holistik dan Adaptif: Merancang Kurikulum dan Lingkungan Belajar untuk Daya Saing Abad ke-21
  • TKA 2025: Ujian untuk Belajar, Bukan Hanya Lulus

Apa yang menghentak pikiran saya adalah anak seusia Arisya punya rasa ingin tahu (coriousity) terhadap benda atau bangunan yang selama ini tidak menjadi titik perhatian orang dan bisa saja tidak penting untuk tahu, karena itu hanyalah peninggalan sejarah yang mungkin tidak ada untungnya untuk diketahui atau diingat.

Namun, sesungguhnya ketika anak kecil itu bertanya dan ingin tahu, saya melihat ada kebutuhan untuk mengisi rasa ingin tahunya terhadap dua peninggalan sejarah Aceh itu. Idealnya, pertanyaan itu menjadi pertanyaan para genarasi muda yang sudah usia sekolah. Karena kepada mereka sudah bisa dijelaskan lebih jauh tentang peninggalan sejarah Aceh itu. 

Baca Juga
  • Penyair Aceh Faridha Kembali Warnai Puisi Indonesia
  • Dari Warung Gampong ke Seulawah: Demokrasi Ekonomi dan Politik Pancasila di Aceh

Ingin rasanya saya menceritakan kepada Arisya  dengan bangga sebagai orang Aceh bahwa di Aceh ini ada banyak situs sejarah yang sebenarnya wajib diketahui bahkan dikuasai informasinya oleh orang muda Aceh. Sebab Aceh yang memiliki sejarah kerajaan dan perang yang begitu panjang dalam mempertahankan setiap jengkal tanah, mewarisi kita begitu banyak bukti dan fakta sejarah yang wajib dijaga atau dipelihara sebagai pusat pembelajaran sejarah bagi anak cucu yang menjadi pewaris masa depan.

Ya, terus terang, ingin sekali menceritakan kepadanya dan menunjukan situs-situs tersebut. Misalnya Benteng Indrapatra yang  berada di jalan Krueng Raya yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu- Budha, sebelum masuknya Islam ke Aceh. Juga seharusnya saya bisa menceritakan kepadanya tentang  Benteng Iskandar Muda  yang menjadi bukti sejarah Suktan Iskandar Muda mempertahankan  Aceh mass lalu. 

Bahkan, ketika ia bertanya tentang bangunan Gunongan, di lokasi berdekatan juga ada kuburan Belanda yang dikenal dengan Kerkhof itu, tempat dikuburkannya tentara Belanda yang gugur di Aceh dan pasukan KNIL yang berasal dari Batak, Jawa dan Ambon.  Tempat yang disebut dengan Kerkhof Peucut itu adalah bukti sejarah dalam bentuk komplek pemakaman militer Belanda di kota Banda Aceh. Tentu banyak sekali cerita sejarahnya dan tak mungkin saya ceritakan pada Arisya yang masih berumur belum  5 tahun itu.

Makanya seperti dikatakan di atas bahwa harusnya ini menjadi pengetahuan para generasi muda Aceh, apakah milenial, gen Z (Genzi) maupu gen Alhpa, khususnya di Aceh dan bangsa Indonesia umumnya. 

Sayangnya saat ini orang-orang muda, generasi milenial, gennzi maupun Alhpa, banyak yang tidak mengenal sejarah bangsa dan negara mereka.  Mereka sudah tidak lagi mau membaca sejarah, apalagi belajar sejarah, karena pelajaran ini sudah tidak begitu penting dalam sistem pendidikan Indonesia. Sehingga mereka, tidak melihat pelajaran sejarah sebagai pelajaran yang sangat penting dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejarah adalah pedoman untuk membangun kehidupan  generasi yang lebih baik.

Sayangnya, realitas kekinian juga menunjukan terjadinya distorsi pengetahuan terhadap makna penting pelajaran  sejarah. Bukan saja sejarah, tetapi juga mata pelajaran geografi, sebagai bagian dari cabang ilmu sosial. Seakan pelajaran ini hanya sekadar pengetahuan yang tidak memberikan manfaat.

Ya, nasib mata pelajaran sejarah dan geografi dalam kurikulum pendidikan Indonesia mengalami distorsi dan terdampak proses disrupsi. Sebagaimana kita ketahui bahwa pelajaran sejarah dan geografi di sekolah di Indonesia telah mengalami perubahan ketika konsep kurikulum Merdeka digadang-gadang sebagai kurikulum yang kemerdekaan itu.

Bayangkan saja, mata pelajaran Sejarah yang sebelumnya terbagi menjadi Sejarah Indonesia dan Sejarah Peminatan digabung menjadi satu mata pelajaran umum, dengan jam pelajaran yang berkurang dibandingkan kurikulum sebelumnya. Perubahan ini  menimbulkan kebingungan bagi siswa dan juga menimbulkan tantangan bagi guru Sejarah, terutama terkait jam mengajar dan pemenuhan syarat tunjangan profesi. Apalagi. Kurikulum  Merdeka memberikan fleksibilitas bagi siswa dalam memilih mata pelajaran, yang dapat berdampak pada jumlah peminat dan jam pelajaran untuk mata pelajaran tertentu seperti Sejarah dan Geografi. Jadi masalah nasib pelajaran sejarah dan geografi yang mengenaskan, ternyata ikut membuat pelajaran sejarah dan pengetahuan sejarah perjuangan bangsa ini menjadi tragis.

Padahal  sejarah dan geografi sangat diperlukan bagi setiap generasi bangsa, agar mereka tahu bagaimana sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan tanah air dari penjajahan di masa lalu.  Penjajahan yang tidak diinginkan lagi saat ini dan di masa depan. 

Lalu bagaimana kita bisa berharap anak cucu kita atau generasi sekarang dan mendatang mau mempertahankan berjuang  agar negeri ini tidak dicaplok atau dijajah oleh bangsa lain,  batas-batas wilayah negara, potensi bumi dan lain-lain, yang seharusnya tidak boleh sejengkal tanah pun hilang dan harus dipertahankan, tidak mereka ketahui?

Agaknya, fenomena dan realitas history and teritory or geography amnesia, harus disikapi segera. pemerintah harus merevitalisasi eksistensi pelajaran sejarah perjuangan bangsa dan juga pelajaran Geografi sebagai sebuah pelajaran yang wajib dipelajari oleh setiap peserta didik di sekolah, mulai dari pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Bila ini tidak disikapi, kita akan menerima akibat buruk di masa depan. Selayaknya pemerintah bergerak cepat.

Share234SendTweet146Share
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Next Post

AI dan Marxisme

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com