POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Juni 5, 2025
in Puisi Essay
0
Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik - 2025 06 05 11 02 09 | Puisi Essay | Potret Online

Oleh : Ririe Aiko

Di dalam rumah sempit
berdinding lembab berjamur,
seorang bayi menangis lirih—
perut mungilnya tak mengerti
mengapa air susu ibu
mengering sebelum waktunya.
Berisik!

Di simpang jalan berdebu,
seorang anak tak memakai seragam.
Ia membawa sekotak donat di tangan,
Berat, tapi tetap ia jajakan.
Beban yang dipikul sebelum usia layak menanggung.
Ia melangkah, ia berteriak.
Berisik!

Baca Juga
Puisi Essay
Nyadran di Tanah Doplang
09 Mei 2025

Seorang kakek
di usia yang mestinya bersandar di kursi rotan,
menyesap teh di beranda,
masih mengayuh becak renta
dengan tulang yang gemetar namun tak menyerah.
Suaranya serak, tapi masih terdengar.
Berisik!

Seorang nenek
yang seharusnya berselimut tawa cucu,
malah terlelap di emperan—
Berselimut dinginnya malam dan hujan
memeluk perut keroncongan,
yang sudah dua hari tidak makan.
Berisik!

Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik - IMG_0515 scaled 1 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Ananda Nayla
MY FIRST POEMS, FLYING ME TO THE SKY
17 Okt 2024

Seorang ayah,
bergelar tinggi,
didepak oleh sistem yang keji.
Pendidikan tinggi, kini hanya bisa menggigit jari,
di ruang sunyi yang menggelegak oleh diam.
Berisik!

Satu keluarga meringkuk
dalam rumah 8×6 meter,
di tepi sungai yang saban musim meluap.
Banjir datang tak lagi mengejutkan,
karena mereka telah terbiasa
menenggelamkan panik dalam teriakan.
Berisik!

Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik - ibn sina_11zon | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Humaniora
Ibnu Sina: Sang Cahaya dari Bukhara
21 Mar 2025

Ratusan, ribuan, bahkan jutaan suara
menggema dari tanah bumi yang sama—
menunggu empati menjelma aksi.
Namun yang datang hanya sedikit.

Para elite lebih suka mencoba kaviar
daripada berbagi pada perut lapar.
Lebih suka terus menumpuk harta,
daripada membaginya,

Jutaan, triliunan
bahkan kuadranliun uang hanya
bersarang di satu kantong,
Mereka tumpuk dalam lemari,
Mungkin untuk membeli surga saat mati!

Sementara di sisi lain,
ratusan, jutaan, hingga kuadranliun manusia
Terluka—
di bawah derita yang sama,
atas nama kemiskinan.

Inilah Dunia yang semakin berisik,
Semakin sedikit yang terusik

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post
Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik - Image d86dab4ef85196b443602d1d5f9a480a | Puisi Essay | Potret Online

Mungkinkah Aceh Menerapkan Sistem Nomokrasi?

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah