• Latest
Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik - 2025 06 05 11 02 09 | Puisi Essay | Potret Online

Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik

Juni 5, 2025
Mahasiswa duduk sendiri di lingkungan kampus dengan ekspresi cemas sementara mahasiswa lain berlalu di belakangnya

Bukan Sekadar Malu: Kecemasan Sosial yang Menggerus Percaya Diri Mahasiswa

April 11, 2026
db5df19e-a49a-4379-86f9-5e88076f4172

Harap-harap Cemas Menunggu Hasil Perundingan Iran vs AS

April 11, 2026
2fc46e4c-99ca-4bd5-8807-7ae4e054e3db

Rekor MURI, Pameran Lukisan, Menghias Telur, dan Makna Kemanusiaan dalam Keberagaman

April 11, 2026

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

April 11, 2026
IMG_0733

Berjuang Hingga Akhir

April 11, 2026
9edda383-f515-49a9-9938-8d5b8ebcf730

Sastra sebagai Cermin Kehidupan: Refleksi Perjalanan dari Panggung Teater ke Dunia Penelitian

April 11, 2026
29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik - 2025 06 05 11 02 09 | Puisi Essay | Potret Online

Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Juni 5, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 2 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Ririe Aiko

Di dalam rumah sempit
berdinding lembab berjamur,
seorang bayi menangis lirih—
perut mungilnya tak mengerti
mengapa air susu ibu
mengering sebelum waktunya.
Berisik!

Di simpang jalan berdebu,
seorang anak tak memakai seragam.
Ia membawa sekotak donat di tangan,
Berat, tapi tetap ia jajakan.
Beban yang dipikul sebelum usia layak menanggung.
Ia melangkah, ia berteriak.
Berisik!

Baca Juga:
  • Kepiting Dalam Baskom
  • Di Antara Takbir dan Keranda
  • Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Seorang kakek
di usia yang mestinya bersandar di kursi rotan,
menyesap teh di beranda,
masih mengayuh becak renta
dengan tulang yang gemetar namun tak menyerah.
Suaranya serak, tapi masih terdengar.
Berisik!

Seorang nenek
yang seharusnya berselimut tawa cucu,
malah terlelap di emperan—
Berselimut dinginnya malam dan hujan
memeluk perut keroncongan,
yang sudah dua hari tidak makan.
Berisik!

Seorang ayah,
bergelar tinggi,
didepak oleh sistem yang keji.
Pendidikan tinggi, kini hanya bisa menggigit jari,
di ruang sunyi yang menggelegak oleh diam.
Berisik!

Satu keluarga meringkuk
dalam rumah 8×6 meter,
di tepi sungai yang saban musim meluap.
Banjir datang tak lagi mengejutkan,
karena mereka telah terbiasa
menenggelamkan panik dalam teriakan.
Berisik!

Ratusan, ribuan, bahkan jutaan suara
menggema dari tanah bumi yang sama—
menunggu empati menjelma aksi.
Namun yang datang hanya sedikit.

Para elite lebih suka mencoba kaviar
daripada berbagi pada perut lapar.
Lebih suka terus menumpuk harta,
daripada membaginya,

Jutaan, triliunan
bahkan kuadranliun uang hanya
bersarang di satu kantong,
Mereka tumpuk dalam lemari,
Mungkin untuk membeli surga saat mati!

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik - 8f8c9d08 898d 4718 b745 08d640c03203 | Puisi Essay | Potret Online

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik - 63b4d1d1 d0e6 4ea7 9676 925e97dc1219 | Puisi Essay | Potret Online

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026

Sementara di sisi lain,
ratusan, jutaan, hingga kuadranliun manusia
Terluka—
di bawah derita yang sama,
atas nama kemiskinan.

Inilah Dunia yang semakin berisik,
Semakin sedikit yang terusik

SummarizeShare235Tweet147
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Related Posts

Mahasiswa duduk sendiri di lingkungan kampus dengan ekspresi cemas sementara mahasiswa lain berlalu di belakangnya
Psikologi

Bukan Sekadar Malu: Kecemasan Sosial yang Menggerus Percaya Diri Mahasiswa

April 11, 2026
db5df19e-a49a-4379-86f9-5e88076f4172
Iran

Harap-harap Cemas Menunggu Hasil Perundingan Iran vs AS

April 11, 2026
2fc46e4c-99ca-4bd5-8807-7ae4e054e3db
Esai

Rekor MURI, Pameran Lukisan, Menghias Telur, dan Makna Kemanusiaan dalam Keberagaman

April 11, 2026
# Ironi

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

April 11, 2026
Next Post
Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik - Image d86dab4ef85196b443602d1d5f9a480a | Puisi Essay | Potret Online

Mungkinkah Aceh Menerapkan Sistem Nomokrasi?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com