POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home # Ironi

Aceh, Satu Data untuk Siapa?

Redaksi by Redaksi
April 29, 2025
in # Ironi
0
Aceh, Satu Data untuk Siapa? - d6db2182 ca53 431e 824f bb36773324da | # Ironi | Potret Online


Oleh: TM Zulfikar

Pemerhati Sosial dan Lingkungan Aceh/Dosen Universitas Serambi Mekkah

Dalam kerangka reformasi birokrasi dan percepatan pembangunan berbasis bukti, inisiatif “Satu Data Aceh” sejatinya merupakan langkah progresif. Ia berangkat dari kebutuhan mendesak akan integrasi, sinkronisasi, dan standardisasi data lintas sektor. Namun pertanyaan fundamental yang mesti diajukan adalah: apakah implementasi Satu Data Aceh benar-benar ditujukan untuk kepentingan publik luas, atau justru tersandera dalam ruang elitis birokrasi?

Baca Juga
  • Aceh, Satu Data untuk Siapa? - 2025 05 09 09 10 06 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Judi Online dan Luka Demokrasi Kita
    09 Mei 2025
  • Aceh, Satu Data untuk Siapa? - 2025 06 16 07 20 21 | # Ironi | Potret Online
    Aceh
    Rakyat Siap Mendukung Penuh Sikap dan Tindakan Presiden Prabowo Subianto Menindak dan Membersihkan Kabinet Merah Putih Yang Membuat Gaduh
    16 Jun 2025

Teori pembangunan modern menekankan bahwa data yang valid, terbuka, dan dapat diverifikasi adalah prasyarat utama bagi pembuatan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy). Tanpa data yang inklusif dan akuntabel, proses pengambilan keputusan berisiko menjadi spekulatif, tidak efektif, bahkan kontra-produktif. Di konteks Aceh, kebutuhan akan satu data yang kredibel semakin urgen, mengingat kompleksitas persoalan sosial-ekonomi pasca-konflik dan pasca-tsunami yang masih berlapis hingga hari ini.

Sayangnya, praktik di lapangan menunjukkan bahwa Satu Data Aceh masih jauh dari ideal. Alih-alih mendorong transparansi dan partisipasi publik, data justru kerap dikomodifikasi sebagai aset eksklusif birokrasi. Permintaan terhadap data strategis, mulai dari angka kemiskinan aktual, peta kerentanan bencana, hingga status alih fungsi hutan, sering kali dibatasi dengan alasan “prosedur,” “keamanan data,” atau bahkan “kewenangan sektoral.”

Baca Juga
  • 01
    # Ironi
    BENGKEL OPINI RAKyat
    06 Agu 2025
  • 02
    # Ironi
    🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    11 Jun 2025

Fenomena ini menciptakan paradoks: mengklaim satu data, namun mempraktikkan banyak kebenaran. Ketidakselarasan antar sumber data resmi mengindikasikan lemahnya mekanisme verifikasi dan harmonisasi. Ketika data kemiskinan dari satu instansi berbeda dengan data hasil sensus nasional, atau ketika data tata ruang pemerintah daerah tidak konsisten dengan peta nasional, publik berhak mempertanyakan integritas dari proyek Satu Data itu sendiri.

Secara epistemologis, data seharusnya menjadi sarana demokratisasi pengetahuan. Di bawah prinsip open government, data publik wajib dapat diakses oleh siapa saja, kecuali yang menyangkut rahasia negara secara ketat. Namun di Aceh, pengelolaan data acapkali dikelola secara oligarkis — menjadi sumber kekuasaan terselubung, bukan alat kontrol sosial.

Baca Juga
  • Aceh, Satu Data untuk Siapa? - 5f25a00b 8e97 467e ad24 edc1cc1204a1 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Di Antara Idealisme dan Honorarium
    17 Mar 2026
  • Aceh, Satu Data untuk Siapa? - 2025 04 28 18 57 48 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    30 Apr 2025

Konsekuensinya sangat serius. Tanpa keterbukaan data, ruang publik kehilangan instrumen untuk melakukan pengawasan. Tanpa akses data yang utuh, masyarakat sipil, akademisi, jurnalis, hingga legislatif akan lumpuh dalam fungsi kontrolnya. Pembangunan pun berjalan tanpa kritik yang sehat, mengarah pada potensi ketidakadilan distribusi program, pemborosan anggaran, dan kegagalan mencapai target-target kesejahteraan.

Dalam konteks ini, “Satu Data” seharusnya tidak dipahami sekadar sebagai proyek digitalisasi atau portal online. Ia adalah kontrak sosial baru antara negara dan rakyat — di mana negara berkomitmen menyajikan informasi yang benar, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Aceh perlu menyadari bahwa modernitas pemerintahan tidak diukur dari jumlah aplikasi yang dikembangkan atau dashboard yang dipamerkan, melainkan dari sejauh mana data yang dikumpulkan dapat memperbaiki kehidupan masyarakat secara nyata.

Jika Satu Data Aceh gagal menjadi instrumen demokratisasi informasi, maka pada hakikatnya ia hanyalah alat kosmetik administratif — membangun citra tanpa substansi, menutupi defisit kepercayaan publik dengan gincu statistik.

Maka pertanyaan itu tetap sah untuk diajukan, dengan nada yang semakin tajam:
Satu Data untuk siapa? Untuk rakyat, atau untuk membentengi kuasa?

Previous Post

Media Sosial Berbasis Internet Dapat Lebih Maksimal Menjadi Pendukung Berbagai Usaha

Next Post

Norsan dan Kekuatan Politik Tingkat Dewa

Next Post
Aceh, Satu Data untuk Siapa? - IMG 20250429 WA0028 | # Ironi | Potret Online

Norsan dan Kekuatan Politik Tingkat Dewa

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah