POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Aceh Tak Lagi Istimewa, MoU Dikangkangi, Rakyat Ditinggalkan

RivaldiOleh Rivaldi
July 10, 2025
Aceh Selatan: Kaya Potensi, Tapi Terjebak dalam Ketertinggalan yang Sistemik
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rivaldi

Dulu kita percaya: Aceh itu istimewa. Istimewa karena luka panjangnya, karena darah dan air mata yang tumpah demi satu kata: keadilan. MoU Helsinki menjadi janji suci di hadapan dunia—bahwa konflik bisa berhenti, bahwa damai bisa dibangun, dan bahwa Aceh akan punya ruang otonomi yang nyata. Tapi kini, semua itu tinggal jargon basi yang dikangkangi kepentingan.

Hari ini kita harus bicara jujur—Aceh tak lagi istimewa!


Istimewa yang dulu diperjuangkan dengan darah dan nyawa, kini dihancurkan oleh keserakahan dan pengkhianatan. MoU Helsinki, perjanjian yang seharusnya menjadi batu fondasi perdamaian dan keadilan, telah dikangkangi secara brutal!

Apa arti sebuah MoU jika isi pasalnya diludahi oleh para pemangku kuasa?
Apa guna otonomi khusus jika kekuasaan pusat tetap mengendalikan napas kita (Aceh)?
Apa makna keistimewaan jika rakyat Aceh sendiri tetap miskin di atas tanah yang kaya raya?

📚 Artikel Terkait

Seruan Panitia The Second İnternational Minangkabau Literacy Festival (IMLF) Di Tengah Bencana Tanah Longsor

Bahasa dan Politik

MKKS SMA Provinsi Aceh Salurkan Bantuan Korban Banjir di Aceh Selatan

Puisi- Puisi Rachmadi Akbar

Apa kabar kekhususan Aceh? Apa kabar pasal-pasal sakral di dalam MoU? Otonomi hanya jadi stempel palsu. Pemerintah pusat seenaknya intervensi terhadap Aceh, sedangkan pemerintah daerah sibuk berebut proyek dan kursi. Rakyat? Hanya ditonton ketika musim pemilu tiba. Ketika suara dibutuhkan, mereka disapa dielu-elukan dijanji-janjikan bak angin surga, setelah itu dilupakan.

Lembaga Wali Nanggroe dibungkam fungsinya. Dana Otsus jadi bancakan elit. Qanun-Qanun lokal dicabut atau dicampakkan. MoU yang seharusnya menjadi pedoman, kini hanya kertas kusam yang tak lagi dianggap suci. Ironis, para penandatangan damai dulu kini diam, seolah tak ingin mengganggu kenyamanan sendiri.

Aceh hari ini lebih sibuk mempertontonkan kekuasaan, bukan keadilan. Padahal, istimewa itu bukan soal simbol dan jabatan apa lagi jargon, tapi bagaimana rakyat bisa hidup layak, berdaulat atas tanahnya, dan merdeka dalam menentukan arah daerahnya.

Aceh tak butuh simbol kosong.
Aceh tak butuh bendera kalau tak ada kedaulatan.
Aceh tak butuh label ‘istimewa’ kalau rakyatnya tetap jadi objek, bukan subjek.

Aceh tak lagi istimewa. Karena istimewa tak bisa hidup dalam kebohongan. MoU sudah dikangkangi. Dan selama itu dibiarkan, kita bukan lagi daerah damai—kita hanya daerah diam.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Rivaldi

Rivaldi

Rivaldi Ketua umum HMI komisariat FKIP USK, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Hegemoni Dalam Budaya Aceh - Ulasan Artikel

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00