• Latest

Dari Seminar Internasional Yu Dafu, Muncul Keinginan Bangun Museum

September 2, 2024
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Dari Seminar Internasional Yu Dafu, Muncul Keinginan Bangun Museum - 1001348646_11zon | Bukittinggi | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Dari Seminar Internasional Yu Dafu, Muncul Keinginan Bangun Museum - 1001353319_11zon | Bukittinggi | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Dari Seminar Internasional Yu Dafu, Muncul Keinginan Bangun Museum - 1001361361_11zon | Bukittinggi | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Dari Seminar Internasional Yu Dafu, Muncul Keinginan Bangun Museum

Redaksi by Redaksi
September 2, 2024
in Bukittinggi, Museum, Padang, Payakumbuh, POTRET Budaya, Sumatera Barat
Reading Time: 2 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

 

Padang,  Potretonline.com- Tidak dapat dipungkiri, Yu Dafu telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan Tionghoa di Sumatera Barat, terutama di Payakumbuh selama pendudukan militer Jepang. Keterbatasan sumber dokumen tentang jejak kehidupan Yu Dafu di Sumatera Barat dapat ditelusuri melalui studi sejarah lisan, sebagai upaya mengungkap asumsi yang simpang siur mengenai tokoh ini. Konstruksi sejarah kehidupan Yu Dafu di Sumatera Barat akan memperkanya historigrafi sejarah Tionghoa Indonesia dan berdampak positif terhadap hubungan bilateral Tiongkok dengan Indonesia, khususnya Sumatera Barat.
Demikian diungkapkan Dosen Sejarah Universitas Negeri Padang Dr. Erniwati, S.S., M.Hum pada seminar internasional Menelusuri Jejak Yu Dafu di Sumatera Barat, Senin (2/29)2024) di aula Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat jalan Samudra Padang. Seminar dibuka Gubernur Sumatera Barat diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar Dr. Jefrinal Arifin.

Menurut Erniwati, sejak Mei 1943, Yu Dafu menetap di Payakumbuh dengan nama samaran Zhao Lian. Yu Dafu membuka pabrik penyulingan arak beras Zhaoy pada 1 September 1942 untuk menyamarkan identitasnya. Dalam waktu singkat bisnis minuman arak dari beras meningkat pesat dengan merek “First Love” dan “Taibai” laku keras. Zhao Lian mulai dicurigai sebagai Yu Dafu sejak tahun 1944 ketika seorang agen Tionghoa di Singapura bernama Hong Genpei ditugaskan di Bukittinggi. Hong Genpei berhasil mengidentifikasi “Zhao Lian” sebagai Yu Dafu dan menuduh Yu Dafu menjadi mata-mata.

Baca Juga
  • Sajak – Sajak Ina Nur Fazlina
  • FEB USK Kirim Dua Dosen dan Lima Mahasiswa Ikut ICDC APDMI di UNAND Padang

“Sejak itu Yu Dafu diawasi secara ketat. Pada malam 29 Agustus 1945, ketika Yu Dafu berdiskusi dengan beberapa pengusaha perkebunan Tionghoa, seorang pemuda yang tidak diketahui identitasnya meminta Yu Dafu pergi bersamanya untuk suatu urusan. Orang mengira ia pergi sebentar, ternyata itulah kali terakhir mereka melihat Yu Dafu. Asumsi yang berkembang Yu Dafu dibunuh oleh Kempetai (tentara Jepang) karena ia mengetahui banyak informasi sensitif tentang kekejaman militer Jepang. Asumsi lain adalah Yu Dafu dibunuh karena dicurigai sebagai mata-mata Jepang, kata Erniwati lagi.

Guru Besar Sejarah Universitas Andalas Padang Prof. Gusti Asnan menyebutkan,
kisah hidup Yu Dafu dan pengalaman orang Tionghoa pada masa Jepang jelas akan menambah informasi bagi sejarah Sumatera Barat khususnya dan Indonesia umumnya. Sudah saatnya dilakukan pengkajian sejarah tentang keberadaan dan peran sejarah orang Tionghoa, yang termasuk ke dalam kelompok ‘orang pinggiran’ dalam sejarah Sumatera Barat ini.

Baca Juga
  • Puisi-Puisi Abdul Aziz Ali
  • QIYAMUL LAIL

“Ketika Jepang mengetahui identitasnya, Yu Dafu atau Choulion segera dihabisi. Dia dihabisi setelah Jepang kalah. Pengalaman Yu Dafu juga dialami oleh sejumlah orang Tionghoa lainnya di Sumatera Barat. Di beberapa daerah ada penyerangan atau pembunuhan terhadap orang Tionghoa,” kata Gusti Asnan.

Tampil juga pembicara lainnya, mantan Rektor Tarumanegara Prof. Roesdiman Soegiarso, Toako HBT Andreas Sofiandi, Hendri Fauzan, M.Si mewakili Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat dan sejumlah pembicara lainnya dari Tiongkok dan Malaysia.

Baca Juga
  • Bedah Buku Menggugat Ibu, Sajikan Banyak Momen Reflektif dan Pembelajaran
  • Bumiku Menangis

Pada pembukaan seminar turut memberikan sambutan Konsul Jenderal RRT di Medan Mr. Zhang Min, Ketua DPD Satupena Sumbar Sastri Bakry, anak Yu Dafu, Yu Meilan, Ketua DMDI Prof. Yusuf Liu.

Sedangkan moderator dalam seminar ini Sekretaris Satupena Sumbar Armaidi Tanjung dan Charlie Gunawan dari HBT. Dibantu translator Tasnim Liu, Malaysia , Yuen Man, Universal Univ Batam dan Rika dari Konsul Jenderal Medan.

Ketua DPD Satu Pena Sumbar Sastri Bakry menyebutkan, Satupena Sumbar sengaja menggelar seminar internasional Menelusuri Jejak Yu Dafu ini karena tokoh penulis terkenal di Tiongkok adalah seorang Pahlawan besar Tiongkok. Karyanya dianggap sebagai membawa sastra modern abad 19. Sedangkan jejaknya ada di Sumatera Barat, walaupun hingga kini masih belum banyak yang bisa dilacak.
“Mudah mudahan dengan seminar ini makin banyak yang bisa diungkapkan tentang Yu Dafu. Apalagi dari seminar ini ada keinginan membangun museum Yu Dafu di Sumatera Barat,, dan sponsor juga ada alhamdulillah. Seminar tidak hanya kata- kata tetapi juga ada eksekusi di bidang pariwisata, cagar budaya, ekonomi dan pendidikan” kata Sastri Bakry usai seminar didampingi Sekretaris Satupena Sumbar Armaidi Tanjung.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Ekonomi Keuangan Syariah Terus Meningkat Dalam 5 Tahun Terakhir

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com